
Di rumah Angkasa terlihat dia sedang mengobrol dengan beberapa tamu undangan yang di undang oleh sang Mama. Kelvin menyelinap untuk masuk ke dalam rumah secara diam-diam.
Kelvin bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa meskipun dalam dirinya dia merasa bersalah karena melakukan tindakan yang salah.
Tapi, meskipun Kelvin berusaha melupakan kejadian tadi, dia tidak bisa tenang. Kelvin akhirnya memutuskan untuk mencari Angkasa yang sedang berbincang dengan beberapa para tamu undangan.
"Ada apa?" tanya Angkasa berbisik.
Kelvin memberikan kode untuk Angkasa agar Angkasa mengikutinya. Angkasa akhirnya memutuskan untuk permisi sebentar kepada para tamu undangannya.
Angkasa mengikuti langkah kaki Kelvin yang mengarah ke taman belakang rumah.
"Ada apa sebenarnya Kelvin?" tanya Angkasa ketika sudah sampai.
"Angkasa, berita tentang kamu dan Angel bertunangan sudah tersebar di internet. Dan Naila sudah tahu itu semua, aku sudah berusaha menjelaskan semuanya kepada Naila akan tetapi sepertinya Naila membenci kamu Angkasa," ucap Kelvin.
Setelah mendengar kabar tersebut, Angkasa dengan panik mengambil handphone yang ditaruhnya di saku celananya. Dan benar saja, Mamanya telah memposting foto dirinya dengan Angel di sosial media. Bukan hanya itu, Mamanya juga mengumumkan jika dirinya telah bertunangan dengan Angel.
"Lalu apa saja yang di katakan Naila?" tanya Angkasa dengan khawatir.
"Dia bilang lebih baik kamu tidak mencarinya lagi," sahut Kelvin menunduk.
Angkasa memijat keningnya, dia merasa sangat pusing. Angkasa pun pergi meninggalkan Kelvin, dia kembali masuk ke rumahnya menemui Mamanya.
Sesampainya di ruangan, terlihat Sang Mama sedang berbincang dengan keluarga Angel yang turut menghadiri pertunangan Angel dengan Angkasa.
"Ma, aku mau bicara sebentar," kata Angkasa berbisik di telinga Mamanya.
Almira pun mengajak putranya ke tempat yang sepi.
"Ada apa Angkasa?" tanya Almira dengan wajah yang serius.
"Ma, aku mau nanya! kenapa Mama posting di media sosial pertunanganku dengan Angel?" tanya Angkasa dengan suara yang kecil namun bisa di rasakan jika Angkasa sedang kesal.
"Terus kenapa? bukankah itu layak?" ucap Almira yang merasa bingung dengan perilaku putranya.
"Bukan begitu Ma, Aku sama Angel kan belum tentu menikah. Kalau seandainya pertunangan ini tidak bisa di lanjutkan ke jenjang yang lebih serius, aku malu!" sahut Angkasa.
"Kamu dan Angel pasti menikah, kalian saling suka kan?" tanya Almira yang mulai meragukan perasaan putranya.
Angkasa mengangguk dengan lemah, dia tidak bisa jujur dengan Almira. Apalagi mengaku kalau dirinya memiliki kekasih yang bernama Naila.
Pada malam hari, acara telah selesai para tamu undangan telah pergi dari rumah Angkasa. Orang tua Angel dan Angel sendiri juga sudah pergi dari rumah Angkasa.
Yang tersisa hanyalah Almira dan Angkasa di rumah bersama dengan Kelvin. Mereka saling diam, sibuk dengan lamunannya sendiri.
'Akhirnya aku akan memiliki menantu cantik idaman,' batin Almira sangat senang.
__ADS_1
Baginya Angel adalah wanita yang pas untuk Angkasa. Terlebih lagi dirinya telah mengenal Angel sejak Angel masih kecil.
Sedangkan Angkasa masih sibuk dengan handphonenya. Dia berusaha menghubungi Naila, namun Naila tidak meresponnya.
'Tuan Angkasa pasti sedang menghubungi Naila. Dia tidak akan angkat Tuan, sepertinya Tuan tidak memiliki harapan lagi,' batin Kelvin yang telah memperhatikan gerak-gerik Angkasa sedari tadi.
...***...
Keesokan harinya, Naila di antar oleh Shaga kakak sepupunya. Shaga sudah berada di depan rumah bersiap untuk mengantar Naila ke kampusnya.
"Shaga, sarapan dulu di sini!" ucap Peter selaku Tuan rumah di rumahnya sendiri.
"Udah Om tadi!" sahut Shaga dengan sopan.
Naila yang tidak enak hati di tunggu lama oleh kakak sepupunya akhirnya mengambil beberapa lembar roti yang telah di isi selai cokelat di atasnya. Lalu dia pamitan kepada Peter untuk berangkat ke kampus.
"Hati-hati ya!" ucap Peter.
Naila dan Shaga masuk ke dalam mobilnya Shaga.
"Kamu bisa loh pelan-pelan tadi makannya," kata Shaga.
"Gak enak lah di tungguin sama Kak Shaga. Lagipula Kak Shaga jemputnya kepagian tahu," kata Naila sambil memakan rotinya.
"Ya udah maaf deh, nanti Kak Shaga traktir makanan yang banyak," kata Shaga berjanji.
"Kamu masih sama seperti waktu SMA," kata Shaga.
Naila teringat kembali ketika masa-masa SMA nya bersama Shaga. Mereka bukan satu angkatan, Shaga lebih tua dari Naila satu tahun. Meskipun beda angkatan, Shaga dan Naila selalu bareng. Pergi kemanapun selalu bareng, sehingga membuat beberapa wanita di sekolah merasa iri kepada Naila. Saat itu Shaga sangat populer.
"Nai, apa perasaan kamu masih sama?" tanya Shaga tiba-tiba.
"Perasaan gimana?" tanya Naila pura-pura tidak mengerti tentang apa yang di maksud oleh Kakak sepupunya.
"Perasaan Cinta lah! jujur Nai, meskipun aku pergi ke luar negeri aku masih belum bisa lupain perasaan aku ke kamu. Aku masih cinta sama kamu, perasaan aku masih utuh seperti waktu aku SMA," ujar Shaga dengan terus terang.
Naila kembali merasakan rasa bersalah seperti beberapa tahun lalu. Dia merasa prihatin dengan Shaga karena mencintai orang yang tidak mencintai dirinya. Namun sekarang, Naila tahu apa itu rasa sakit hati karena saat ini dia mengalaminya.
"Aku belum tahu Kak," ucap Naila ragu.
"Kita bisa jalani dulu kan? mau seperti apa kita kedepannya biar takdir yang menentukan!" kata Shaga.
"Iya Kak, kita jalani saja dulu!" ucap Naila yang masih menggenggam rotinya dengan erat di tangannya.
'Semoga kamu bisa mencintaiku Nai,' batin Shaga.
Tak terasa lama berbincang-bincang dengan suasana menegangkan bagi Naila, akhirnya dia sampai di depan gerbang kampus. Naila turun dan pamit kepada Shaga untuk masuk ke kampus.
__ADS_1
"Semangat belajarnya ya!" ucap Shaga sambil tersenyum manis.
"Makasih Kak, Kakak juga semangat ya kerjanya. Semoga banyak pasien yang busa Dokter Shaga sembuhkan hari ini," kata Naila bergurau.
"Kamu ada-ada saja!" kata Shaga.
"Ya udah aku masuk ya Kak," ucap Naila kembali.
Setelah mengatakan hal itu, Naila masuk ke halaman Kampus. Kampus terlihat masih sangat sepi karena Naila berangkat terlalu awal hari ini. Namun beberapa menit setelah dia sampai di koridor kelas, Naila melihat Angkasa yang tampak memperhatikannya dari atas.
Naila hendak menghindarinya, namun di cegat oleh Angkasa.
"Lepas!" ucap Naila dengan kesal ketika tangannya di genggam oleh Angaksa.
"Nggak!" ucap Angkasa dengan wajah yang serius.
"Apa lagi yang kamu mau?" tanya Naila masih dengan nada kesalnya.
"Siapa pria itu?" tanya Angkasa.
"Pria mana?" tanya Naila yang belum terpikirkan dengan Shaga.
"Pria mana lagi? baru saja keluar dari mobil mewah bersama seorang pria sudah lupa!" sindir Angkasa.
"Itu Kakak sepupu ku!" sahut Naila dengan cuek.
"Gak percaya!" kata Angkasa yang masih cemburu dengan Shaga.
"Ya udah! sekarang lepasin tanganku. Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun!" ucap Naila kesal.
"Kita masih pacaran! siapa bilang kita tidak memiliki hubungan apa-apa?" ucap Angkasa menggenggam tangan Naila dengan kencang.
"Tidak, kamu sudah memiliki tunangan! aku tidak mau menjadi orang ketiga di hubungan kalian!" kata Naila menolak.
"Kamu bukan orang ketiga! lagipula pertunangan ini tidak sah, aku tidak mencintainya!" kata Angkasa.
Naila menghempaskan tangannya dengan sekuat tenaga agar terlepas dari tangan Angkasa. Dengan bantuan emosi yang menggebu-gebu, akhirnya Naila berhasil.
"Kamu pria b@jingan! Selalu mempermainkan perasaan wanita. Bagaimana jika tunanganmu tahu kalau kamu berkata seperti ini di depan mantan kekasihnya?" ucap Naila.
Angkasa tiba-tiba menc!um b!b!r Naila dan berkata untuk tidak mengatakan hal itu lagi. Angkasa tidak ingin Naila menyebutnya sebagai pria baj!ngan.
"Aku juga tidak ingin kamu dekat-dekat dengan pria itu lagi!" kata Angkasa sambil memeluk Naila dengan erat.
Naila mendorong tubuh Angkasa dengan kuat lalu berkata ,"kamu tidak ada hak untuk melarang ku lagi. Aku tegaskan kita sudah putus, ketika kamu sudah hancurkan kepercayaanku kepada kamu!"
Setelah berkata seperti itu, Naila pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan Angkasa.
__ADS_1