
Satu minggu berikutnya, Hendra pergi ke kantor polisi ingin mengunjungi Safira. Namun polisi mengatakan bahwa adiknya telah bebas dari penjara satu minggu sebelumnya.
"Saya ingin bertemu dengan tahanan atas nama Fernando!" ucap Hendra.
Polisi membawa Fernando ke hadapan Hendra.
'Aku harus tenang untuk mendapatkan informasi,' batin Hendra.
"Ada apa Kakak ke sini? bukankah Kakak sangat membenci saya?" tanya Fernando dengan wajah dinginnya.
"Apa kamu tahu orang yang membebaskan Safira?" tanya Hendra.
"Bukankah itu ayahnya? kenapa bertanya dengan saya?" sahut Fernando yang belum menyadari masalah terjadi pada Safira.
"Hah? itu artinya ada orang yang membantu Safira bebas dari tahanan?. Kamu tahu ciri-ciri orang itu?" tanya Hendra.
"Maksud Kakak pria yang membebaskan Safira bukan ayahnya? saya mendengar dari petugas bahwa pria itu berusia 40 tahun!"
Fernando terkejut mendengar hal itu, dia mengira Mahendra lah yang membebaskannya.
'Kenapa aku begitu b0doh!! Mahendra orang yang kejam, mana mungkin dia mengeluarkan uang untuk membantu Safira!' batin Fernando.
Di sisi lain, Safira setiap harinya sekolah seperti biasa. Dia tidak tahu berapa banyak mata-mata yang ada di kelasnya tapi yang pasti Safira tidak akan berani mencobanya karena dia tidak ingin membuat masalah. Safira merasa bahwa michael cukup baik terhadapnya.
"Jurusan yang aku ambil sangat berbeda dengan jurusan kuliahku yang lama. Mungkin aku akan menemukan beberapa kesulitan," kata Safira yang tampak gugup.
"***Eh coba lihat wanita itu! bukankah itu istrinya Tuan Michael yang terkenal itu ya?"
"Sepertinya Iya. Katanya umur mereka beda jauh, sepertinya wanita ini bukan orang yang baik!"
"Aku tebak dia menikah dengan Tuan Michael pasti karena kekayaannya. Mana mungkin ada wanita yang benar-benar tulus dengan pria yang usianya jauh di atasnya***!"
Desas-desus tentang Safira mulai menyebar di kampus. Banyak orang yang membencinya namun tidak ada yang berani melawan secara terang-terangan. Mereka melampiaskan amarahnya secara diam-diam karena dia tidak berani menghadapi Tuan Michael secara langsung.
"Apa-apaan kalian ini! saya memberi kalian tugas untuk menjaga Nyonya Safira bukan untuk menontonnya saja!" teriak Michael yang memarahi anak buahnya.
"Maaf Tuan! Seperti yang Tuan bilang, kami tidak boleh terlalu menonjol. Jika kami maju saat itu kemungkinan Nyonya akan tahu identitas kami," ucap salah satu anak buah yang menyamar di kampus Safira.
"Saya tidak mau tahu! kalian harus bisa melindungi Nyonya Safira tanpa sepengetahuannya. Jika sampai saya mendengar dia di buli lagi oleh temannya jari kalian yang akan saya potong!" ancam Michael.
Semua anak buahnya merasa ketakutan, mereka mendapat tugas yang lebih berat dari yang mereka bayangkan.
Hari kedua Safira pergi ke kampus, dia di kunci di toilet saat dia izin ke toilet. Rizal yang merupakan salah satu anak buah Michael bergegas ke toilet wanita. Rizal menyadari Safira sangat lama berada di toilet, dia bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh anak kampus.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rizal.
PLAK!!
"Dasar mesum!" ucap Safira usai menampar Rizal.
Rizal terdiam bagaikan patung di depan pintu toilet wanita. Tiba-tiba seorang wanita masuk ke dalam toilet dan sekali lagi Rizal mendapat sebutan "Cabul".
"Begini amat menjadi anak buah! Sepertinya aku harus memberikan Bos usul untuk menyewa seorang perempuan deh. Dengan begitu aku tidak perlu lagi masuk ke toilet wanita dan di teriaki pria cabul!" ucap Rizal pada dirinya sendiri.
Rizal kembali ke dalam kelas, dia melihat Safira sedang duduk di mejanya dengan wajah yang serius.
"Sepertinya Tuan belum pernah melihat wajah Nyonya yang serius seperti ini!" ucap Rizal.
Rizal mengambil handphonenya dan mengarahkan kamera kepada Safira lalu menekan tombol tengah untuk mendapatkan gambar.
__ADS_1
Rizal mengirimi Michael foto yang baru saja dia tangkap.
*Hapus fotonya dari galerimu setelah kamu mengiriminya kepada saya!*
Bukannya mendapat pujian Rizal justru mendapat sikap dingin dari Michael.
'Ternyata bukan hanya wanita cemburu yang menakutkan, tetapi pria juga. Apalagi Pria yang umurnya sudah melebihi normalnya yang baru pertama kali menyentuh seorang wanita,' batin Rizal menyesal.
Meskipun banyak mengeluhnya namun Rizal tetap setia terhadap Michael. Dia masih ingat saat Michael menemukannya sebagai pengemis. Michael dengan berbaik hati melatihnya hingga menjadi seperti sekarang. Tidak hanya membantu perekonomian keluarganya, Rizal juga mampu menjadi orang yang berguna.
...***...
Hendra yang sekarang merasa sangat bingung untuk mencari informasi adiknya. Dia akhirnya memilih datang ke rumah meminta bantuan kepada Ayahnya meskipun Ayahnya tidak terlalu peduli.
Tapi Hendra yakin Safira adalah anak kandung Mahendra, dia tidak akan mengabaikan Safira sepenuhnya meskipun dia sangat jahat. Ibaratkan seperti peribahasa sejahat-jahatnya Harimau tidak akan memakan anaknya sendiri.
Melihat anak tertuanya pulang, Mahendra berdiri dari tempat duduknya. Dia sudah menunggu sejak lama saat anaknya menelepon bahwa dia akan pulang ke rumah.
"Punya keberanian juga kamu menginjakkan kaki ke dalam rumah ini lagi!" kata Ayahnya dengan wajah kesalnya.
Istrinya berusaha menenangkannya namun Ani justru memancingnya.
"Bagaimana Kak? apa sudah menyerah dengan Safira? adik yang paling Kakak sayangi?" sindir Ani.
Hendra di sambut dengan perkataan yang tidak enak di dengar. Bahkan dirinya belum di persilahkan untuk duduk terlebih dahulu.
'Keluarga ini memang yang paling beda. Tapi ini demi menemukan Safira aku harus menahan rasa muak yang ada dalam diriku!' batin Hendra.
"Ayah, tolong bantu aku! Bantu aku menemukan Safira!" kata Hendra lemah.
Hendra melangkahkan kakinya ke hadapan ayahnya dan berlutut di depan kaki ayahnya.
"Ayah, Safira menghilang. Dia telah di bebaskan oleh pria asing, aku tidak tahu harus cari dia kemana! Ayah pasti punya cara untuk menemukan Safira," ucap Hendra sambil memohon kepada ayahnya.
"Tapi Ayah, mungkin saat ini Safira sedang tersiksa di sana. Dan dia tidak bahagia dengan pria itu, dia tidak bisa kembali karena paksaan pria itu!" kata Hendra yang sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya.
"Enyahlah!" Mahendra mendorong Hendra dengan kakinya hingga Hendra jatuh ke lantai.
"Aku tidak akan mencari keberadaan adikmu itu. Meskipun dia mati itu atas kemauannya sendiri!" kata Mahendra tanpa perasaan.
"Lagipula Safira saat ini pasti hidup senang karena berhasil menggoda pria kaya di luar sana. Tapi apa Kakak berfikir dia akan mengkhawatirkan keadaan mu saat ini?" ucap Ani.
"Yang di katakan adikmu itu benar! Dia belum tentu memikirkan aku bahkan kamu, untuk apa mengeluarkan banyak uang untuk mencarinya!" imbuh Hendra.
Tak menyerah sampai di sana, Hendra memandang Ibunya yang sedari tadi diam. Dia yakin Ibunya bisa membujuk Ayahnya, bagaimanapun juga Ibu adalah istri Mahendra dan orang yang paling di sayang oleh kepala keluarga pada umumnya.
"Bu, aku mohon bicaralah sama Ayah!" kata Hendra memohon.
"Kamu tidak perlu memohon dengan Ibumu. Aku tidak akan mendengarkan perkataannya!" ucap Mahendra.
"Ibu dan Ayah sama saja. Ibu kenapa diam saja saat anak-anakmu di perlakukan buruk oleh suamimu? apa ibu senang melihat aku dan Safira sengsara?" tanya Hendra kepada Ibunya .
Ibunya hanya diam tak menjawab.
"Bu, aku dan Safira adalah anak yang kamu lahirkan! sekarang Safira menghilang kamu bahkan bisa berdiam diri tidak melakukan usaha apapun? kamu bisa setenang ini menghadapi kenyataannya? kamu tidak layak sebagai seorang Ibu. Seorang Ibu tidak akan berperilaku seperti kamu!" kata Hendra dengan berteriak.
PLAK!
Mahendra memukul anaknya sendiri, dia sudah bosa melihat anaknya yang sudah berani melawannya.
__ADS_1
"Pukul saja Yah! Pukul! Pukul aku sampai mati. Sampai Ayah puas, sampai wajahku tidak bisa di kenali lagi!," kata Hendra sambil menangis karena emosi yang tak terkendali.
"Dasar anak kurang ajar!"
Mahendra melepas ikat pinggang andalannya dan memukul punggung Hendra. Jelas itu sangat kesakitan namun itu lebih sakit daripada luka di hatinya.
"Ibu senang kan melihat anak-anak Ibu di perlakukan layaknya binatang? Ibu puas kan sekarang? sampai anak-anak Ibu satu persatu meninggalkan Ibu baru Ibu menyesal. Bukankah seperti itu?" ucap Hendra sambil menahan rasa sakit itu.
"Mas cukup Mas!" kata istrinya menghentikan Mahendra.
"Kamu lepaskan aku Jayanti! aku tidak akan mengampuni anak yang kurang ajar ini," kata Mahendra kepada istrinya.
"Jangan Mas, dia anak kita. Kamu stop memukulnya," ucap Jayanti.
Mahendra melepas Hendra kali ini, namun saat itu Hendra sudah sangat lemah. Banyak tenaga yang keluar akibat emosinya di tambah menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Biarkan dia berbaring di sini, biarkan dia mendapat hukuman yang luar biasa!" kata Mahendra yang kemudian berlalu meninggalkan Hendra bersama Ani anak satu-satunya yang masih penurut.
Setelah suami dan anaknya pergi, Jayanti menghampiri Hendra yang terbaring lemas di lantai. Dia membawanya ke sofa dan membaringkannya di atas sofa untuk di obati.
Jayanti mengambil kotak obat dan mengolesi luka-luka di badan Hendra sambil menangis. Dia merasa sangat bersalah, bagaimana mungkin dia membiarkan suaminya memukulnya berkali-kali.
Namun kali ini Hendra telah salah paham terhadapnya. Hendra tidak tahu kalau Ibunya yang bernama Jayanti selalu di hantui rasa bersalah saat Safira ataupun Hendra mendapat hukuman. Namun Jayanti tak bisa melakukan apapun, dia menyesali dirinya yang terlalu lemah.
'Maafkan Ibu Nak, seandainya cinta Ayah masih seperti dulu mungkin Ibu masih bisa melindungi kamu! Tapi tanpa kalian ketahui, Ayah sudah memiliki wanita lain yang sangat dia cintai!' batin Jayanti.
Memang benar setelah menjalani pernikahan begitu lama, Mahendra tampak sudah bosan dengan Jayanti. Terlebih lagi Mahendra bertemu banyak wanita cantik di luar sana saat dia bekerja. Jayanti tahu suaminya berselingkuh namun dia tidak berani mengatakan apapun.
Jayanti memilih untuk memendam semuanya sendirian. Berharap suaminya akan mendapatkan karma sendiri.
"Hendra, kamu harus kuat! kamu harus menemukan adik kamu! kamu tidak boleh menyerah, Ibu hanya mengandalkan kamu saja sekarang," kata Jayanti pada putranya yang tidak sadarkan diri itu.
Jayanti mencoba menggunakan minyak kayu putih untuk membangunkannya. Akhirnya beberapa detik kemudian Hendra sudah siuman.
Dia terkejut dengan keberadaan Ibunya, dia langsung bangun dari tidurnya dan lupa bahwa dia masih memiliki luka di punggungnya.
"Ssssshhhhh!" Hendra meringis kesakitan.
"Kamu jangan banyak gerak dulu! lebih baik kamu tinggal di sini beberapa hari," kata Jayanti menasehati putranya.
"Aku tidak perlu kamu urus. Kamu bukan Ibu ku lagi!" ucap Hendra lalu pergi dari hadapan Ibunya dengan menahan rasa sakit di belakang punggungnya.
Tentu saja hal itu membuat hati Jayanti teriris-iris. Ini pertama kalinya Hendra bersikap dingin dengannya. Biasanya Hendra tidak pernah memperlakukan dirinya tidak terhormat seperti ini.
'Ini semua salahku, aku tidak akan menyalahkan Hendra. Tapi apa yang akan aku lakukan? aku tidak mampu melawan suamiku sendiri. Aku hanya wanita lemah, Ibu yang tidak berguna. Bahkan membiarkan suami sendiri memukuli anak-anak dan hanya bisa diam seperti patung di hadapannya!' kata Jayanti dalam hati.
Air matanya terus bercucuran, dia tak mampu lagi untuk menahan rasa sakit yang sudah di tahannya sangat lama.
"Kemana anak itu pergi?"
Tiba-tiba Mahendra kembali ke ruang tamu, Jayanti buru-buru menghapus air matanya. Dia tidak ingin suaminya tahu kalau dirinya menangis.
"Dia sudah pergi beberapa menit yang lalu!" ucap Jayanti dengan suara yang tetap tenang.
"Baguslah! Lalu kenapa ada kotak obat di tanganmu? apa kamu mengobatinya?" tanya Mahendra.
"Awalnya aku ingin mengobatinya. Tapi siapa sangka, kalau dia tidak butuh obat dariku. Mungkin ini karena dia sangat membenciku hari ini," kata Jayanti yang tampak tidak gugup.
Jayanti sudah terbiasa seperti ini, mengatur dirinya agar tetap tenang di situasi panik sekalipun.
__ADS_1
"Baguslah! biarkan saja dia mengurusi hidupnya sendiri. Aku tidak butuh anak yang tidak penurut seperti itu!" kata Mahendra lalu kembali ke kamarnya.
'Anak satu persatu menjadi tidak penurut itu semua juga karena kamu Mas. Dan kamu juga membuat anak-anak membenciku juga,' batin Jayanti.