
"Sialan, Fernando sudah di penjara! aku sekarang sendiri menerima hukuman dari Pak Tua itu. Aku harus pergi mencari Fernando dan menagih semua uang yang dia terima!" kata Tasya saat berada di dalam kamarnya.
Tasya bersiap-siap untuk keluar menemui Fernando di kantor polisi.
"Tasya mau kemana kamu?" tanya Ibunya.
"Bukan urusan Ibu!" sahut Tasya dengan kesal.
"Jangan kurang ajar kamu sama kami!" kata Ayahnya kemudian.
"Terus saja kalian berteriak! aku tidak akan menuruti perkataan orang yang seperti kalian. Yang satunya perebut suami orang dan yang satunya lagi orang miskin yang tidak tahu diri bahkan membunuh Ibuku sendiri!" kata Tasya dengan tatapan tajam menatap Tino Ayahnya.
"Jaga bicaramu! Ibumu meninggal karena kecelakaan dan Amanda datang setelah Ibumu mengalami kecelakaan!" kata Tino mencoba menjelaskan.
Namun tetap saja, Tasya adalah orang yang keras kepala sama seperti ibunya. Dia tidak akan menerima kenyataan tersebut walaupun Tino dan Amanda berkali-kali memberikan penjelasan terhadapnya.
"Terserah padamu! aku tidak akan memanggilmu Ayah lagi! Aku benci kalian!" kata Tasya lalu pergi meninggalkan Tino dan Amanda.
"Sudah Mas tenang saja, suatu saat nanti Tasya pasti akan ngerti. Lagipula waktu Ibunya meninggal dia masih kecil, dan waktu itu aku datang bersamamu dan mengira kalau aku merebut kamu dari aku!" kata Amanda menenangkan suaminya.
"Iya Amanda, terimakasih!" ucap Tino.
Kejadian beberapa tahun yang lalu....
Tino dan Ibunya Tasya yang bernama Andini pergi untuk menjalankan bisnis mereka ke negara A. Saat itu Tino memiliki banyak musuh karena persaingan bisnisnya. Ketika dia hendak pergi ke bandara, kecelakaan pun terjadi. Tino bertabrakan dengan mobil yang tiba-tiba menyeberang dengan mendadak.
Kecelakaan itu begitu tragis dan terjadi begitu saja, karena dia tidak memiliki kekuasaan apapun Tino sampai sekarang tidak menemukan siapa pelakunya. Dia menganggap itu semua karena kecelakaan biasa meski hatinya tak mampu melepaskan Andini. Tino juga merasa sangat bersalah dengan Tasya.
Saat itu Amanda tinggal di rumah Tino bersama Tasya. Atas permintaan Andini, karena satu-satunya orang yang dapat Andini percaya adalah sahabatnya sendiri.
Waktu itu Tasya masih sangat akur dengan Amanda. Namun tiba-tiba, Amanda berkata kepada Tino untuk menjaga Tasya dan menikahi Andini. Demi menjalankan wasiat Andini, mereka akhirnya menikah.
Tino mengira dengan menikahi Amanda, Tasya akan merasakan kasih sayang ibunya. Namun siapa sangka, Tasya justru membenci Amanda.
Perusahaan Tino semakin hari semakin menurun pendapatannya dan akhirnya bangkrut. Tino kembali memulai dari awal, meskipun dia harus bekerja di bawah pimpinan orang lain.
...***...
__ADS_1
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Fernando saat dia sudah ada di depan Tasya.
"Kamu harus balikin uang yang di berikan oleh Pak Tua itu!" kata Tasya tanpa basa-basi seperti biasanya.
"Untuk apa? bukankah aku sudah pernah bilang kalau uang itu tidak bisa di kembalikan," kata Fernando menolak.
"Tentu saja untuk ganti rugi! Aku bertemu dengan Pak Tua itu dan dia memintaku ganti rugi. Jika tidak dia akan memakai tubuhku untuk ganti rugi!" kata Tasya dengan mata yang melotot.
"Aku sudah mengirimnya ke kampung untuk orang tuaku. Kalau mau sisanya, ambil saja di kos aku simpan di lemari dan kuncinya aku taruh di atas kilometer!" kata Fernando.
"Gak masalah! setidaknya kamu sudah mendapat penderitaan yang sama denganku!" kata Tasya.
Setelah di berikan alamat kosnya, Safira langsung bergegas kesana untuk mengambil uangnya. Sedangkan Fernando kembali ke dalam sel.
"Apakah tahanan yang bernama Safira telah di bebaskan?" tanya Fernando kepada petugas tersebut.
"Sudah! dia di bebaskan kemarin!" kata petugas tersebut.
"Siapa orang yang membebaskannya? apakah orang yang sama dengan yang datang kemarin?" tanya Fernando kembali.
"Bukan! dia pria yang berumur sekitar 40 tahun!" kata petugas tersebut.
Petugas tersebut pergi setelah mengunci pintu sel tersebut.
'Siapa pria itu? mungkinkah Ayah Safira?' batin Fernando.
"Aku harap begitu! Aku sudah mengirim uang kepada Ibuku di kampung. Aku telah membuat mereka malu, anak yang harusnya datang dengan pekerjaan yang bagus justru malah mengecewakannya. Semoga dengan uang yang aku kirim bisa menebus kesalahanku," kata Fernando.
Fernando telah menyesali perbuatannya, semua demi cinta. Awalnya dia ingin menggunakan sisa uang yang dia terima untuk di berikan kepada Safira setelah bebas. Tapi Tasya datang kepadanya, dia tidak ingin melibatkan orang terlalu banyak lagi.
Di sisi lain Angkasa telah menjadi Tuan Yuda yang sering di bicarakan oleh masyarakat di negara E.
"Tuan Yuda, Tuan Peter datang menemui Anda!" kata asistennya yang bernama Kelvin.
"Izinkan dia masuk!" perintah Yuda.
'Akhirnya calon Ayah mertua tak sabar ingin bertemu dengan menantunya,' batinnya dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Selamat sore Tuan Yuda, perkenalkan saya Peter dari perusahaan Cahaya Gempita," kata Peter mengulurkan tangan kepada Yuda.
Peter tak percaya jika Yuda masih sangat muda, bahkan masih seumuran dengan anaknya Naila.
"Silahkan duduk Tuan Peter!" kata Yuda dengan sopan.
"Tuan Yuda, kedatangan saya kemari untuk berterimakasih atas kebaikan Tuan Yuda telah menolong putri saya Naila. Saya tahu ini terlambat, maka dari itu saya membawa beberapa hadiah yang tidak seberapa ini. Harap Tuan Yuda berkehendak menerimanya," kata Peter dengan hormat kepada Tuan Yuda.
Peter tahu Tuan Yuda adalah orang yang tidak mudah di hadapi. Yuda yang terkenal sangat menyayangi keluarganya juga berdarah dingin ini mampu melakukan apa saja. Tidak peduli berapa banyak darah yang akan mengalir jika mereka berani menyentuh anggota keluarganya. Yuda sangat di hormati di masyarakat meskipun dia tidak pernah memunculkan dirinya.
"Tuan Peter seharusnya tidak perlu repot-repot. Saya melakukannya dengan senang hati!" kata Yuda.
'Tentu saja aku akan menolong wanita yang aku sayang. Ayah mertua terlalu sungkan,' batin Yuda.
"Naila adalah satu-satunya anggota keluarga yang saya punya. Tuan Yuda telah menyelamatkan bagian terpenting dari hidup saya. Bagaimana mungkin saya tidak mengucapkan terimakasih kemari,," ucap Peter.
"Kalau begitu saya harus mengucapkan terimakasih juga kepada Tuan Peter karena jauh-jauh datang kemari membawakan saya hadiah," kata Yuda.
"Selanjutnya jika anda ingin bekerjasama dengan perusahaan Yuda silahkan datang kemari. Pintu perusahaan selalu terbuka untuk anda," imbuh Yuda.
"Tidak, tidak, tidak! saya tidak pantas menerima kerjasama itu dengan Tuan Yuda. Ada perusahaan yang lebih menguntungkan daripada perusahaan saya," kata Peter sungkan.
"Tuan Peter terlalu sungkan atau tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan saya?" tanya Yuda dengan wajah dinginnya.
"Tentu saja saya mau. Itu adalah kesempatan yang sangat di dambakan oleh banyak perusahaan bagaimana mungkin saya tidak menginginkannya. Tapi apa Tuan Yuda tidak akan menyesal bekerjasama dengan perusahaan saya?" tanya Peter kembali.
"Apa yang saya lakukan akan saya tepati dan yang pasti saya tidak akan menyesal melakukan hal itu!" kata Yuda dengan tegas.
"Baiklah, jika seperti itu saya banyak ucapkan terimakasih!" ucap Peter.
'Tuan Yuda tidak sama seperti rumor yang beredar di masyarakat. Dia lebih sopan dan juga dengan mudah mau bekerjasama dengan perusahaan lain. Apa ini sebuah jebakan ya?' batin Peter.
Setelah selesai berbincang-bincang Peter keluar dari ruangan Yuda dan di antar oleh Kelvin.
"Tuan Peter jangan menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan oleh Tuan Yuda. Tuan Yuda tidak seperti biasanya bersikap begitu ramah dan menerima kerjasama dengan mudah. Mungkin Tuan Yuda menyukai Tuan Peter," kata Kelvin mengingatkan.
"Terimakasih sudah mengingatkan Tuan Kelvin!" ucap Peter.
__ADS_1