Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 23


__ADS_3

Suasana menjadi canggung saat Fernando dan Safira kembali bertemu. Fernando tampak tidak bisa menikmati makanannya.


"Kamu kenapa Fer?" tanya Safira yang sedari tadi melihat Fernando gelisah.


"Emm? Aku? aku gak apa-apa. Emangnya ada apa denganku?" Fernando balik bertanya.


Safira menjadi bingung, padahal dia melihat dengan jelas wajah Fernando yang tampak gelisah tadi. Tapi kegelisahan itu secara tiba-tiba menghilang dari wajah Fernando.


"Kamu sepertinya gelisah? apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Safira mencoba menebaknya.


"Apa itu terlihat jelas?" tanya Fernando balik.


Safira menjawabnya dengan anggukan, semakin lama dia semakin bingung dengan Fernando. Safira merasa hidup Fernando sangat hancur sekarang.


"Kalau mau cerita gak apa-apa kok Fer," ucap Safira.


Fernando menggelengkan kepalanya lalu berkata dengan raut wajah sedih ,"untuk apa bercerita? bercerita hanya membuat rasa sakit itu bangkit kembali!".


Fernando menatap wajah Safira dengan lesu, harapan pada wanita yang ada di depannya semakin tinggi. Awalnya Fernando tidak ingin memiliki hubungan dengan Safira untuk meredakan rasa sakitnya. Namun tak pernah dia sangka, justru Safira mencarinya tanpa memiliki beban sedikitpun.


"Setelah kita tidur bersama, kita tidak pernah berhubungan lagi. Apa setelah aku pergi banyak masalah yang terjadi?" tanya Safira kembali.


"Banyak! banyak sekali yang terjadi. Hatiku hancur, jiwaku juga hancur Safira. Itu semua gara-gara Naila, wanita yang saat ini bisa tertawa saat aku menderita itu semua!" kata Fernando dengan tatapan yang mematikan.


"Kenapa kamu menyalahkan dia?" tanya Safira bingung.


"Dia sudah hancurkan hubungan kita Safira. Kalau tidak ada dia bagaimana mungkin kita berpura-pura menjadi sahabat di depan dia, bagaimana mungkin kita menjadi seperti ini. Pokoknya mulai detik ini aku akan menghancurkan hidup dia!" kata Fernando dengan sangat marah.


Safira mengira awalnya Naila mencari masalah lain terhadap Fernando, namun tak di sangka semua kesalahannya di limpahkan kepada Naila.


"Safira, apa kamu tidak memiliki dendam dengan Naila? karena dia kamu menjadi tersiksa di rumah. Di pukuli Ayahmu, dan bahkan tidak di hargai oleh keluargamu!" kata Fernando yang ingin berniat jahat dengan Safira.

__ADS_1


"Itu bukan salah Naila, itu semua salahku tidak bisa menjadi anak yang di banggakan. Lagipula Kak Hendra sangat sayang denganku, jadi masih ada anggota keluargaku yang sayang dengan aku!" ucap Safira tersenyum.


Melihat senyuman itu Fernando kembali memiliki rasa marah. Dia tidak mau hanya dirinya sendiri yang memiliki amarah ini, tujuannya adalah dia ingin Safira memiliki dendam dengan Naila juga.


"Tapi kalau kamu tidak kenal dengan dia bukankah hidupmu justru lebih bagus? coba saja di ingat kembali Ayahmu sangat sayang denganmu sebelum kenal dengan Naila. Tapi sesudah mengenal bahkan menjadi sahabatnya, kamu mulai di manfaatkan oleh Ayahmu, dan akhirnya di pukuli karena gagal. Kamu tahu itu semua di halangi oleh Naila, jadi Naila lah yang menjadi penyebab utama masalahnya!"


Safira berfikir sejenak setelah mendengar perkataan Fernando.


'Yang di katakan Fernando benar, tapi apa aku harus menyimpan kebencian seperti Fernando?' batin Safira.


"Safira jangan takut untuk membalas dendam, ada aku yang akan membantu kamu!" kata Fernando yang semakin menghasut Safira.


"Lalu apa yang akan kita lakukan untuk balas dendam dengan Naila?" tanya Safira kemudian.


Mendengar hal tersebut hati Fernando sangat senang karena rencananya telah berhasil setengah.


"Tentu saja kita harus memiliki rencana yang bagus untuk menjatuhkan dia!" kata Fernando.


"Informasi saat ini yang aku dengar Naila sudah mulai dekat dengan Angkasa. Kemungkinan besar dia menyukai Angkasa, kamu pasti tahu apa yang aku pikirkan kan?" kata Fernando tersenyum ke arah Safira.


'Dengan begini, Naila pasti akan menerima akibatnya!' batin Fernando.


...***...


Di lain tempat, terlihat Naila dan Erni sedang duduk di sebuah taman. Kelas yang di ikuti hari ini sudah habis, dia hendak pulang bersama dengan Erni.


"Naila, aku sepertinya tidak bisa pulang bareng kamu. Aku harus pulang ke rumah segera karena ada sedikit masalah di rumah," kata Erni yang merasa bersalah dengan Naila.


"Kalau begitu kamu cepat pulang. Orang tuamu pasti menunggu di rumah!" kata Naila dengan ekspresi khawatirnya.


Melihat Naila tidak marah sama kepadanya, Erni langsung berpamitan untuk pulang. Dia mengambil sepeda motornya di parkiran kampus dengan larian kecil.

__ADS_1


Dengan kekhwatiran yang mendalam, Erni menancap gasnya dengan kecepatan 90 km/jam.


Sesampainya di rumah, Erni melihat rumah yang sangat berantakan. Di depannya beberapa pria dengan badan kekar sedang mengobrak abrik rumahnya. Ibu dan Ayahnya telah memohon untuk tidak merusak rumah yang telah ambruk itu.


"Kalian siapa? kami tidak pernah berhutang kepada kalian, kenapa kalian bersikap tidak sopan?" tanya Erni dengan ekspresi yang marah.


"Kamu? anaknya mereka bukan? ikut kami sekarang!" ucap salah satu pria yang berambut gondrong itu.


"Jangan bawa putri kami pergi, kami mohon!" ucap sang Ibu yang melihat Erni hendak di bawa pergi.


Ayahnya Erni bangkit dari simpuhannya, mengambil sebuah kayu berbentuk balok yang ada di sampingnya. Saat hendak memukul preman itu dari belakang, preman tersebut membalikkan badannya dan mendorong Ayahnya Erni.


"Bapakkkk!" teriak Erni terkejut melihat Ayahnya di dorong dengan keras.


Erni meronta-ronta minta di lepas, namun pegangan preman itu sangat kuat. Erni berkali-kali melihat Ayahnya ke belakang yang tampak kesakitan. Air matanya yang tak mampu dia pendam akhirnya berhasil membasahi pipinya.


"Masuk!" perintah salah satu preman tersebut dengan marah.


Erni masuk ke dalam mobil, dia tahu dirinya tak mampu melawan kekuatan preman tersebut.


"Apa yang kalian mau dari aku? Uang? atau apa?" tanya Erni dengan sangat marah.


Namun para preman itu tak menjawabnya, Erni merasa jengkel dengan preman tersebut.


"Kalian kenapa menculik ku? dan bahkan mencelakai keluargaku? kami tidak ada masalah kepada kalian kenapa kalian tega melakukan ini terhadap kami?" tanya Erni sekali lagi dengan air mata yang masih bercucuran.


"Diam atau kami akan pukul kamu!" bentak preman yang duduk di sampingnya.


"Bos sepertinya kita perlu memberi dia pelajaran terlebih dahulu agar dia hendak diam," kata teman preman tersebut yang sedang memegang setir.


"Bos bilang kita tidak bisa melukainya kecuali target utama sudah muncul!" sahut preman tersebut.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut Erni menjadi tahu jika bukan mereka pelaku utamanya, namun ada orang di belakang layar yang sedang mengatur rencana jahat.


'Tapi siapa target utama mereka? apa Ayah dan Ibu? tentu tidak. Jadi apakah adikku? apa dia memiliki masalah dengan orang lain?' batin Erni dengan penuh tanda tanya.


__ADS_2