Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 67


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Angkasa tak menggubris tunangannya. Dia tak menerima ataupun membalas pesan dari Angel. Terakhir mereka berkomunikasi saat Angel turun dari mobil Angkasa dengan air mata yang menetes.


Seorang Angel di perlakukan seperti itu tentu saja dia mencari Almira untuk mendapatkan pembelaan. Angel masih tidak ikhlas jika Angkasa menyukai wanita lain. Bagaimanapun caranya Angel ingin Angkasa hanya mencintai dirinya di dunia ini.


"Tante sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi Angel, Angkasa sudah tidak bisa di kontrol. Lagipula Tante merasa bersalah dengannya, kamu tolong mengerti ya!" ucap Almira pasrah.


"Tapi Tante, Angel masih sangat mencintai Angkasa. Tolong dong Tante bantu aku!" rengek Angel.


Namun Almira memberinya jawaban yang sama, dia tidak bisa membantu Angel lagi. Mendapat jawaban yang sangat tidak memuaskan, Angel pergi meninggalkan Almira dengan amarah. Almira hanya bisa menggelengkan kepalanya, diantara Angel dan Angkasa dia memiliki perasaan yang sama yaitu, perasaan yang bersalah.


"Salahku sebelum mereka bertunangan aku tidak mendiskusikannya dengan Angkasa!" ucap Almira sendirian.


Angel tengah memikirkan cara untuk mendapatkan hati Angkasa kembali. Karena menurutnya, tidak ada lagi orang yang bisa di andalkan olehnya termasuk Almira.


"Apa aku selidiki dari wanita itu dulu kali ya? bagaimanapun semua ini karena wanita itu!" pikir Angel sambil mengemudikan mobilnya.


Angel pun langsung menelepon ayahnya dan meminta satu orang untuk menemaninya di negara E. Tentu saja demi putri satu-satunya, permintaan tersebut dengan mudah di penuhi oleh sang ayah.


Keesokan harinya, Angel di datangi oleh seorang wanita. Wanita itu berkata jika dia adalah suruhan ayahnya. Dia bernama Rebecca, dengan penampilan seperti pria dan menguasai ilmu beladiri. Sangat cocok untuk Angel di jadikan sebagai pengawal sekaligus teman untuk menyelidiki Naila.


"Coba jelaskan, apa yang bisa kamu lakukan!" perintah Angel pada Rebecca ketika sudah masuk ke dalam apartemennya.


"Baik Nona! Saya jago dalam beladiri, bisa melakukan tugas sesuai dengan perintah Nona. Selain itu, saya jago untuk memecahkan misteri. Sudah berpengalaman memecahkan misteri selama bertahun-tahun. Menyelidiki identitas orang adalah pekerjaan kecil bagi saya!" sahut Rebecca dengan tegas.


"Bagus! kamu cukup banyak memiliki keahlian ya!" puji Angel.


"Iya Nona!" sahut Rebecca.


"Baik, kalau begitu tolong kamu selidiki wanita ini. Kalau sudah ada sedikit info langsung pulang dan beritahu saya. Bahkan jika tahu kontak dan status latar belakangnya segera infokan!"


"Siap Nona!" sahut Rebecca.


Rebecca menjalankan tugas pertamanya dari Angel, dia langsung pergi meninggalkan Angel.


Di sisi lain, Naila pergi ke mall untuk merefresh otaknya karena tugas-tugas yang numpuk. Dia di temani oleh Kakak sepupunya yaitu Shaga.


"Gimana? apa bebannya sudah berkurang?" tanya Shaga yang berjalan di samping Naila dengan membawa beberapa tas belanja.


"Sudah Kak, terimakasih ya!" ucap Naila tersenyum ke arah Shaga.


"Syukurlah, setelah ini kita makan dulu yuk!" ajak Shaga.


Naila menyetujui ajakan Shaga, bagaimanapun makan adalah hobinya. Mereka mencari sebuah restaurant yang menyediakan steak sapi, karena Naila ingin makan steak saat ini.


Setelah sampai di sana, Shaga menarikkan tempat duduk untuk Naila. Seperti sepasang kekasih yang romantis, namun Naila justru malu di perlakukan seperti itu. Beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka untuk memberikan menu.


Namun, tak di sangka pelayan tersebut adalah Tasya yang sedang bekerja di restaurant Ravin.


"Mmm, silahkan Kak menunya!" ucap Tasya denhan senyuman canggung.


"Kamu bukannya teman Vania ya?" tanya Naila yang mengingat wajah Tasya, namun tak ingat namanya.


"Iya!" sahut Tasya singkat.

__ADS_1


Naila tak banyak bertanya karena dirinya tidak akrab dengannya. Lagipula Tasya pernah melakukan tindakan jahat kepadanya, jadi Naila tak tertarik untuk mengenal Tasya lebih jauh lagi.


"Baik, di tunggu pesanannya ya!" ucap Tasya ketika Naila dan Shaga sudah selesai memilih menu.


"Itu teman kamu?" tanya Shaga setelah Tasya pergi dari meja mereka.


"Gak juga sih, cuma satu kampus aja!" ucap Naila.


Shaga hanya mengangguk saja, dia tidak tertarik untuk membahas wanita lain lebih panjang lagi. Naila pun sama, dia tak ingin terlibat dalam hal apapun dengan Tasya. Karena terakhir dia mendengar informasi tentang Tasya adalah saat Tasya di seret oleh beberapa wanita.


Beberapa hari lalu juga Naila sempat membaca berita tentang restaurant ini yang lagi viral dengan pengusiran dua wanita. Dan dia mengenal dua wanita itu yang adalah Vania dan Valen. Namun, tak di sangka saja jika Vania akan bersikap seperti itu dengan Tasya.


Padahal, berdasarkan informasi yang di berikan oleh Angkasa, Vania dan Tasya dulunya bersahabat.


'Sudahlah jangan di pikirkan lagi!' batin Naila.


Makanan telah di hidangkan di atas meja, Naila pun mulai menyantapnya dengan lahap bersama Shaga.


"Kakak tahu gak, restaurant ini sempat viral loh di sosmed!" ucap Naila.


"Oh ya? Viral kenapa?" tanya Shaga yang tak pernah update dengan informasi-informasi yang seperti ini.


"Karena pemilik restaurant ini mem-blacklist dua orang wanita. Awalnya wanita itu duluan yang mengeluh di sosmednya, namun di balas oleh pemilik restaurant ini dengan mengupload rekaman CCTV saat wanita itu menindas karyawannya. Dengar-dengar sekarang pemilik restauran ini banyak menuai pujian. Dan restaurannya juga semakin ramai!" jelas Naila sambil memakan steak nya.


"Pantas saja baru masuk semua meja hampir terisi penuh. Untung saja kita mendapatkan satu meja kosong," ucap Shaga.


Sambil menyantap makanannya, mata Naila menyapu seluruh ruangan yang ada pada restaurant tersebut. Hingga lirikan matanya terhenti pada seorang pria yang dia kenal yaitu Angkasa.


Angkasa tampak duduk dengan seorang wanita cantik berkulit putih dan anggun. Mereka tampak asik mengobrol sambil menikmati makanan yang mereka pesan.


Lamunannya buyar ketika Naila merasakan sakit pada perutnya. Dia pun berpamitan kepada kakak sepupunya untuk pergi ke toilet.


Sampai di toilet, Naila merasakan tanda-tanda bahwa dia akan datang bulan. Saat di cek, memang benar adanya. Bahkan sudah ada bercak darah di celananya.


'Aduh, gimana nih! mana aku pakai celana putih!' batin Naila ketakutan.


Naila mencoba untuk mengelapnya dengan tisu toilet dan di basahi dengan air, syukurnya bercak merah tersebut memudar. Naila pun buru-buru keluar dari toilet agar tidak di ketahui oleh banyak orang. Dia menutupi p@ntatnya dengan tas selempang yang dia bawa.


'Untung ada tas ini, jadi aman buat nutupin!' batin Naila menghela nafas lega.


Baru saja keluar dari toilet, Naila tak sengaja menabrak seorang pria. Dia langsung meminta maaf sebelum melihat wajah pria tersebut sambil terus menutupi bercak merah di celananya dengan tas.


"Kamu kenapa Nai?" tanya pria tersebut.


Saat di lihat, ternyata itu adalah Angkasa. Angkasa memperhatikan perilaku Naila yang tak biasa, dia mencoba melihat ke belakang Naila namun Naila ikut memutar badannya dan bertukar posisi dengan Angkasa.


"Aku gak apa-apa, aku pergi dulu!" ucap Naila.


Angkasa berhasil menarik Tas yang menutupi bagian belakang Naila dan Naila pun jatuh ke pelukan Angkasa dengan tubuhnya yang membelakangi Angkasa.


"Angkasa kamu apa-apaan sih?" ucap Naila kesal.


"Nai, aku rindu kamu!" ucap Angkasa sambil memeluk Naila dari belakang.

__ADS_1


'Baru juga tadi kencan dengan wanita lain, sekarang bisa-bisanya dia bilang rindu denganku!' batin Naila kesal.


"Nai, kamu kenapa? kok diam?" tanya Angkasa sambil melepas pelukannya.


Angkasa melihat ada noda merah di celana Naila, dia mengerti apa yang sedang terjadi. Angkasa membuka jas hitam yang di pakainya dan melingkarkannya di pinggang Naila. Dengan begitu, tidak nampak lagi bercak merah yang ada pada celana Naila.


"Pakai saja dulu, kamu kembaliin kapan-kapan!" ujar Angkasa.


"Ma-makasih!" ucap Naila malu.


"Aku antar pulang ya?" tawar Angkasa.


Namun Naila menolak dan mengatakan jika dia datang ke sini bersama sepupunya.


"Cewek atau cowok?" tanya Angkasa posesif.


"Bukan urusanmu!" sahut Naila ketus.


'Jelas-jelas tidak ada hubungan apa-apa lagi, apa maksudnya dia bertanya seperti itu?' kata Naila dalam hatinya.


"Ya sudah! aku tidak akan membuatmu emosi lagi. Katanya kalau wanita sedang datang bulan gampang marah dan mengakibatkan sakit pada perut. Kamu pulang dan istirahat ya, jangan lupa minum air hangat!" ucap Angkasa lalu mencium kening Naila dengan lembut.


Saat Angkasa sudah pergi, Naila mengusap-usap bekas ciuman Angkasa di keningnya. Naila merasa j!jik di cium olehnya, terlebih lagi saat melihat Angkasa dengan wanita lain.


Naila kembali menemui Shaga dan mengajak Shaga pulang.


"Kok cepat banget Nai? kenapa?" tanya Shaga yang merasa ada hal aneh pada Naila.


Padahal makanannya Naila belum habis, bagi Shaga itu sangat aneh karena biasanya Naila selalu menghabiskan makanannya.


"Aku lagi datang bulan Kak!" ucap Naila.


"Owh ya udah kalau begitu!" kata Shaga kemudian.


Shaga tak sadar ada yang aneh dengan Naila, jas hitam yang melingkar di pinggang Naila. Shaga mengambil nota setelah melakukan transaksi dan kembali menghampiri Naila yang menunggu di meja.


Sebelum pergi, Naila melirik ke arah Angkasa yang masih berdiskusi dengan wanita tersebut. Naila sangat kesal ketika melihatnya, tetapi dia juga berterimakasih karena telah meminjamkan jasnya.


"Tuan Yuda, kalau boleh tahu jas yang Anda gunakan kemana?" tanya wanita tersebut yang merupakan client Angkasa.


"Apakah ini penting untuk di bahas?" tanya Angkasa dengan raut wajah dingin.


"Ti-tidak Tuan!" ucap wanita itu gugup.


'Jelas-jelas tadi begitu ramah senyum, kenapa sekarang balik dari toilet jadi dingin lagi?' pikir wanita tersebut.


Karena tidak ada yang akan di bahas lagi, Angkasa mengakhiri pertemuannya dengan wanita itu. Angkasa membayar makanannya setelah itu meninggalkan wanita tersebut sendirian di meja.


'Tadi sepertinya Naila cemburu saat aku bersama wanita lain. Itu pertanda bagus, karena artinya Naila masih menyimpan perasaan denganku,' batin Angkasa.


Angkasa ternyata sudah tahu sejak Naila datang ke restaurant tersebut. Detik itu juga, Angkasa berpura-pura bicara asik sambil senyum-senyum kepada kliennya tadi. Namun diam-diam juga Angkasa memperhatikan Naila, dia pikir pria yang di ajak Naila adalah pacarnya namun ternyata sepupunya.


Akan tetapi, Angkasa juga tidak tenang setelah tahu pria tersebut adalah sepupunya. Karena Angkasa masih takut jika Naila menyukai sepupunya sendiri.

__ADS_1


'Kamu tidak akan bisa lari dari aku Naila, jadi jangan berfikir untuk kabur!' batin Angkasa.


Angkasa memutuskan untuk kembali ke kantornya. Setelah pertengkaran dengan ibunya, Angkasa sangat jarang pulang ke rumah. Amarahnya masih tersimpan di dalam hatinya namun tak tega jika dia lampiaskan semuanya kepada ibunya. Jadi, Angkasa hanya bisa memendam dan mencoba untuk melupakannya.


__ADS_2