Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 47


__ADS_3

Tasya di bawa oleh Valen ke apartemen tempat tinggal Ranza. Di sana sudah ada Ranza yang sedang di ikat kunci di dalam kamar sejak Valen pergi.


Valen mendorong Tasya ke arah Ranza yang duduk di atas ranjang. Dan menatapnya dengan sinis, sehingga membuat keduanya ketakutan.


"Seonggok sampah memang patut untuk di kumpulkan. Aku tidak peduli apa yang akan kamu lakukan dengan wanita pelakor ini. Tapi yang pasti aku tidak akan menjadi istri dari lelaki yang tidak tahu diri sepertimu," ujar Valen kepada Ranza dan Tasya.


"Pelakor? aku bukan pelakor. Aku hanya bertemu tanpa sengaja dengannya," Tasya membela dirinya di depan Valen dan teman-temannya.


"Oh ya? benarkah itu Ranza?" tanya Valen dengan mendekatkan wajahnya kepada wajah Ranza.


"Ti-tidak! dia yang menggodaku terlebih dahulu," kata Ranza berbohong.


"Apakah kamu amnesia? jelas-jelas kita bertabrakan dan kamu bilang kamu tertarik denganku!"


"Cukup! aku tahu sekarang! Kalian tidak lebih dari binatang. Bahkan binatang masih lebih baik daripada kalian," kata Valen dengan wajah yang melotot.


"Aku akan menggugat cerai. 2 tahun kita menikah kamu justru mengkhianati pernikahan kita. Selama ini ternyata aku tidak lebih dari seorang majikan yang memelihara kucing yang tidak setia!" kata Valen lalu membalikkan badannya ingin pergi dari tempat tersebut.


Namun Tasya masih di selimuti dengan amarahnya. Dia tidak terima jika dirinya di bandingkan dengan seekor binatang.


Tasya menarik rambut Valen dari belakang hingga Valen merasakan sakit pada lehernya. Teman-temannya Valen dengan cepat membantu melepaskan tangan Tasya dari rambut Valen.


Namun tenaga Tasya cukup kuat, semakin teman-temannya Valen membantu Valen terlepas dari jambakan Tasya semakin kuat Tasya menarik. Valen merasakan rasa sakit pada kulit kepalanya.


Tidak tinggal diam, teman-temannya Valen bekerjasama untuk membantu Valen membalaskan dendamnya. Satu orang menarik rambut Tasya dan dua orang lainnya menarik tangan Tasya dari rambut Valen.


Mereka membuat suasana menjadi sangat heboh, teriakan-teriakan dari mereka sangat kencang. Terlebih lagi Tasya mencakar wajah orang yang menarik rambutnya dengan kuku panjangnya.


Setelah Valen terlepas dari jambakan Tasya, dia mengarahkan agar kedua temannya menahan tangan Tasya. Dengan ganasnya dia menampar kedua pipi Tasya.


"Dasar pelakor! sudah tidak tahu diri merasa paling suci pula!" kata Valen yang masih menyerang Tasya dengan tamparan yang sangat keras.


Kali ini Valen tidak bisa menahan amarahnya, dia tidak memiliki belas kasihan lagi terhadap Tasya karena dia sudah melukai salah satu temannya.


Sedangkan Ranza tidak berani untuk ikut campur dalam pertengkaran tersebut. Justru dia diam-diam keluar dari kamar tersebut di tengah kegaduhan. Untungnya Valen memerintahkan beberapa bodyguard-nya untuk berjaga di depan kamar terlebih dahulu. Jadi Ranza di tangkap dan di bawa kembali ke dalam kamar denhan kondisi luka di sudut bibirnya.


Ranza sempat melawan dua bodyguard yang berjaga sehingga dia menerima pukulan dari bodyguard tersebut.


"Kerja bagus! tinggalkan mereka sendirian di sini dan kunci kamarnya. Jangan berikan dia makan dalam satu minggu, aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan!" kata Valen menatap tajam ke arah Tasya dan Ranza.


Ranza maju ke hadapan Valen lalu memohon agar di lepaskan dari hukuman tersebut.


"Mengingat hubungan kita yang sudah menikah dua tahun, aku harap kamu jangan menyiksaku! Apa kamu tidak kasihan dengan aku yang telah menjadi suami mu selama dua tahun ini?" pinta Ranza sambil bersimpuh di depan kaki Valen.


"Oke, aku akan lepaskan kamu. Tapi ada satu pertanyaan yang perlu kamu jawab!" kata Valen kemudian.


"Apa itu? aku akan jawab sejujur-jujurnya," kata Ranza dengan wajah senang.


"Kapan tanggal pernikahan kita?" tanya Valen.


Valen sengaja memberikan pertanyaan tersebut karena dia yakin Ranza tidak akan mengingat hal tersebut. Meskipun pernikahannya belum lama, namun untuk pria yang tidak peduli dengan hubungannya tidak akan pernah mengingat tanggal pernikahannya.


"Emmm... ada pertanyaan lain gak? aku lupa soalnya," sahut Ranza dengan tidak tahu malunya.


"Dasar! begitu saja sudah lupa masih ingin memohon agar aku memaafkan kesalahanmu? kamu duluan yang tega denganku lalu atas dasar apa kamu melarang untuk tidak tega denganmu?"


"Kamu wanita kaya jangan terlalu sombong. Suamimu ini sangat mencintaimu, salah kamu sendiri kenapa selalu sibuk dengan perusahaanmu!" celetuk Tasya.


"Oh jadi gitu? kamu bahkan menceritakan itu semua?. Kamu benar-benar lelaki tidak tahu malu Ranza! kamu kira aku kerja untuk siapa hah? untuk kamu yang bersantai-santai di rumah Ranza. Kamu mikir dong!"


'Dasar wanita sialan, bukannya membantu justru menambah masalah bagiku,' batin Ranza kesal dengan Tasya.


"Bukan gitu sayang! dengerin penjelasanku dulu!"


"Jangan panggil aku sayang lagi! sayang yang telah kamu bagi dengan wanita j*lang lainnya sudah tidak layak bagiku!" kata Valen.


Valen mengajak teman-temannya untuk pergi meninggalkan Tasya dan Ranza.

__ADS_1


Namun Ranza tampak belum menyerah, dia masih saja menahan kaki Valen dengan posisi tubuhnya tengkurap di lantai.


"Lepasin!" kata Valen dengan amarah yang sudah memuncak.


Salah satu temannya yang bernama Viona menendang tangan Ranza dengan kasar.


"Lo jangan sesekali nyentuh sahabat gue! kalau sampai lo sentuh lagi, gue pastiin tangan lo ini akan hilang!" kata Viona dengan mata melotot tajam.


Viona satu-satunya teman Valen yang menguasai ilmu beladiri. Dia termasuk wanita tomboy yang kuat dan sigap untuk melindungi Valen.


Setelah mengatakan hal itu, Valen dan teman-temannya langsung mengunci Ranza dan Tasya di dalam kamar.


Ranza memegang pergelangan tangannya yang sakit setelah di tendang oleh wanita kejam yang bernama Viona.


"Ini semua gara-gara lo tahu gak!" ujar Ranza yang langsung menyalahkan Tasya.


"Kok aku sih? harusnya aku yang marah sama kamu. Gara-gara kamu aku jadi di permalukan sama istri kamu di kampus!" kata Tasya yang ikut ngegas.


Ranza tidak menjawab lagi, dia sudah cukup malas bertengkar dengan wanita. Terlebih lagi dia harus menerima kurungan selama seminggu tanpa makan dan minum.


Ranza melihat ke arah jendela namun tidak memungkinkan untuk kabur dari sana. Dengan ketinggian beberapa meter, Ranza tidak berani meski hanya melihatnya karena dia takut dengan ketinggian atau acrophobia.


"Temukan solusinya bagaimana kita bisa keluar dari sini! tidak mungkin kan kita menunggu sampai satu minggu!" ujar Ranza kepada Tasya.


"Apa kamu tidak memiliki seorang teman yang bisa datang ke sini menjemput kita?" tanya Tasya berharap lebih.


"Tapi apartemen ini milik pribadi, pasti Valen sudah menyiapkan penjaga untuk orang-orang masuk ke dalam sini!"


Tasya akhirnya terpaksa untuk memeras 0taknya untuk berfikir. Begitu Juga dengan Ranza. Dia memiliki sebuah ide untuk melapor kepada pihak berwajib, namun dia juga takut jika yang terjadi bahkan yang sebaliknya.


"Apa kita lapor polisi saja? lagipula ini sudah termasuk penculikan dan penyekapan!" ujar Tasya.


"Aku juga memiliki ide yang seperti itu, tapi orang yang berselingkuh juga bisa terancam di penjara. Bagaimana nanti kita yang di tangkap?"


"Aku punya ide!" kata Tasya membisikkan sebuah ide yang dia punya.


Di sisi lain, kampus sangat ramai dengan perbincangan berita tentang Tasya yang di seret oleh teman-temannya Valen dan beberapa orang lainnya.


Mereka sudah membuat nama baik Tasya yang baru saja mengundang rasa iba berubah menjadi rasa benci dan jijik. Bahkan mereka merasa menyesal karena telah membelanya saat dia bertengkar dengan Vania.


Sedangkan Vania justru sebaliknya. Dia merasa sangat senang karena dendamnya sudah terbalaskan.


'Kini tinggal menunggu pembalasan untuk Naila! aku tidak akan melepaskan dia begitu saja meskipun sudah mendapat ancaman dari Angkasa,' batin Vania.


Pulang dari kampus, terlihat Naila dan Erni sedang berjalan bareng. Erni bersiap untuk berangkat ke perusahaan meskipun masih repot dengan tugas kuliahnya. Sedangkan Naila masih menunggu Angkasa yang memiliki satu mata pelajaran lagi.


"Aku duluan ya, ada banyak pekerjaan soalnya!" kata Erni berpamitan kepada Naila.


"Hati-hati dan semangat ya! jangan lupa makan!" ucap Naila.


Erni pergi ke parkiran setelahnya, dia biasanya akan singgah pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Tetapi sekarang dia telah menjabat sebagai manager tentu pekerjaannya lebih banyak dari sebelumnya. Jadi Erni memutuskan untuk mengganti pakaiannya di toilet kampus untuk mempersingkat waktu.


Di sisi lain, Vania yang sudah keluar dari kelas melihat Naila yang sedang duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari beton. Dia menghampiri Naila ke sana.


"Naila!" panggil Vania saat dia sudah berada di belakang Naila.


Naila menolehkan kepalanya ke arah Vania dan berdiri menghadap ke arah Vania.


"Ada apa?" tanya Naila ketus.


"Aku minta maaf ya karena telah jahat sama kamu," ujar Vania.


"Ya, aku udah maafin kok. Lagipula untuk apa aku menyimpan dendam sama orang yang gak penting. Cuma menambah beban hidup saja," sahut Naila dengan tatapan yang dingin.


"Kamu kok gitu sih? kamu gak ikhlas ya maafin aku?" tanya Vania memancing rasa bersalahnya Naila.


Namun yang di dapat justru perkataan yang lebih menyakitkan dari yang sebelumnya.

__ADS_1


"Ikhlas? kalau di bilang ikhlas untuk melupakan kejadian sebelumnya sih sebenarnya enggak sama sekali ya! tapi aku tidak seperti kamu yang menyimpan dendam yang kejadiannya sudah lewat berbulan-bulan!" sindir Naila.


"Kamu...,"


"Maaf ya! sepertinya pacarku sudah selesai kelas. Lain kali saja kita bicaranya, kalau bisa tidak perlu bertemu kembali!" kata Naila memotong pembicaraan Vania lalu pergi meninggalkannya begitu saja.


Vania sangat kesal karena rencananya tidak sesuai yang dia harapkan.


"Awas saja kamu Naila! suatu saat aku pasti akan mendapat kesempatan untuk balas dendam denganmu!" ujar Vania sambil menatap tajam ke punggung Naila.


"Kamu lagi bicara apa sama dia?" tanya Angkasa saat dia melihat Vania bersama Naila berbicara.


"Tidak penting! yuk pergi!" ajak Naila dengan tersenyum manja.


Naila menggenggam lengan Angkasa dan pergi dengan mesra. Hari ini Angkasa menjanjikan Naila untuk melihatnya dia melukis. Namun Angkasa mengajaknya datang ke suatu tempat agar lebih fokus dan mendapatkan inspirasi. Padahal yang sebenarnya ada dalam pikiran Angkasa adalah agar Naila tidak tahu rumahnya.


Naila bersama Angkasa membeli peralatan terlebih dahulu. Dia singgah ke toko perlengkapan alat lukis di dekat kampus. Setelah selesai membeli mereka lalu pergi ke sebuah tempat yang sangat indah yaitu di taman patung dekat dengan tempat tinggal Angkasa.


Selain menyediakan tempat untuk melukis di sana juga bisa berfoto-foto. Mereka juga menyediakan tempat makan ataupun minum. Angkasa sangat yakin sekali jika Naila akan sangat senang dengan hal tersebut.


Sampai di lokasi, Naila turun dari mobil yang di kemudikan oleh Sopirnya. Sebelumnya dia meminta izin kepada ayahnya sehingga sopirnya ikut menemani mereka.


Naila dan Angkasa masuk ke dalam taman, dan mencari tempat yang cocok untuk mereka melukis.


"Kita ke sana yuk! sepertinya sejuk!" kata Naila sambil menunjuk ke arah pohon besar.


Angkasa pun menyetujuinya dan berjalan ke arah sana bersama Naila. Setelah berada ri bawah pohon besar, Angkasa mulai menyeting alat lukisnya mulai dari kanvas dan alat lainnya.


"Kamu mau lukis apa?" tanya Naila yang sudah mengambil sebuah kursi yang ada di tengah-tengah taman.


"Aku mau lukis kamu!" sahut Angkasa.


Naila duduk di samping Angkasa yang sedang merapikan tempat melukisnya. Meskipun agak ribet karena perlengkapan yang kurang tetapi Angkasa tetap bersabar demi pacar tercintanya.


"Buat yang bagus ya! aku mau bawa pulang ke rumah hasilnya," ujar Naila dengan semangat.


"Iya pasti bagus kok!" sahut Angkasa.


Angkasa mulai menggoreskan kuasnya perlahan-lahan. Dia sangat berkonsentrasi untuk melukis. Sedangkan Naila dia sesekali mengambil gambar atau video saat Angkasa sedang melukis.


'Tampannya bertambah 80% saat dia fokus mengerjakan sesuatu. Tidak menyangka kalau pria ini menjadi pacarku,' batin Naila dengan hati yang berdebar-debar.


"Kamu kenapa? kok melamun?" tanya Angkasa yang menoleh ke belakang tanpa di sadari oleh Naila.


"Enggak! aku cuma kagum sama kamu," sahut Naila dengan wajah yang memerah.


"Kenapa?" tanya Angkasa sambil melanjutkan untuk melukis.


"Tidak apa! kamu lanjut saja menulis. Aku akan mengambil beberapa foto mu!" kata Naila grogi.


Pandangan matanya tidak bisa lepas dari Angkasa, dia benar-benar mengagumi pria yang sedang duduk di depannya.


'Tangannya lihai banget! seperti sudah lama berada dalam bidang ini,' batin Naila yang melihat setiap gerakan tangan Angkasa.


"Angkasa, kamu kenapa tidak ambil jurusan seni saja?" tanya Naila secara tiba-tiba.


Angkasa menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah Naila.


"Untuk apa?" tanya Angkasa.


Naila kemudian duduk kembali di samping Angkasa, dia sangat tertarik dengan topik ini. Sekaligus untuk mengenal lebih banyak sikap pasangannya.


"Ya untuk meningkatkan keterampilan melukis kamu!" sahut Naila.


"Kata Ayah ku dulu, kita tidak perlu mempelajari hal yang sudah kita kuasai itu akan membuang waktu. Tapi sebaliknya, kita mengambil pekerjaan lainnya yang belum kita bisa. Dengan begitu ilmu yang kita punya tidak hanya berpatokan pada satu ilmu saja tetapi bercabang!"


"Sama seperti perusahaan! saat perusahaan kita sudah berkembang, kita tidak mungkin hanya berada di tempat itu saja kan? pasti kita akan membuat cabang baru untuk meningkatkan penghasilan!" sahut Angkasa.

__ADS_1


__ADS_2