
Tiga hari kemudian, Angkasa di datangi oleh Kelvin untuk melaporkan suatu hal tentang Ruby.
"Tuan, ada berita tentang Tuan Michael dan istrinya. Katanya mereka di perkirakan sampai di negara E nanti malam," ucap Kelvin.
"Apa yang mereka lakukan? apa akan berkaitan dengan perusahaan ayahnya Naila?" tanya Angkasa khawatir.
"Bukan Bos, katanya tujuan mereka kemari untuk mencari keberadaan kakaknya Ruby!" sahut Kelvin.
"Baik, sekarang kamu selidiki lagi perusahaan Ayahnya Naila. Apa yang sedang mereka rencanakan dan tetap pantau situasinya ya. Kalau terjadi masalah di sana secepatnya kamu kabari saya!" perintah Angkasa.
"Baik Tuan!" sahut Kelvin lalu segera melaksanakan tugasnya.
Angkasa memijat dahinya, dia tidak bisa berkomunikasi lebih kepada Naila. Namun di dalam hati Angkasa, dia masih mengkhawatirkan Naila itu sebabnya dia melakukan segala upaya untuk melindungi perusahaan Naila diam-diam.
Pada malam hari kemudian, Ruby dan Michael telah sampai di negara E. Dia memapah istrinya untuk turun dari pesawat. Ruby tampak senang juga sedih karena di sinilah tempat dia dilahirkan. Akan tetapi di sini juga Ruby mendapat begitu banyak penderitaan semasa dia tinggal di sini.
"Mas kamu sudah sewa apartemennya belum?" tanya Ruby kepada Michael.
Di belakangnya tampak berjalan beberapa pengawal untuk berjaga-jaga jika ada yang berniat jahat terhadap mereka.
"Sudah, sekarang kita akan pergi ke sana!" ucap Michael.
Satu jam kemudian tepatnya jam 8 malam, Michael dan Ruby telah sampai di apartemen mereka. Mereka meletakkan beberapa barang yang di bawanya.
"Mas, kita langsung pergi ke rumahku ya untuk mencari Kakakku!" ucap Ruby dengan tergesa-gesa.
"Apa tidak sebaiknya besok saja Sayang? lagipula kita baru saja sampai pasti kamu sangat lelah!"
"Nggak Mas, aku mau sekarang. Aku sudah rindu sekali dengan Kak Hendra," ujar Ruby dengan wajah memelasnya.
Mau tak mau Michael menyetujuinya dan mengantar Ruby ke rumahnya dengan mobil yang di pesan lewat online.
"Mas, setelah kita membawa Kak Hendra ke negara Y kita langsung pergi ke saja dari sini. Aku gak mau lama-lama di negara Y, karena saat datang ke sini aku jadi ingat masalalu-masalalu aku yang pahit," ujar Ruby ketika sudah dalam perjalanan.
Ruby bagaikan ratu di hati Michael, tentu saja Michael akan menuruti semua perkataan istrinya.
"Iya sayang," sahut Michael.
"Aku punya satu permintaan lagi Mas!"
"Jangankan satu, banyak pun boleh asal itu bikin kamu senang Sayang!"
Michael mengelus kepala Ruby setelah berkata romantis.
"Mas, aku mau Mas memberikan pekerjaan Kak Hendra di negara Y. Aku mau hidupnya terjamin di sana, kamu tahu sendiri kan hanya Kakak ku yang melindungi ku sejak kecil. Lagipula menurutku ini tidak akan susah bagimu, dan Kakak ku cukup pintar Mas. Boleh ya Mas?"
Michael tersenyum mendengar permintaan Ruby, terlebih lagi saat melihat ekspresi Ruby yang sedikit cemas.
"Baik Sayang, akan aku turuti semua permintaanmu!" ucap Michael.
Kali ini Michael mencium kening Ruby hingga membuat Ruby malu karena di depan masih ada seorang pengemudi.
Setelah sampai di rumah Ruby, mereka turun dari mobil. Ruby tampak ragu-ragu untuk masuk ke depan pintu masuk rumahnya. Dia masih ingat bagaimana menderitanya tinggal di rumah yang terlihat indah di luar.
"Ketuk saja Sayang, kalau ada apa-apa aku pasti melindungimu!" ucap Michael.
Ruby menangguk dan mengunpulkan keberanian demi bertemu dengan sang Kakak.
Setelah pintu di ketok beberapa kali, akhirnya ada orang yang membukakan pintunya. Ruby melihat wanita tua yang berdiri di depan pintu dengan wajah datarnya. Namun saat beberapa detik kemudian, wanita tersebut tersenyum dan memeluk Ruby.
"Safira, kamu kembali Nak!" ucap wanita tersebut.
'Apa ini Ibu? kenapa seperti sangat berbeda? sekarang wajahnya terlihat tua dan juga sangat kurus!' batin Ruby yang belum mengenal ibunya.
"I-ibu, apa yang terjadi di rumah selama aku pergi? Kak Hendra kemana?" tanya Ruby sambil memegang kedua lengan Ibunya.
"Kedua Kakakmu telah pergi dari rumah! Hendra mencarimu kemana-mana dan sekarang Ibu tidak tahu dia pergi kemana!" ucap Ibunya Ruby.
Ruby sangat khawatir karena kedatangannya ke sini untuk mencari sang Kakak.
"Ayah kemana Bu?" tanya Ruby.
__ADS_1
"Ayah mu kerja Nak, dan sekarang...," wanita itu berfikir sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Hei wanita dek!l, lama sekali kamu buka pintu. Cepat kembali masak, aku sudah lapar sekali!" ucap wanita tersebut memghampiri Ruby dan juga Ibunya.
"Dia siapa Bu?" tanya Ruby yang melihat wajah wanita tersebut.
"Istri baru Ayah kamu!" kata Ibunya Ruby dengan pelan.
Belum cukup dengan kepergian Kakaknya dari rumah, kini Ruby di kejutkan kembali dengan perkataan Ibunya.
"Sejak kapan Ayah menikah lagi Bu?" tanya Ruby membelalakkan matanya.
"Eh Kamu! kamu pasti anaknya wanita dek!l ini ya? bawa pergi sana Ibumu, di sini cuma merusak pemandangan saja. Aku ingin bermesraan dengan suamiku saja susah karena di ganggu terus!" ucap Wanita tersebut dengan pedas.
Michael yang mendengar perkataan wanita tersebut menjadi sangat marah. Dan ingin sekali rasanya dia menampar wanita yang ada di depan istrinya. Namun Ruby menahannya, sehingga Michael mengurungkan niatnya.
"Mas coba deh kamu lihat, ada seekor anjing yang ingin mengusir majikannya. Udah gitu sok merasa paling berkuasa lagi, menurutmu kamu apakan anjing itu Mas?" tanya Ruby menyindir istri kedua ayahnya yang bernama Jeni.
"Maksudmu Apa? siapa yang kamu sebut Anjing?" tanya wanita tersebut dengan emosi.
"Gak perlu bentak-bentak istri saya ya! kalau kamu tidak mau hidup kamu semakin menderita!" ancam Michael.
Bukannya takut, justru Jeni tertawa ketika Michael mengaku kalau Ruby adalah istrinya.
"Ini suami kamu? memang sih buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Demi uang bahkan rela menikahi pria tua seperti dia. Apa jangan-jangan awalnya sudah Duda ya? atau jangan-jangan kamu perebut suami orang?" ucap Jeni sambil tertawa.
Jayanti yang merupakan Ibu Ruby tidak terima anaknya di hina oleh madunya. Jayanti mengambil tindakan dengan memberanikan diri untuk menampar Jeni.
"Kamu jangan pernah menghina anakku! asal kamu tahu, anakku sudah berkali-kali mendapat perlakuan buruk. Saat ini dia kembali karena kakaknya, dan kamu menambah kesan buruk dengannya!" ucap Jayanti dengan rahang yang bergetar karena menahan emosi.
"Kamu berani melawanku Jayanti?" teriak Jeni dengan mata yang melotot.
"Semua yang di dapatkan oleh anakmu adalag karma mu dan karmanya, tidak ada hubungannya denganku!" ucap Jeni kembali.
Ruby tak sanggup menerima penghinaan itu, jelas itu sangat-sangat salah.
"Bukan hanya Ibuku yang berani, aku juga berani!" ucap Ruby sambil menjambak dan menarik rambut Jeni.
"Bu, ambilkan aku ikat pinggang!" ucap Ruby kepada Jayanti.
Jayanti dengan ragu-ragu melangkah ke kamar dan mengambilkan anaknya ikat pinggang milik suaminya. Sedangkan Michael membantu untuk menahan Jeni agar tidak kabur.
"Kenapa? kamu takut? kalau dulu itu karmaku mungkin sekarang ini adalah karma mu juga. Kamu tunggu saja, apakah ada orang yang menyelamatkanmu di sini!" ucap Ruby dengan tatapan mata yang menakutkan.
Ruby menerima ikat pinggang yang di berikan oleh Ibunya. Dengan mengumpulkan keberanian, Ruby mulai memukul punggung Jeni dengan keras. Sama seperti yang di lakukan oleh ayahnya dulu.
"Ini sebagai hukuman karena kamu telah merebut ayahku dari Ibuku!"
"Dan sekarang juga, aku akan melampuaskan amarahku dengan bertubi-tubi. Aku ingin lihat, bagaimana perasaan ayah jika melihat orang yang dia sayangi menjadi babak belur seperti ini!" ucap Ruby sambil terus memukul Jeni dengan keras.
Tindakannya yang sekarang sama seperti yang di lakukan oleh ayahnya. Tanpa belas ampun, meskipun tanpa persiapan apa-apa akan tetapi Ruby mengandalkan dendamnya untuk melakukan kekerasan itu.
Dia tidak peduli jeritan Jeni yang kesakitan, bahkan dia ingin Jeni langsung tak bernyawa atau hanya sekedar tak sadarkan diri. Karena Ruby dapat menebak, jika wanita ini adalah orang yang sangat di sayangi oleh Ayahnya.
Terlebih lagi Ruby melihat penampilan Jeni lebih baik daripada Ibunya. Jadi dengan menggunakan Jeni, Ruby ingin Ayahnya mendapatkan perasaan sakit.
"Sudah cukup, aku tidak kuat lagi!" kata Jeni memohon belas ampunan.
Michael yang melihat istrinya pertama kali emosi yang menggebu-gebu segera menggenggam tangannya dan menghentikannya. Dengan lembut Michael menasehati istrinya dan menyuruhnya berhenti.
"Sayang tolong jangan menyimpan dendam terlalu dalam! hidupmu sudah berbeda sekarang, bukankah kamu ke sini untuk Kakakmu?" ucap Michael berbisik ke telinga Ruby.
Ruby akhirnya sadar setelah di selimuti oleh emosi. Dia melihat dirinya telah melakukan kekerasan. Dan sekarang Ruby melihat Jeni yang tampak terkulai lemas di lantai, sama persis seperti dirinya dulu.
"Ternyata seperti ini rasanya balas dendam dan meluapkan emosi," ucap Ruby dengan pelan.
"Sudah ya Sayang, kita tinggalkan tempat ini. Dan juga ajak Ibu mu untuk pergi dari sini," kata Michael.
Ruby yang telah kehabisan setengah nafasnya duduk sebentar di atas sofa. Dia mengatur nafasnya sambil melihat Jeni yang sudah merintih kesakitan.
Ruby melihat Ibunya membawakan kotak obat untuk Jeni.
__ADS_1
"Bu, jika Ibu punya waktu lebih baik Ibu bereskan barang-barang Ibu. Kita pergi dari sini sebelum Ayah datang!" ucap Ruby.
"Tapi Jeni,..."
"Sudah! dia memang pantas mendapatkan itu!" kata Ruby.
"Bu, lebih baik turuti perkataan Ruby. Jangan memancing emosinya lagi," Michael ikut membujuk Jayanti.
Jayanti segera pergi ke kamarnya dan merapikan semua barang-barangnya yang ada di lemari.
Saat hendak keluar dari kamar, dia teringat dengan perhiasan yang di milikinya. Dia mengambil semua perhiasannya dan membawa bersamanya. Selain itu dia membawa semua barang berharga milik suaminya dan masuk ke kamar suaminya dan Jeni.
"Aku sudah lama bersabar dan saat kamu di atas aku belum pernah di berikan apa-apa olehmu!. Tapi wanita itu yang baru masuk sudah kamu belikan banyak barang," Jayanti mengoceh sendiri sambil mengambil beberapa perhiasan yang di belikan oleh suaminya untuk Jeni.
Setelah mengambil itu semua, Jayanti keluar dari kamar dan mengajak Ruby cepat-cepat pergi. Untung saja mobil yang di sewa oleh Michael belum pergi. Jadi Michael dan istrinya bisa langsung membawa pergi Jayanti.
Di dalam mobil, Jayanti bercerita banyak hal tentang kedua anaknya. Yang ternyata Ani, kakak perempuan Ruby meninggalkan rumah setelah ayahnya menikah.
Namun saat itu, Ani memiliki pekerjaan yang baik. Jadi Jayanti mengizinkannya pergi karena dia tidak mau anaknya di sakiti oleh Jeni.
Sedangkan Jayanti sendiri setelah Jeni masuk ke dalam rumah tangganya, dia di jadikan pembantu olehnya. Setiap hari harus membereskan rumah dan melayaninya. Kadangkala saat Jeni ataupun suaminya tak senang, Jayanti berkali-kali mendapat amukan dari mereka.
Awalnya Jayanti ingin mendampingi suaminya karena dia kira meskipun pemarah suaminya masih setia. Tetapi setelah suaminya menikahi wanita lain, kepercayaan Jayanti dengan suaminya menjadi hancur lebur.
Baginya tidak ada lagi harapan untuk bertahan, namun untuk pergi pun Jayanti sangat susah karena Jeni selalu ada di rumah.
"Bu, kenapa Ibu tidak ikut Kak Ani saja waktu itu?" tanya Ruby setelah mendengar cerita Ibunya.
"Ibu tidak mau menyusahkan kakakmu!" sahut Jayanti.
"Ibu juga minta maaf sama kamu Safira, Ibu tidak bisa melindungi kamu saat di siksa oleh ayah. Beberapa kali Ibu mencoba menenangkan ayahmu tetapi yang Ibu dapat hanyalah pukulan yang melayang di pipi Ibu," kata Jayanti dengan isakan tangisnya.
"Sudah Bu, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang lebih baik kita mencari kak Hendra Bu," kata Ruby.
Ruby tidak pernah mengira jika Ibunya juga berusaha melindunginya dari belakang. Meskipun tidak terlihat akan tetapi itu nyata. Rasa kecewa Ruby terhadap Ibunya semakin berkurang setelah tahu kalau Ibunya juga sama-sama menderita seperti dirinya.
"Ruby, bagaimana kalau kita lakukan pencariannya besok saja? sekarang sudah malam!" ucap Michael.
"Baiklah! kita kembali ke apartemen saja berarti Mas?"
"Iya!"
Jayanti tidak sempat memperhatikan suami anaknya tadi. Dia baru sadar kalau suami anaknya ikut di dalam mobil.
"Ini suami kamu Safira?" tanya Jayanti dengan ragu.
"Iya Bu, ini suamiku. Namanya Michael, oh ya Bu nama ku sekarang bukan Safira lagi tapi Ruby!" ucap Ruby tersenyum kepada Ibunya.
"Halo Bu! saya suaminya Ruby, maaf saat acara pernikahan kami melakukannya dengan diam-diam, maaf sekali Bu!" kata Michael merasa bersalah.
"Tidak apa-apa! bagi Ibu itu tidak penting. Yang terpenting kamu dan Safira eh maksudnya Ruby bisa hidup bahagia ya!" kata Jayanti.
"Iya Bu, saya pasti akan menjaga Ruby selama sisa hidup saya Bu!" kata Michael.
"Iya Nak Michael, terimakasih banyak ya. Ibu serahkan Ruby kepada kamu, karena Ibu sendiri tidak mampu melindungi dia!"
Setelah beberapa menit perjalanan, Ruby telah sampai di apartemennya. Dia mengajak Ibunya masuk dan menunjukkan kamar untuk Ibunya.
"Makasih ya Ruby, kamu sudah mau menerima Ibu kembali. Oh ya tunggu, ibu ada sesuatu untuk kamu!" kata Jayanti.
Jayanti mengambil 2 kotak perhiasan yang cukup besar.
"Ambil! Ibu membawanya setelah mengambil pakaian Ibu," ucap Jayanti memberikan perhiasan itu kepada anaknya.
"Bu, aku tidak kekurangan ini kok Bu. Lebih baik ibu simpan saja ya," ucap Ruby menolak dengan lembut.
"Tapi Ibu hanya punya ini Ruby, selama ini Ibu tidak pernah memberikan apa-apa kepada kamu!" ucap Jayanti.
"Sudah ku bilang, masalalu di lupakan saja Bu!" kata Ruby kembali mengingatkan Ibunya.
"Terimakasih banyak Ruby!" kata Jayanti sambil memeluk putrinya.
__ADS_1