
Keesokan harinya, Naila kembali mengajak Angkasa untuk jalan-jalan. Kali ini mereka hendak pergi ke mall untuk berbelanja.
"Aku minta maaf Naila, tapi hari ini aku sibuk!. Kita bisa pergi lain kali ya Nai," ucap Angkasa merasa bersalah.
"Baiklah!" sahut Naila dengan wajah lesu.
Hari ke tiga Naila kembali untuk mengajak Angkasa pergi menikmati liburan yang panjang ini. Naila ingin bersenang-senang juga dengan Angkasa dan Kelvin.
"Aku sibuk Nai, harus pergi ke perusahaan ayahnya Kelvin," ujar Angkasa.
"Baiklah, Baiklah!"
Naila masih bisa bersabar menghadapi kesibukan Angkasa di hari libur.
Hari keempat, Naila kembali mengajak Angkasa kali ini Naila kembali makan di restaurant.
"Nai, aku benar-benar minta maaf. Lain kali aku akan tebus semua ajakan kamu," kata Angkasa memelas.
"Sudahlah! lain kali gak akan ajak kamu lagi!" ucap Naila marah.
'Tuan Yuda begitu sibuk akhir-akhir ini. kesana kemari untuk mengurus kerjasama dengan perusahaan. Tapi jika terus seperti ini takutnya...,'
"Kelvin, hubungi semua mitra kerja untuk datang hari ini di restaurant yang sama pada waktu yang berbeda. Jika ada yang berhalangan bilang kepada mereka kerjasama di batalkan!" ucap Angkasa kepada asistennya.
Kelvin dengan cepat menjalankan perintahnya, dia tahu Tuannya tidak suka menunggu terlalu lama.
15 menit kemudian...
"Tuan sudah saya hubungi semuanya, namun satu mitra kita yang tidak bisa datang. Dan itu adalah mitra yang memberikan keuntungan paling banyak," lapor Kelvin kepada Angkasa.
"Abaikan! sekarang kita berangkat di lokasi yang kita tuju!" kata Angkasa.
Mereka pun akhirnya berangkat tanpa menunda waktu lagi. Angkasa ingin semuanya berakhir di sini, ini adalah liburan waktu paling berharga untuk mengajak Naila bersenang-senang.
__ADS_1
Di sisi lain Naila tampak masih marah dengan penolakan Angkasa yang berkali-kali. Selama perjalanan Naila selalu mengeluhkan sikap Angkasa.
"Naila, apa jangan-jangan kamu suka sama Angkasa?" tebak Erni.
Naila bengong sekejap lalu kembali tersadar.
"Mana mungkin aku suka dengan Angkasa. Aku sadar diri juga Er, dia pria yang paling tampan di kampus dan memiliki banyak penggemar. Tidak bisa di bandingkan dengan aku," ucap Naila merendah diri.
"Mencintai bukan soal cocok atau tidaknya dan perasaan suka tidak bisa kamu mengaturnya sendiri, dia datang secara tiba-tiba tanpa kamu sadari. Jika kamu tidak suka dengan Angkasa, mungkin kamu tidak akan mengomel di sepanjang jalan," ucap Erni.
"Apakah itu terlihat jelas bagimu Erni?"
Erni menjawabnya dengan anggukan kepala.
Naila kembali bertanya dengan perasaan yang canggung. Selama ini Naila berusaha menutup-nutupi dari Erni bahwa dia menyukai Angkasa. Namun tak di sangka hanya lewat ocehannya dari beberapa hari yang lalu dia ketahuan oleh Erni.
"Naila, jika kamu memang suka dengan Angkasa akui saja. Mungkin Angkasa juga suka denganmu," kata Erni memberikan saran kepada sahabatnya.
"Naila sekarang sudah zaman apa, cewek ataupun cowok yang ngaku duluan tidak menjadi masalah selama mereka sama-sama single atau tidak memiliki pasangan!" kata Erni yang tampak geram dengan perilaku Naila.
"Dia tidak mungkin suka denganku Er, buktinya beberapa kali dia menolak untuk pergi denganku," kata Naila yang masih mengingat semua yang di lakukan oleh Angkasa terhadapnya.
Baginya Angkasa terlalu sempurna untuk dirinya, Naila hanya ingin menjadi wanita lainnya. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai idola agar tidak terlalu sakit hati.
"Kamu selalu mencari alasan untuk dirimu sendiri agar sadar diri. Tapi kamu tidak melihat sisi baiknya seperti saat Angkasa mencoba mendekatimu. Yang awalnya menjadi musuh kini bisa menjadi sahabat bukan?" Erni selalu berusaha untuk meyakinkan hati Naila.
Erni tahu, selama dua bulan ini Angkasa memperlakukan Naila seperti wanita istimewa di hatinya. Cara Angkasa berbicara ataupun dia melakukan kesalahan dia segera meminta maaf. Berdasarkan rumor yang ada, Angkasa sangat cuek dengan wanita. Walaupun Angkasa tidak dingin terhadapnya itu tidak lebih karena Erni sahabatnya Naila.
"Sudahlah Er, jangan bahas lagi. Itu membuatku lapar," kata Naila menyerah dengan keadaan perutnya yang sudah mulai berbunyi.
"Lalu bagaimana dengan Angkasa?" tanya Erni.
"Biarkan saja sampai dia mengakuinya lebih dulu. Mungkin jika ini hanya perasaanku, aku masih bisa menjadi penggemarnya sampai aku bosan!" ucap Naila.
__ADS_1
"Iya, iya Naila. Asal kamu bahagia saja!" ucap Erni.
Erni dan Naila pergi ke sebuah restaurant, namun saat berada di dalam restaurant tersebut seorang pria yang sangat mirip dengan Angkasa membuat Erni terkejut.
"Itu bukankah Angkasa?" tanya Erni kepada Naila.
Naila yang sudah tahu identitas dari orang yang memakai topeng mata tersebut bersikap dengan tenang.
"Aku awalnya juga mikir seperti itu. Kamu tahu? dia Tuan Yuda yang datang menyelamatkanku waktu aku hilang," jelas Naila.
"Di-dia Tuan Yuda? sungguh mirip sekali dengan Angkasa!" kata Erni kagum melihat Yuda yang sedang duduk bersama seseorang.
"Kamu akan tahu dia Yuda atau Angkasa setelah mendengar suaranya. Mereka memiliki wajah yang sama namun suaranya sangat berbeda," kata Naila.
"Mereka terlihat sangat mirip, apa mungkin mereka kembar? Dan siapa wanita itu?" tanya Erni kepada Naila.
"Kamu terlalu banyak pertanyaan membuat perutku semakin lapar saja!" kata Naila yang sudah tidak sabar ingin melahap semua menu yang ada di restaurant tersebut.
Naila dan Erni duduk di meja yang paling belakang dekat dengan jendela. Hanya itu meja yang tersisa, restauran nya terlalu rame dan Naila pikir itu adalah makanan yang enak.
Di sisi lain Angkasa sedang menyamar menjadi Tuan Yuda. Dia sudah menyelesaikan perbincangan kerjasama sekitar 4-5 orang. Namun itu belum selesai, pembahasan kerja sama yang selalu di undur membuat Angkasa harus menangani semua hari ini.
"Kelvin kemana ya, sisa berapa orang lagi kira-kira?" tanya Angkasa pada dirinya sendiri.
Angkasa tak sengaja melihat ke sekeliling restaurant dan menemukan Erni dan Naila duduk paling belakang.
"Halo Kelvin, kamu tidak perlu datang ke sini lagi. Kamu tunggu di tempat lain yang tidak jauh dari restaurant ini, tapi jangan sampai Naila dan Erni melihatmu di sini. Karena mereka juga makan di tempat yang sama," perintah Angkasa kepada asistennya.
'Untung saja aku melihat mereka, jika sampai ketahuan gagal sudah rencananya. Aku tidak mau identitasku terungkap sebelum menjadi pacar Naila,' batin Angkasa.
Angkasa masih memiliki beberapa menit waktu untuk menunggu kliennya. Dia berfikir itu sangat membosankan sehingga dia memilih untuk menghubungi Naila secara online.
"Sepertinya Naila masih marah denganku," gumam Angkasa ketika pesannya tidak di balas oleh Naila dalam waktu 5 detik.
__ADS_1