
3 hari kemudian, tepat ulang tahunnya Erni mendapat kabar bahwa orang tuanya meninggal dari adiknya.
Dia mendengar tangisan adiknya dari telepon tersebut seperti tak terima. Seluruh badan Erni mendadak lemas dan matanya perlahan-lahan mengeluarkan air mata.
Tanpa basa-basi lagi, Erni langsung izin dari tempat bekerjanya. Dia pergi dengan tergesa-gesa, dan air matanya juga telah membasahi kedua pipinya.
Erni tidak bisa berfikir jernih, pikirannya sangat kacau setelah mendengar berita tersebut. Dia tidak tahu alasannya mengapa kedua orang tuanya di nyatakan meninggal dunia. Dan mengapa kedua orang tuanya berada di rumah sakit?.
Setelah sampai di rumah sakit, Erni menanyakan nama kedua orang tuanya kepada petugas di sana. Dan di tunjukkan nomor kamarnya, Erni langsung menuju ke sana dengan berlari.
Saat sampai beberapa meter dari kamar tersebut, Erni melihat adiknya yang telah duduk dengan tangisan.
"Ada apa sama Ibu dan Bapak? kenapa bisa tiba-tiba begini?" tanya Erni kepada Reno ketika sudah sampai di depan kamar pasien.
"Aku gak tahu Kak, tiba-tiba aku mendapat telepon dari rumah sakit!" kata Reno dengan terisak.
Erni langsung masuk ke kamar tersebut, namun kamarnya sangat gelap. Erni tidak pernah ke rumah sakit sebelumnya jadi dia mewajarkan jika lampunya mati karena orang yang di dalamnya telah meninggal dunia.
Erni meraba tasnya dan mengambil handphonenya untuk menyalakan lampu senter. Bersamaan dengan itu, Lampu di dalam ruangan juga hidup diiringi dengan ucapan 'Happy birthday' dari beberapa orang.
Dia melihat di sekelilingnya, dia melihat Ibunya yang masih hidup dengan membawa kue di kedua tangannya. Di samping kirinya terlihat ayahnya yang juga masih hidup sambil menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama. Dan di samping kanan ibunya terlihat Naila yang tersenyum ke arahnya.
Erni belum bisa mencerna semuanya, dia masih bingung dengan situasi tersebut.
"Kak, kenapa melamun? tiup lilinnya!" kata Reno yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
"Reno, maksudnya apa ini? Ibu Bapak masih hidup?" tanya Erni dengan ekspresi yang masih bingung.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut tertawa karena Erni sangat lambat dalam berfikir.
Ratna melangkah maju ke arah putrinya yang sedang berulang tahun bersama suaminya. Randi memakaikan sebuah mahkota mainan ke kepala putrinya sambil mengucapkan 'selamat ulang tahun'.
Saat itu tangis Erni pecah, dia sadar bahwa ini semua hanya prank dan orang tuanya masih hidup.
Dia memeluk kedua orang tuanya dengan tangisan yang keras.
__ADS_1
"Untunglah Ibu dan Bapak masih hidup! aku tidak tahu jika kalian meninggalkan aku secepat ini," kata Erni yang di iringi dengan tangisannya.
"Maaf ya Nak, kita membuat kamu kaget. Tapi jika tidak seperti ini, mungkin kamu tidak akan datang menemui kami di rumah," kata Ratna kepada putrinya.
Mereka melepas pelukannya masing-masing, Erni meniup lilin yang ada di atas kue tersebut.
"Selamat ulang tahun ya sahabatku, maaf kami semua membuatmu menangis di hari ulang tahun mu," kata Naila menghampiri Erni setelah meniup lilin.
"Makasih sahabatku," kata Erni memeluk Naila sebentar.
"Selamat ulang tahun cantik!" ucap seorang pria yang sangat asing bagi Erni.
"Ma..makasih," ucap Erni gugup.
Erni menatap ke arah Naila yang dapat di mengerti langsung oleh Naila sendiri.
"Kenalin, ini Shaga sepupu aku yang baru pulang dari luar negeri," kata Naila memperkenalkan sepupu laki-lakinya kepada Erni.
"Kenalin aku Erni," ucap Erni yang masih gugup melihat wajah tampan Shaga.
"Kamu dapat ide darimana sih? bahkan sampai benar-benar di rumah sakit, kamu sewa rumah sakit ini ya?" tanya Erni yang terheran-heran dengan sebuah candaan yang seperti serius ini.
"Kan ada Shaga. Rumah sakit tadi milik orang tuanya Shaga jadi aku minta tolong sama Shaga," kata Naila.
Shaga yang sedang duduk di depan mengemudikan mobilnya hanya terdiam. Dia tidak terlalu mempedulikan saat namanya di sebut oleh orang lain.
"Wah, kalian benar-benar memikirkan sampai tahap ini. Makasih banyak loh kejutannya," kata Erni yang terharu.
Baru kali ini Erni dapat merasakan ulang tahunnya sangat meriah. Dan sangat bahagia karena di temani oleh kedua orang tuanya.
Di sisi lain, Angkasa sedang di ajak berbincang dengan ibunya dan Angel masalah pertunangan mereka. Angkasa tak dapat menolak permintaan Ibunya, dia tidak mau menyakiti hati sang Ibu.
Tapi di sisi lain, Angkasa juga tidak ingin Naila tersakiti.
"Angkasa kamu harus baik-baik sama Angel ya, bila perlu lulus kuliah kamu langsung menikah saja!" kata Almira kepada anaknya.
__ADS_1
"Tidaklah Bu, lagipula aku masih muda. Dan banyak hal yang ingin aku kejar, urusan menikah bisa kapan-kapan saja," tolak Angkasa.
"Loh, kenapa? bukannya kamu sudah punya segalanya? untuk apa begitu keras, uang tidak dapat membawa kebahagiaan jadi jangan terlalu keras mengejarnya," kata Almira sambil sesekali menoleh ke arah Angel.
Angel tentu saja merasa sangat senang karena telah mendapat restu dari Almira. Terlebih lagi Angkasa tak menolak pertunangannya yang menandakan jika Angkasa masih mencintainya seperti dulu.
"Ma aku capek, aku mau ke kamar dulu ya!" kata Angkasa yang langsung berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah kamarnya.
"Ini rencana pertunangannya belum di tentukan tanggalnya!" teriak Almira sambil memandangi punggung anaknya.
"Mama saja yang atur!" ucap Angkasa acuh tak acuh.
Almira dengan wajah kesalnya membuat senyuman palsu kepada Angel. Dia merasa tidak enak hati kepada Angel karena sikap Angkasa yang tampak tidak peduli dengan acara pertunangannya.
"Dia memang gitu, semakin dewasa semakin susah di atur. Kamu nanti kalau sudah menikah dengan Angkasa harus bersabar ya seperti Tante," ucap Almira sambil tersenyum.
"Iya, Tante tenang saja!" ucap Angel ramah.
'Gak peduli Angkasa cuek atau bagaimanapun sikapnya yang penting aku bisa menikah dengannya. Karena di dunia ini hanya Angkasa yang pantas untuk menikahi ku,' batin Angel.
"Tante akan secepatnya sebar berita kalian bertunangan. Dan acaranya kita adakan seminggu lagi gimana? kira-kira orang tua mu setuju gak?" tanya Almira.
"Setuju Tante, pasti setuju!" sahut Angel dengan cepat.
Hatinya sungguh senang karena dia secepatnya akan menjadi tunangan pria terkaya dan juga tampan di negara E ini.
"Ya sudah kalau begitu, besok kita persiapkan semuanya ya dan beli perlengkapannya,"
"Angkasa gak ikut Tante?" tanya Angel.
"Sepertinya tidak, kamu tahu sendiri Angkasa masih kuliah dan juga kerja di perusahaan," sahut Almira.
"Gak apa ya kita pergi sendiri?" tanya Almira yang tak enak hati.
"Iya gak apa-apa kok Tante, lagipula masalah seperti ini aku rasa aku bisa mengatasinya bersama Tante," sahut Angel.
__ADS_1