
Kembali kepada Tasya yang sedang bingung mencari Fernando di kampus pada keesokan harinya. Dia masih belum tahu kejadian Fernando dengan Safira.
Sampai akhirnya Tasya bertemu dengan Vania dan menagih janjinya.
"Gimana dengan rencananya? mengapa aku melihat Naila bisa kembali ke kampus tanpa beban sedikitpun?" tanya Vania dengan nada yang cukup tinggi.
"Ma-maaf Vania, aku belum berhasil membuat dia sengsara," kata Tasya dengan gugup.
"Aku beri kamu kesempatan sekali lagi, kamu harus bisa buat Naila menderita. Jika tidak, kamu jangan harap dapat hidup damai," ancam Vania.
Setelah mengatakan hal itu Vania pergi dari hadapan Tasya dengan langkah besar.
"Gak Vania gak Naila sama-sama bikin kesal!" gumam Tasya kesal.
"Eh tahu gak? katanya ada dua mahasiswa yang di tangkap polisi kemarin. Katanya kasus penculikan gitu,"
"Benar, dunia maya telah di gemparkan oleh berita tersebut. Betapa busuknya hati mereka, dengar-dengar mereka sepasang kekasih yang memiliki dendam dengan wanita yang di culik!"
"Bahkan korban dan pelaku masih satu kampus dengan kita,"
Desas-desus tentang Fernando dan Safira di tangkap polisi sudah tersebar di dunia maya ataupun di kampus tempat mereka kuliah. Semua mahasiswa dan para netizen tidak menyangka anak semuda itu memiliki pemikiran yang licik.
"Jadi Fernando sudah ada di penjara? kalau seperti itu tidak ada orang yang akan membantu aku untuk terlepas dari Pak Tua itu?" ucap Tasya dengan raut wajah yang terlihat panik.
Di sisi lain, Hendra dan keluarganya yang telah membaca berita tersebut sangat kecewa. Adapun Mahendra dia sangat marah dan tidak menginginkan kembali Safira sebagai anaknya.
"Adik seperti itu yang selama ini Kakak lindungi? Yang Kak Hendra sayangi?" sindir Ani kepada Hendra yang kemudian di dengar oleh Ayahnya.
"Maksud kamu? Hendra melindungi Safira dari siapa?" tanya Mahendra.
"Jelas dari Ayah, dia bahkan...,"
"Diam kamu!" ucap Hendra memotong pembicaraan Ani.
"Ani lanjutkan!" perintah sang Ayah.
Melihat ada Mahendra yang mendukungnya Ani pun tersenyum licik ke arah Hendra.
__ADS_1
"Safira ngekost dan di biayai kuliah oleh Kak Hendra. Perkataan Kak Hendra yang bilang Safira telah bekerja lah, berhenti kuliah atau segala macam itu bohongan!" ungkap Ani.
"Awas saja kamu Ani," kata Hendra.
PLAKK!!!
Mahendra bangkit dari tempat duduknya dan menampar wajah Hendra. Hendra meringis kesakitan setelah di hajar oleh Mahendra.
Tidak cukup sampai di sana, Mahendra melepas ikat pinggang yang dia gunakan bersiap untuk memukuli anak laki-lakinya itu.
Namun tidak semudah itu, Hendra berhasil menangkap dan menarik ikat pinggang tersebut.
"Sudah cukup! aku muak dengan keluarga ini. Asal ayah tahu, Safira menjadi seperti ini itu karena Ayah sendiri. Ayah memperlakukan dia seperti anak catur yang Ayah gunakan sesuka hati. Safira tidak pernah mendapat kasih sayang dari kalian, dan selalu menjadi pelampiasan saat Ayah marah!"
"Dan sekarang dia terkena masalah, Ayah masih saja menyalahkan Safira tanpa introspeksi diri Ayah sendiri. Gunanya Ayah sebagai orang tua apa? menjadi beban anak?. Kalau membuat anak hanya untuk di manfaatkan lebih baik tidak usah membuat anak Yah! Aku dan Safira cukup tersiksa terlahir di keluarga yang seperti ini!" ucap Hendra.
Setelah melampiaskan semua amarahnya Hendra pergi dari rumah. Dia tidak peduli dengan teriakan Ayahnya yang memanggilnya dan memakinya juga.
"Dasar anak kurang ajar, jangan sampai kamu kembali ya!" ucap Mahendra dengan bentakan yang sangat keras.
Hendra membawa sepeda motornya pergi bersamanya, sejenak dia merasa tertekan hidup di keluarga yang seperti itu. Dia sudah lelah dengan kehidupannya sendiri dan sekarang bahkan orang yang dia sayangi masuk ke dalam penjara.
Tak terasa air mata Hendra yang tidak pernah menetes itu kini membasahi kedua pipinya.
"Ini semua pasti gara-gara pria itu. Ya benar, saat Safira menghilang dia berada bersama Safira. Dan sekarang Safira terkena masalah pasti di bawah pengaruh dia. Aku akan pergi ke sana sekarang juga," kata Hendra yang langsung menancap gasnya.
Sesampainya di kantor polisi, Hendra melapor ingin menemui tahanan yang bernama Fernando dan Safira.
Hendra menunggu mereka berdua di ruang tunggu. Hendra tentu tidak sabar untuk menghantam wajah brengs3k pria tersebut.
Beberapa menit kemudian, Safira datang lebih dulu dengan wajah sembabnya. Safira sangat malu untuk bertemu dengan Kakaknya tetapi dia juga tidak bisa menolaknya.
"Kak Hendra!" sapa Safira dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Dimana pria itu?" tanya Hendra dengan tatapan marah.
"Pria? maksudnya Fernando?" tanya Safira dengan raut wajah yang takut.
__ADS_1
Safira belum pernah melihat Hendra semarah itu bahkan wajahnya sampai memerah.
"Siapapun namanya, Kakak ingin bertemu dengannya!" kata Hendra kemudian.
Beberapa saat kemudian Fernando datang, Safira sangat ketakutan. Dia tahu Hendra pasti salah paham terhadap Fernando.
BUKK!
Hendra yang bangkit dari tempat duduknya segera menghajar wajah Fernando, bahkan belum sempat Fernando duduk di kursinya.
Polisi yang bertugas berjaga segera melerai pertengkaran itu.
"Ini kantor polisi Pak, harap jangan membuat keributan! jika ada masalah sampaikan baik-baik!" ucap Polisi tersebut.
"Kak duduk dulu Kak, jangan emosi seperti itu!" ucap Safira yang berusaha menenangkan Hendra.
"Bagaimana bisa saya tenang Pak, adik saya di jebak dalam rencana jahatnya dia sampai masuk penjara!" ucap Hendra sambil menunjuk Fernando.
"Tolong jaga etikanya Pak, kami tidak akan menangkap orang tanpa bukti!" ucap Polisi tersebut.
"Maaf Pak, saya akan menangani ini!" kata Safira kemudian sambil memberi kode kepada Hendra dan Fernando untuk duduk.
Mereka akhirnya duduk kembali, Safira masih berusaha menyuruh Kakaknya agar tetap tenang.
"Kak aku minta maaf sebelumnya aku salah. Aku tahu aku mengecewakan Kakak, tapi ini bukan kesalahan Fernando!" kata Safira dengan penuh penyesalannya.
"Kakak tidak percaya, ini pasti pengaruh dari pria itu. Kamu awalnya baik-baik saja di kampus, tapi saat kamu mulai bergaul kembali kamu justru langsung di kurung dalam penjara. Kamu kenapa tidak menuruti perintah Kakak? bukannya Kakak sudah larang kamu untuk bertemu dengan pria itu?" kata Hendra dengan nada tinggi.
"Kakak tenang dulu Kak, pelan dikit suaranya!" kata Safira.
"Aku minta maaf Kak, aku seharusnya tidak menyeret Safira dalam masalah ini! Tapi gimana lagi, aku sangat sayang dengan Safira namun di hancurkan oleh orang yang bernama Naila," kata Fernando.
"Tidak ada gunanya kamu minta maaf sekarang, Safira terjebak di sini karena kamu!" kata Hendra kepada Fernando.
"Safira, Kakak akan bantu mengeluarkan kamu dari penjara tapi Kakak beri kamu satu kesempatan lagi. Jangan bergaul dengan orang ini lagi, turuti semua perkataan Kakak!" kata Hendra sambil menunjuk Fernando
"Baik Kak!" sahut Safira.
__ADS_1
"Dan kamu, jangan harap dapat cepat bebas dari penjara. Kamu nikmati saja penderitaanmu di sini, ketika kamu keluar Safira sudah menikah dan kamu tidak bisa apa-apa!" kata Hendra.
Setelah berkata demikian Hendra pergi meninggalkan mereka berdua.