Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 59


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Tasya telah mendapatkan sebuah pekerjaan sebagai pelayan di salah satu restaurant.


Tasya ingin menjalani hari-hari berikutnya dengan baik dan juga dia tidak ingin merugikan dirinya lagi.


Tepat saat itu, Tasya mengantar beberapa pesanan yang di pesan oleh pelanggannya. Saat hendak kembali pada tempatnya, ia di panggil oleh salah satu pelanggan.


Saat berbalik, ternyata pelanggan yang memanggilnya adalah Vania yang sedang duduk di meja bersama Valen. Tentu saja hal itu membuat Tasya terkejut dan juga sedikit takut.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya Tasya dengan sopan santun.


"Aku mau air hangat ada gak?" tanya Vania dengan nada suara yang tampak biasa saja.


"Maaf Kak, di sini tidak menyediakan air hangat!" sahut Tasya.


"Kalau gitu gak jadi deh!" ucap Vania kembali.


Tasya pun membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya. Tampak tidak terjadi apa-apa, namun detik berikutnya Vania memanggilnya lagi.


"Mbak!" panggil Vania.


Dengan jengkel, Tasya kembali ke meja tempat Vania makan bersama Valen.


"Ada apa lagi Mbak?" tanya Tasya dengan penuh kesabaran.


"Emm, Mbak saya pesan minuman lagi dong. Mau jus strawberry ya!" ucap Valen.


"Baik Mbak, mohon di tunggu ya!!" ucap Tasya.


Dengan cepat Tasya melangkah pergi meninggalkan Vania dan Valen. Tasya berharap tidak di panggil lagi oleh mereka.


Sedangkan Vania dan Valen saling menatap dan kemudian tertawa. Mereka sangat senang bisa mengerjai Tasya.


"Nanti kita kerjain lagi setelah ini, biar dia tidak berani lagi sama kita!" ucap Vania memanas-manasi Valen.


"Boleh juga, sepertinya seru nih!" kata Valen setuju.


Beberapa menit kemudian, setelah Tasya mengantar beberapa pesanan pelanggan lainnya, dia akhirnya kembali mengantar pesanan Valen.


Tasya menaruh segelas minuman yang di pesan oleh Valen di atas meja.


"Tasya, berhubung kita pernah menjadi sahabat aku gak panggil kamu sebutan Mbak deh. Tapi, kamu harus duduk di sini temani kita makan. Lagipula sudah lama sejak kejadian itu kita tidak pernah bertemu lagi!" sindir Vania yang mengajak Tasya untuk makan bersama.


"Maaf Vania, sepertinya tidak bisa! Ini masih kerja aku!" tolak Tasya.


"Sayang sekali ya, tapi sepertinya tidak apa-apa deh. Toh juga sebentar saja!" kata Vania kembali meminta Tasya agar menemaninya makan.


"Baiklah, cuma sebentar saja ya!" ucap Tasya.


Tasya akhirnya memilih untuk menyetujui karena dia tidak lagi berani menyinggung mereka berdua. Namun, saat Tasya hendak duduk Vania menendang ke samping kursi yang hendak Tasya duduki. Alhasil Tasya terjatuh ke lantai, dan merasakan sakit pada pinggangnya.


Sedangkan Valen dan Vania tertawa terbahak-bahak memperhatikan Tasya yang jatuh begitu saja.

__ADS_1


"Kamu hati-hati dong Tasya, sini aku bantu!" ucap Vania yang berpura-pura baik.


Tasya mengulurkan tangannya dan di tangkap oleh Vania. Namun saat hendak bangkit, Vania dengan sengaja melepas genggaman tangannya kepada Tasya.


"Aduh Tasya, maaf ya tanganku licin!" ucap Vania seolah-olah merasa bersalah kepada Tasya.


Tasya kembali merasakan rasa sakit pada pinggangnya. Dia kemudian bangkit sendiri.


Melihat sekeliling, semua pelanggannya menatap ke arahnya seperti merasa iba. Itu sangat memalukan bagi Tasya karena dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri.


"Sepertinya ajakan kamu hanya sebatas gurauan, kalau begitu aku lanjut bekerja dulu ya!" pamit Tasya kepada mereka.


Tasya hanya bisa bersabar karena tugasnya sebagai pelayan yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hahaha! lucu sekali kan tadi?" ucap Vania kepada Valen.


"Iya, kamu benar sekali! sayangnya dia kabur duluan, jadi gak bisa bermain lebih lama lagi!" ucap Valen.


Mereka kembali menikmati makanannya dengan hati yang cukup puas. Namun detik berikutnya mereka tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi pada diri mereka sendiri.


"Lahap ya makannya, seperti orang kelaparan," ucap seorang pria yang tiba-tiba menghampiri Valen dan Vania.


"Maksud kamu apa? kami dari keluarga kaya ya, tidak mungkin kami akan kelaparan di sini!" ucap Valen dengan kesal.


Pria itu hanya tersenyum seolah meremehkan perkataan mereka.


"Kalau tidak kelaparan, mana mungkin kalian memakan teman kalian sendiri? katanya anak orang kaya, pasti orang tuamu hanya sekolahin kalian tinggi-tinggi tanpa di bekali attitude ya?" sindir pria tersebut sambil tertawa pelan meremehkan mereka.


"Asal kamu tahu ya, pacar kamu itu telah menjadi pelakor dalam hubunganku dengan suamiku hingga kami bercerai. Lebih baik kamu jauh-jauh deh!" kata Valen lagi.


"Benar, yang di katakan temanku. Lagipula dia sudah tidur dengan banyak pria, jadi jangan buang-buang waktumu dengan dia!" imbuh Vania.


Tasya yang masih sibuk mengantar makanan kepada pelayan mendengar pertengkaran mereka. Hatinya sangat malu, dia menghampiri pria tersebut.


"Tuan, lebih baik Tuan kembali menikmati makanannya. Saya tidak apa-apa karena saya memang pantas mendapatkannya!" ucap Tasya kepada pria yang sedari membelanya.


"Hais! sungguh hati yang baik. Kalau begitu kamu lanjut bekerja saja, untuk mereka biar saya yang urus!" ucap pria tersebut.


"Tapi Tuan...,"


"Percaya sama saya. Saya tidak akan membiarkan karyawan saya ditindas oleh pelanggan yang tidak memiliki attitude!" ucap Pria tersebut.


"Tuan adalah...,"


"Ya, saya Bos di sini. Jadi kamu ikuti perintah saya!"


"Baik Tuan, terimakasih!" kata Tasya lalu meninggalkan Bosnya.


Tasya tidak menyangka jika Bosnya sendiri akan berkunjung secepat itu. Karena saat interview, bosnya tidak hadir.


"Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak akan membiarkan karyawan saya di tindas. Kalau kalian tidak mau minta maaf, silahkan pergi dari restaurant saya!" ucap Pria tersebut.

__ADS_1


Vania dan Valen berdiri dari tempat duduk mereka dengan raut wajah yang kesal, karena ini pertama kalinya mereka di perlakukan seperti ini.


"Kamu pikir restaurant kamu ini populer? tanpa pelanggan-pelanggan seperti kamu, restaurant ini tidak akan maju!" ucap Vania.


"Tidak apa tidak maju, daripada saya membuat pelanggan lainnya tidak nyaman karena satu, dua pelanggan yang seperti kalian!" balas pria tersebut sambil melihat ke sekeliling.


"Awas saja kamu, kita gak bakalan datang ke sini lagi!" kata Vania lalu mengajak Valen pergi dari restaurant tersebut.


"Kami juga tidak memerlukan kalian, dan akan mem blacklist kalian dari restaurant ini!" kata pria tersebut.


Orang yang di ajaknya ribut telah pergi dari hadapannya, kini pria tersebut meminta maaf atas ketidaknyamanan para pelanggannya.


"Bos di sini sangat baik, bahkan peduli dengan karyawannya! aku jadi ingin kerja di sini" bisik salah satu pelanggan sambil menikmati makanannya.


"Untung tadi aku sudah sempat rekam, aku bisa upload agar banyak pengunjung di restaurant ini. Soalnya bosnya sangat ramah dan juga baik," ucap yang lainnya.


Hampir semua pelanggan memuji kebaikan pria tersebut karena telah memihak kepada karyawannya.


"Bagaimana keadaanmu? apa masih bisa lanjut bekerja?" tanya pria tersebut kepada Tasya yang baru saja selesai mengantar pesanan pelanggan.


"Masih bisa Pak!" sahut Tasya dengan sopan.


"Apakah semua pesanan sudah di antar?" tanya pria tersebut.


"Sudah Pak!"


"Kalau begitu temani saya ngobrol sebentar, saya ingin tahu kamu lebih dalam!" ucap pria tersebut.


Mendengar hal itu, Tasya menjadi degdegan. Dia tidak tahu apa yang akan di bahas oleh bosnya.


'Apa mungkin aku akan di pecat ya karena membuat keributan tadi?' batin Tasya.


Setelah memilih kursi yang kosong, bosnya menyuruh Tasya untuk duduk.


"Ada apa ya Pak?" tanya Tasya gugup.


"Gak apa-apa. Jangan gugup, saya hanya ingin ngobrol biasa saja sama kamu," kata pria tersebut.


Tasya hanya menjawabnya dengan anggukan diimbuhi dengan senyuman canggungnya menatap bosnya.


"Kenalin, nama saya Ravindra. Kamu bisa panggil aku Ravin atau kalau kamu sungkan kamu bisa panggil aku Kak Ravin. Teman-teman kamu biasa panggil aku seperti itu kok!" kata pria yang ternyata bernama Ravin tersebut.


"Saya Tasya Kak Ravin, anak baru yang bekerja hari ini!" ucap Tasya.


"Emm... kamu benar tidak apa-apa? tidak ada yang sakit kah?" tanya Ravin yang masih tampak khawatir dengan keadaan Tasya.


"Tidak apa-apa kok Kak, tenang saja!" sahut Tasya tersenyum.


Baru beberapa menit mengobrol, seorang pelanggan telah datang dan memanggilnya. Tasya pun akhirnya kembali bekerja.


Sedangkan Vania dan Valen sangat kesal karena di usir oleh pemilik restaurant yang dianggapnya sangat angkuh. Mereka beberapa kali mencaci maki restaurant dan pemiliknya dan juga berharap agar restaurant tersebut tampak sepi setelah memasukkan nama mereka ke daftar hitam.

__ADS_1


__ADS_2