Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 60


__ADS_3

Tasya yang baru saja selesai bekerja hendak pulang, namun Ravin menghampirinya secara tiba-tiba.


"Tasya kamu ada waktu gak?" tanya Ravin kepada Tasya yang sudah memakai tas selempangnya yang hanya muat untuk handphone dan dompet saja.


"Sekarang Kak?" tanya Tasya yang masih grogi menghadapi Ravin.


Bagaimana tidak, pria yang berdiri di depannya adalah pahlawan kesiangan. Selain itu juga Ravin memiliki wajah yang tampan, dengan tinggi bada mencapai 175CM. Baginya, type pria yang di sukainya adalah Ravin. Namun, melihat latar belakang Ravin Tasya berfikir kembali karena dia merasa dirinya tidak sebanding dengan Ravin.


"Ya, aku gak punya teman. Kamu mau gak temani aku jalan-jalan?" tanya Ravin.


"Tapi gak baik kalau bos sama karyawan jalan-jalan kan? maksud saya, saya takut nanti orang lain salah paham terhadap saya!" kata Tasya menolak dengan sopan dan berusaha untuk tidak menyinggung Ravin.


"Tidak apa-apa, kalau ada yang berani lagi mendatangi kamu, saya pastikan dia tidak bisa hidup tenang!" ucap Ravin memberikan jaminan perlindungan kepada Tasya.


Namun, Tasya masih harus berfikir kembali untuk kedepannya. Saat ini, Tasya berfikir untuk tidak mengulangi kejadian masalalunya yang pahit. Apalagi jika dia mengingat tentang Ranza. Tasya takut jika Ravin seperti Ranza yang telah memiliki kekasih atau istri.


"Maaf Kak Ravin, tapi saya harus buru-buru pulang hari ini. Permisi ya Kak," ucap Tasya lalu buru-buru untuk pergi dari Ravin.


Ravin hanya tersenyum, dia tahu kalau Tasya sedang berbohong terhadapnya.


"Suatu nanti, saya pasti akan mendapatkan kamu Tasya!" gumam Ravin.


...***...


Keesokan harinya pada siang hari setelah selesai kuliah Naila di jemput oleh Kakak sepupunya Shaga. Angkasa kembali melihatnya, dia sangat cemburu dan menarik tangan Naila ketika Naila hendak naik mobil Shaga.


"Kenapa lagi sih Angkasa?" ucap Naila dengan wajah kesal ketika mengetahui orang yang menarik tangannya.


Shaga yang sudah duduk di dalam mobil kembali keluar melihat keributan di luar.


"Kamu pulang bareng aku!" ucap Angkasa menarik tangan Naila memaksa untuk mengikuti langkah kakinya.


"Gak mau, Kak Shaga tolong!" teriak Naila meminta bantuan kepada Shaga yang baru saja keluar dari mobilnya.


Dengan cepat Shaga menarik tangan Naila yang satunya, kini Naila berada di tengah-tengah Shaga dan Angkasa. Kedua tangannya di genggam oleh Shaga dan Angkasa seolah ingin memperebutkannya.


"Siapa kamu? tidak tahu sopan santun sama sekali!" kata Shaga menghardik Angkasa.


"Bukan urusanmu, lepasin tanganmu dari tangan Naila!" perintah Angkasa dengan sorot mata yang tajam.


"Harusnya aku yang bilang seperti itu, sudah jelas-jelas Naila menolak untuk ikut denganmu!" kata Shaga dengan kesal sambil terus memegang tangan Naila.


"Aku bilang lepasin ya lepasin!" ucap Angkasa dengan suara keras.


Melihat Shaga yang tidak patuh, Angkasa melayangkan sebuah hantaman ke wajah Shaga. Shaga balik menyerangnya dan berhasil membuat sudut bibir Angkasa mengeluarkan darah karena pukulan Shaga yang sangat keras.


"Udah, Kak Shaga udah!" ucap Naila yang terlihat khawatir.


Naila tidak berfikir jika semuanya akan terjadi seperti ini, mereka justru saling melukai. Naila melerai pertengkaran itu, dan akhirnya membuat Shaga dan Angkasa berhenti main tangan.


"Angkasa aku tidak mau ikut denganmu! Aku akan pulang dengan Kak Shaga!" ucap Naila.


Angkasa kembali menarik tangan Naila yang hendak membalikkan badannya.


"Gak boleh, kamu harus pulang sama aku!" ucap Angkasa.


"Angkasa!"


Tiba-tiba seorang wanita berteriak memanggilnya dari belakang. Benar, itu adalah Angel tunangan Angkasa yang sebenarnya.

__ADS_1


Naila menatap ke arah wanita tersebut, dan dia sudah mengenal siapa wanita tersebut.


'Akhirnya aku bertemu dengannya,' batin Naila yang tampak sudah siap dengan hatinya.


Siap untuk bertemu dengan wanita yang merebut pacarnya. Bahkan Naila dikalahkan olehnya.


"Sayang, siapa wanita ini?" tanya Angel yang sudah ada di samping Angkasa.


Angkasa segera melepas tangan Naila, dengan gugup Angkasa membuka suara.


"Bukan siapa-siapa, kamu kenapa datang ke sini?" tanya Angkasa mengalihkan topik pembicaraan.


Melihat Angkasa dan Angel yang tampak akrab dan asik mengobrol, Naila tak ingin menyakiti hatinya lebih dalam lagi. Naila mengajak Shaga untuk kembali ke mobil dan pulang.


"Aku mau jemput kamu!" ucap Angel.


"O-oh, seharusnya tidak perlu repot-repot," kata Angkasa dengan pandangan yang seperti mencari seseorang.


Angel yang memperhatikan perilaku Angkasa menjadi kesal, terlebih lagi ketika dia melihat wajah Naila yang sama persis dengan lukisan yang di simpan di rumah Angkasa.


"Kamu cari wanita itu ya?" tanya Angel kesal.


"Nggak kok, yuk pulang!" ajak Angkasa.


Angkasa dan Angel naik ke mobil yang di kendarai oleh Angel tadi. Namun sekarang, Angkasa yang menyetir mobilnya.


"Sayang, aku kemarin ke rumahmu dan melihat lukisan yang ada di dinding ruang tamu. Kata Mama kamu, itu kamu yang lukis," ucap Angel basa-basi.


"Iya, kenapa?" tanya Angkasa yang kembali bersikap dingin.


'Pria ini kenapa sih? sedikit-sedikit bersikap biasa saja, bentar lagi bersikap dingin. Apa Angkasa memiliki dua kepribadian ya?' pikir Angel bingung.


"Nggak! aku mana ada waktu!" tolak Angkasa.


Mendengar penolakan Angkasa, Angel menjadi sangat marah. Jelas-jelas Angkasa bisa melukis foto wanita lain, tetapi foto dirinya sendiri justru tidak bisa karena tidak ada waktu.


"Ya usahain lah Sayang," Angel memohon kembali.


"Gak bisa Angel, aku harus handle perusahaan. Belum lagi harus kuliah dan kerjain tugas!"


Untuk kedua kalinya Angkasa menolak sehingga membuat Angel tambah marah.


"Bohong! jelas-jelas kamu bisa melukis wajah wanita lain, kenapa melukis wajah ku tidak bisa? jelas-jelas wanita tadi bernama Naila tapi kamu bilang bukan siapa-siapa dan bersikap merasa bersalah kepadaku. Tapi detik berikutnya kamu kembali dingin kepadaku karena marah wanita itu pergi tanpa sepengetahuan kamu dan kamu mencarinya," ucap Angel dengan nada tinggi.


"Apa jangan-jangan wanita itu yang kamu cintai? lalu bagaimana denganku yang berstatus sebagai tunanganmu? bahkan....,"


"Cukup!" teriak Angkasa ketika Angel tak henti-hentinya berbicara meluapkan kekesalannya di depan Angkasa.


Mobil terhenti setelah Angkasa berteriak, Angkasa menarik nafas panjangnya lalu menghembuskan secara kasar.


"Aku memang menyukai wanita itu, dan aku tidak menyukai mu. Aku bertunangan denganmu karena paksaan Mama ku dan aku tidak jujur dengan mu karena aku takut kamu kecewa. Tapi sekarang kamu lihat, hubunganku dengan Naila putus gara-gara pertunangan ini. Aku kesal dan benci setiap melihat wajah kamu dan aku sangat marah karena kehilangan wanita yang aku cintai!" ucap Angkasa panjang lebar.


Perkataan Angkasa yang seperti itu berhasil membuat air mata Angel jatuh membasahi kedua pipinya. Angel tak menyangka jika Angkasa dari awal memang tidak menyukainya. Betapa hancur hatinya ketika pria yang dia cintai berkata bahwa melihat dirinya sendiri membuat Angkasa menjadi sangat kesal dan marah.


"Oke aku sudah tahu! Aku akan ikuti sandiwara ini, sampai kamu berani memutuskan pertunangan ini!" ucap Angel.


Angel membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil. Angkasa tak melarangnya, dia hanya memperhatikan sahabat masa kecilnya sekaligus orang yang pernah dia sukau menangis pergi.


Angkasa kembali teringat masa kecilnya yang di mana saat itu Angel menangis karena di jahili oleh teman lainnya. Angkasa memeluknya dan menenangkan Angel, dia juga menghibur Angel hingga Angel kembali tertawa.

__ADS_1


"Maaf Angel, aku udah sakiti kamu. Tapi aku tidak bermaksud untuk itu, lebih baik kamu cepat tahu daripada perasaan kamu lebih dalam lagi!" kata Angkasa yang merasa bersalah karena telah memperlakukan Angel seperti itu.


Angkasa pun pulang dengan membawa mobil yang di kendarainya. Angkasa tak perlu lagi mengkhawatirkan Angel karena dia sudah menelepon Kelvin untuk menjemputnya sesuai lokasi.


Sesampainya di rumah, Almira telah duduk di sofa ruang tamu menunggu kedatangan putranya.


"Ma-Mama!" ucap Angkasa ketika melihat Mamanya yang bersikap tidak sewajarnya.


Angkasa tahu apa yang akan di katakan oleh Almira. Angkasa pun duduk di samping ibunya tanpa di suruh.


"Mama mau tanya sesuatu sama kamu!" ucap Almira memasang wajah kecewa.


"Aku tahu, masalah lukisan itu kan?" tebak Angkasa.


"Kamu sudah bertunangan dengan Angel, jadi Mama sudah bakar lukisan itu. Dan juga Mama menemukan beberapa foto wanita tersebut, Mama membakar semuanya!" ucap Almira tanpa menoleh ke arah Angkasa.


"Ma! kenapa Mama melakukan itu? tidak seharusnya Mama membakar lukisan yang susah payah aku buat!" kata Angkasa dengan nada tinggi.


"Kenapa? karena wanita itu wanita yang kamu cintai setelah bertunangan dengan Angel? kamu tidak pernah berfikir kah bagaimana hancurnya hati Angel saat melihat lukisan itu?"


Angkasa terdiam, dirinya memang salah karena dari awal tidak awal mengaku kalau dia memiliki kekasih. Tapi, demi menuruti perkataan Almira, Angkasa bahkan tak bisa berfikir sampai ke sana.


"Ma, aku mencintai wanita itu sebelum aku bertunangan dengan Angel. Aku selalu menuruti perkataan Mama, menjadi anak yang penurut seperti yang Mama katakan. Tapi aku tidak pernah berfikir Mama akan tahu secepat ini tentang Naila, Aku...,"


"Cukup! jangan sebut nama wanita itu. Kamu telah melakukan kesalahan besar, kamu berbakti dengan Mama? tapi kamu justru mengorbankan perasaan Angel?" bentak Almira.


"Kesalahan? semua kesalahan ini berawal dari Mama sendiri yang terus memaksa Angkasa untuk bertunangan dengan Angel. Aku hanya tidak ingin mengecewakan Mama, dan saat itu aku berfikir mungkin suatu saat nanti aku bisa bicarakan baik-baik dengan Mama dan Angel. Tapi siapa sangka, Mama sendiri yang melanggar aturan dan masuk ke ruangan melukis ku. Melihat lukisan Naila,"


Almira pun terdiam setelah mendengar perkataan anaknya.


"Ma, aku sudah berusaha menjadi anak yang baik untuk Mama. Tapi kali ini, semua sudah terlanjur. Aku ingin memperjuangkan cinta aku sama Naila, terserah Mama anggap aku anak durhaka atau apa!" kata Angkasa lalu pergi melangkah menuju ke kamarnya.


"Bagaimana dengan Angel? kamu tidak mikirin perasaan Angel kah?" tanya Almira yang telah berdiri dari tempat duduknya.


Angkasa membalikkan badannya dan menatap ke arah Mamanya lalu berkata ,"Mama hanya memikirkan perasaan orang lain, tapi Mama tidak memikirkan perasaan ku?"


Setelah berkata seperti itu, Angkasa kembali berjalan menuju ke arah kamarnya.


Almira tak mampu berkata apa-apa lagi, di satu sisi dia merasa bersalah kepada Angel namun dia juga merasa bersalah kepada putra satu-satunya.


'Apa aku terlalu egois? aku bahkan tidak tahu saat anakku jatuh cinta dengan wanita lain! Pa tolong bantu Mama dong, Mama harus berbuat apa untuk menantu kita kelak?. Mama ingin Angel karena Mama tahu Angel anak yang baik, Mama tidak mau Angkasa mendapat istri yang serakah dan tidak tulus mencintainya,' batin Almira memanggil almarhum suaminya.


...****************...


Di sisi lain, Shaga yang telah mengantar Naila sampai pulang merasa kalau Naila sedikit aneh sejak dalam perjalanan.


"Pria itu siapa Nai?" tanya Shaga memberanikan diri.


"Dia mantanku Kak," sahut Naila dengan wajah yang muram.


Seketika Shaga terkejut, karena ternyata pria tadi adalah pria yang pernah di cintai oleh Naila. Dan mungkin saat ini Naila juga masih mencintainya sehingga dia merasa sedih.


"Kamu masuk gih, kalau ada apa-apa telepon aja Kakak!" ucap Shaga mengalihkan pembicaraan.


"Iya Kak Shaga, Kakak hati-hati ya!" ucap Naila.


Naila turun dari mobil Shaga lalu berpamitan untuk masuk ke dalam rumah. Shaga memperhatikan Naila dari dalam mobil, dia sangat sedih karena ternyata Naila belum bisa membalas rasa cinta yang di miliki oleh Shaga.


"Kapan ya Nai, kamu bisa jatuh cinta sama aku? sudah bertahun-tahun lamanya aku menunggu, tapi ternyata kamu mencintai pria lain dan bukan aku" gumam Shaga.

__ADS_1


Shaga memutuskan untuk pulang dan beristirahat, juga menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau.


__ADS_2