
Beberapa bulan kemudian perusahaan Peter semakin maju. Naila telah berhasil membuktikan kepada Angkasa sekaligus Peter, bahwa tanpa Angkasa juga perusahaan bisa maju seperti sekarang.
Fernando dan Rebecca telah mendapat hukumannya masing-masing. Angkasa telah menyelidikinya sampai tuntas, sedangkan Angel telah di kurung di tempat Fernando dan Rebecca di kurung.
Almira yang melihat hal itu memohon kepada sang anak untuk melepaskan Angel dengan syarat dia akan merestui hubungan Angkasa dan Naila.
Mendengar pernyataan tersebut, Angkasa memilih untuk melepaskan Angel. Tapi Angel akan di kirim kembali ke luar negeri. Angkasa tidak ingin Angel kembali mengganggu Naila di negaranya sendiri.
Hari ini, Angkasa berinisiatif untuk mencari ke perusahaan Naila. Dengan bunga mawar berwarna merah di tangannya, dia melangkah ke pintu perusahaan.
"Selamat siang Tuan Yuda, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu karyawan di perusahaan Peter.
"Saya mencari Naila, tolong panggilkan!" ucap Angkasa.
"Baik, mohon di tunggu sebentar ya Tuan!" ucap karyawan tersebut.
Sambil menunggu, Angkasa merapikan pakaiannya tak lupa dengan rambut yang sudah dia tata dengan sangat rapi. Beberapa menit kemudian, karyawan tersebut datang kembali dan melaporkan bahwa Naila tak ingin bertemu dengannya.
Angkasa penuh kecewa mendengar hal itu, namun dia juga tidak gampang menyerah. Angkasa menitipkan bunga yang di bawanya kepada karyawan tersebut untuk di berikan kepada Naila.
"Katakan dengannya, kalau saya akan datang ke sini setiap hari mengirim bunga yang sama. Hingga Naila mau bertemu dengan saya!" ucap Angkasa kepada Karyawan tersebut.
"Baik Tuan!" sahutnya.
Angkasa pun pergi dengan perasaan yang hampa. Semakin hari dia merasa kalau Naila semakin menarik dan bahkan tidak murahan seperti wanita-wanita lainnya.
TOK! TOK! TOK!
Suara pintu terketuk dari ruangan Peter, Peter menyuruhnya untuk masuk langsung. Ternyata itu adalah karyawan yang tadi di titipkan bunga oleh Angkasa.
"Tuan, saya izin bicara dengan Nona Naila!" ucap Karyawan tersebut.
Peter hanya mengangguk dan juga bingung kenapa karyawan tersebut membawa seikat bunga yang mewah.
"Nona, ini adalah pria yang dititipkan oleh Tuan Yuda. Beliau juga berpesan kalau dia akan datang kemari setiap hari jika Nona tidak bersedia menemuinya," kata Karyawan tersebut menyampaikan pesan Angkasa.
"Buang saja bunganya!" ucap Naila singkat.
"Ta-tapi...,"
__ADS_1
"Sini bawa mawarnya!" perintah Peter pada karyawan tersebut.
Karyawan tersebut menyerahkan bunga yang dititipkan oleh Angkasa dan langsung izin mengundurkan diri.
"Ayah, kenapa Ayah menerima bunga itu?" tanya Naila dengan kesal.
"Ini harganya mahal loh Nai, kamu bersikap seperti itu pada Tuan Yuda tidak baik," ucap Peter menasehati anaknya.
"Ya udah Ayah saja yang simpan, Naila gak mau simpan!" ucap Naila yang masih dengan wajah yang cemberut.
Peter menghampiri Naila ke meja kerjanya yang sudah dia sediakan khusus untuk Naila.
"Kamu ada masalah apa sih Nai sama Tuan Yuda? kenapa sepertinya di antara kalian ada yang menyimpan dendam?" tanya Peter mendekati Naila.
"Gak ada Ayah!" ucap Naila berbohong.
"Kamu gak bisa membohongi ayah. Sekarang Ayah tanya, berapa umur kamu sekarang?"
"21 tahun," sahut Naila.
"Kamu tahu sendiri itu. Selama itu kamu tinggal dengan Ayah bagaimana mungkin Ayah tidak tahu kapan kamu berkata jujur dan kapan kamu berkata bohong,"
'Memalukan aku di bodohi oleh dua pria itu,' kata hati Naila.
"Ayah akan tunggu sampai kamu bersedia bercerita dengan Ayah!" ucap Peter sambil mengelus rambut anaknya.
..._____🌺🌺🌺🌺🌺_____...
Di sisi lain, Ruby telah berkumpul kembali dengan Hendra. Hendra melakukan tes DNA secara diam-diam kepada orang tuanya dengan bantuan Ruby. Dan dari hasil tes tersebut, Hendra merupakan anak kandung dari Jayanti.
"Akhirnya kita bisa kembali ke negara Y. Aku sangat senang Kak," ucap Ruby.
"Iya, Kakak juga senang!" kata Hendra dengan suasana hati yang masih canggung.
Hendra berbulan-bulan tinggal dengan Alice dan Darrel. Sekarang dia memiliki keluarga lain lagi dan sang adik, Hendra belum terbiasa dengan hal itu.
Namun, Hendra juga tidak sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Hendra justru merasakan kehangatan dalam keluarga yang dia anggap sebagai keluarga baru.
"Kakak sama Ibu tidak sempat datang saat pernikahanku dengan Ruby. Bagaimana jika kita rayakan sesekali setelah sampai di negara Y?" usul Michael.
__ADS_1
"Setuju Mas!" sahut Ruby dengan semangat.
"Ibu ngikut kalian saja," sahut Jayanti.
Sedangkan Hendra juga terserah pada mereka. Kesepakatan pun di dapatkan, mereka akan menyebarkan undangan perayaan tersebut setelah sampai di negara Y.
"Selain untuk merayakan pernikahan kita, kita juga bisa merayakan berkumpulnya keluarga kita Ruby!" ucap Michael.
"Iya Mas, aku sangat senang karena Ibu dan Kakak ku telah kembali di sisiku!".
"Baiklah, kamu sudah lelah seharian ini. Lebih baik beristirahatlah, Ibu sama Kakak juga istirahat ya!" ucap Michael.
Michael yang duduk di sofa bangkit dari tempat duduknya dan pamit untuk keluar sebentar membeli bahan makanan untuk di masak malam harinya. Besok, Michael sudah harus berangkat bersama Ruby dan keluarganya. Jadi sekalian Michael membeli segala perlengkapan yang di perlukan.
"Beruntung sekali kamu Ruby, mungkin ini adalah karma baik yang kamu tanam pada Ayahmu dulu," ucap Jayanti merasa terharu dengan nasib yang di dapat oleh anaknya.
"Memang Ayah kenapa Bu?" tanya Hendra yang tak ingat sedikitpun masa lalunya.
"Dulu Ayah sering pukul Aku dan setelah itu Kakak selalu mengobati luka-luka aku. Di keluarga itu hanya Ibu dan Kakak yang baik padaku. Oh ya Kak, sebenarnya kita masih memiliki satu saudara lagi, namanya Kak Ani. Tapi aku dan Ibu tidak tahu dia dimana," kata Ruby menjelaskan kepada Hendra.
Meskipun Hendra tak dapat mengingatnya itu adalah hal yang cukup bagus bagi Jayanti. Karena terakhir kali Hendra pergi dari rumah, Hendra menyalahkan dirinya. Kali ini Jayanti berjanji pada dirinya sendiri akan melindungi anak-anaknya dan menebus semua kesalahannya.
Jayanti juga berjanji hal berharga yang dia punya akan di berikan pada anak-anaknya.
"Lalu kenapa kamu tidak mencarinya? kenapa hanya mencari kakak saja?" tanya Hendra bingung.
"Karena dia seperti Ayah. Dulu Kakak juga membenci dia karena sikapnya yang angkuh dan tak peduli denganku. Aku pun sama, tapi sekarang Kakak tidak ingat hal apapun itu lebih baik. Setidaknya Kakak tidak mengingat hal yang menyakitkan seperti itu lagi," kata Ruby.
"Sudah, sudah! kita baru saja berkumpul jangan membahas hal yang menyedihkan seperti itu. Bagaimana kalau Hendra bercerita saat pertama kali bertemu dengan ibu angkat Hendra?" ucap Jayanti mengubah suasana sedih itu.
Hendra bersedia menceritakan semuanya, mulai dari dia di bawa ke rumah sakit hingga dia tersadar. Hendra mendapat banyak fasilitas saat tinggal bersama Alice. Hendra tak kekurangan barang-barang mewah saat tinggal di sana.
"Tapi entah kenapa terasa hampa saat aku tinggal di sana. Sangat berbeda saat aku bertemu dengan kalian. Rasanya sangat hangat dan seperti sudah lama bertemu," ucap Hendra.
"Itu karena kamu tidak memiliki ikatan darah dengan mereka, sedangkan dengan kami kamu memilikinya. Itu sebabnya kamu akan merasa lebih nyaman untuk tinggal bersama kami," ucap Jayanti tersenyum.
"Kak, kamu tinggal di sana tanpa kekurangan hal apapun. Apakah kakak menyesal dengan keputusan ini?" tanya Ruby yang tampak khawatir dengan hal itu.
"Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga aku tidak menginginkan hartanya, aku hanya menginginkan sebuah keluarga yang hangat," ucap Hendra.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, aku menjadi sedikit lebih tenang sekarang," ucap Ruby menghela nafas lega.