
Sudah tiga hari Rosa menjalani tugas yang diberikan Ricky. Sebenarnya Rosa tidak merasa berat atau terbebani dengan tugas itu. Karena apa.....alasan pertama, Rosa sudah terlatih dengan tugas bersih-bersih. Dulu dikeluarganya memang dia lah yang kebagian tugas membersihkan rumah.
Alasan kedua, Rosa memang tidak seberapa suka berhadapan dengan orang yang belum dia kenal. Rosa termasuk gadis tertutup dikeluarganya. Jadi.....selama apapun hukuman ini, Rosa tak kan merasa tersiksa ataupun terbebani.
"Kak.....aku bantu ya??" kata Fatma saat melihat aku belum selesai membersihkan dapur.
"ga usah fat!" kata Rosa
"Selama tuan muda itu belum datang, biar aku bantu menyelesaikan tugas kakak" ucap Fatma lagi.
"Jangan fat .... aku tidak mau nanti kamu terkena imbas nya" kata Rosa lagi.
"Tapi kak...." protes Fatma.
"Sudahlah.....lanjutkan tugasmu. Aku tak mau ambil resiko. percayalah, aku tidak merasa terbebani kok.....aku sudah terbiasa melakukan tugas ini" ucap rosa menyakinkan Fatma sambil memeluk pundak fatma.
Akhirnya Fatma berlalu dari hadapan Rosa, walaupun setengah menggerutu tentunya. Rosa juga melanjutkan tugasnya.
Akhirnya dapur sudah bersih, tinggal membersihkan bagian depan.....' batin Rosa.
Segera Rosa mengambil timba dan juga alat pel di kamar mandi. Setelah menuang cairan pembersih lantai, Rosa bergegas menuju depan .
Saking semangatnya bersih-bersih, Rosa tidak menyadari ada seorang laki-laki yang sedang duduk sendiri di tempat yang biasanya ia duduki. Sendiri sambil menatap Rosa yang sedang mengepel lantai.
"Aaaaahhhh.......maaf...maaf.....saya tidak sengaja" kata Rosa
Tanpa sadar, alat pel yang dipegang Rosa mengenai sepatu laki-laki itu, sehingga Rosa terkejut dan segera meminta maaf.
"Apa kamu mengepel sambil tidur??? sampai kamu tidak lihat ada kaki disini!" kata Ricky tegas.
Untung suasana cafe masih senggang, hanya ada 3 orang disana.
__ADS_1
" Maaf.....sungguh aku tidak sengaja" kata Rossa lagi.
"Sepatu ku jadi kotor gara-gara kamu.....kamu mau mengganti sepatuku??" tegas Ricky yang membuat Rosa semakin takut.
Bukan takut dengan Ricky, melainkan dia takut membayangkan berapa harga sepatu yang dipakai laki-laki itu.
"Maaf......aku ga punya cukup uang untuk mengganti. Bagaimana kalau sepatumu aku cuci??" ucap Rosa bernegoisasi.
"Kalau seandainya tambah rusak karena kamu cuci, gimana??" tanya Ricky.
Rosa tak sanggup mengeluarkan kata lagi dari bibirnya. Yang dikatakan laki-laki itu memang benar, jika tambah rusak karena perbuatanku apa jadinya nanti.
"Lalu aku harus bagaimana???" kata rosa pasrah.
Suasana hening....Ricky hanya diam sambil menatap pandangannya kearah jalan raya seraya berpikir.
" Buatkan aku minum seperti biasanya......aku haus" katanya tiba- tiba.
Tanpa menunggu lama Rosa kembali dengan membawa minuman yang dipesan Ricky tadi.
" Silahkan...." kata Rosa sambil meletakkan minuman itu dimeja.
Ricky masih terdiam, tetap pada posisinya tanpa menoleh sedikit pun. Entah apa yang dipikir laki-laki itu.
Jika saja dia mempunyai sifat seperti Samuel, dia pasti mampu punya 10 pacar. wajahnya lebih tampan dibanding Samuel tetapi jika melihat lebih seksama....dia seperti balok es yang abadi. pikir Rosa sambil menatap laki-laki didepannya
Rosa bingung apa yang harus dia perbuat. Ingin pergi dari sana tapi takut salah. Kalau tetap disitu nanti dikira memata-matai. Rosa tetap terdiam ditempatnya berdiri tanpa berkata sepatah pun.
"Duduklah...." kata Ricky tanpa menoleh.
"Apa??" Rosa terkejut dan memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
__ADS_1
" Apa kamu tuli??" kata Ricky balik bertanya.
Rosa segera duduk di kursi yang bersebrangan dengan Ricky. Untung saja Rosa sudah mengembalikan alat pelnya dibelakang.
Entah lah apa yang harus diperbuat. Rosa tetap diam seperti halnya Ricky. Rosa mencoba mengikuti arah pandangan laki-laki dihadapannya itu. Sepertinya dia telah menatap seorang ibu yang menuntun seorang anak kecil sambil melihat mainan yang terpampang di toko mainan itu.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Ricky mengalihkan pandangannya ke arah Rosa sambil mengangkat minuman nya. Setelah minuman itu habis, Ricky meletakkan kembali keatas meja.
Rosa masih tetap terdiam di tempat duduknya. Tanpa bicara, tanpa bertanya apa yang diinginkan laki-laki itu. Seharusnya ada banyak pertanyaan yang ada di kepala Rosa tapi tidak ada keberanian untuk mengucapkannya.
Tiba-tiba Ricky berdiri dari tempat duduknya. Tanpa sepatah kata pun segera berlalu dari hadapan Rosa. Rosa bingung melihat tingkah laku laki-laki itu.
Lima menit kemudian laki-laki itu sudah menghilang dengan mengendarai mobilnya yang berwarna hitam mengkilat.
Hhuuuhhh......sebenarnya apa yang dipikirkan laki-laki itu. Teramat beratkah beban yang ada dipikiran dan pundaknya sehingga dia harus seperti itu......jika saja Tuhan berkehendak, aku ikhlas jika harus berbagi beban denganmu. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi......sadar Rosa.....kamu itu siapa.....' kata hati Rosa .
Rosa segera melanjutkan pekerjaannya kembali. Untung saja rekan kerja nya bukan termasuk golongan orang kepo jadi Rosa tidak perlu susah-susah untuk menjelaskan.
Waktu semakin berlalu. Beberapa orang mulai memasuki cafe. Semua berjalan seperti biasanya. Hanya saja Rosa masih dipenuhi tanda tanya yang sangat besar terhadap laki-laki itu. Biarlah semua berlalu dengan apa adanya. Setidaknya Rosa bernafas lega karena tidak diminta mengganti sepatu tadi.
.
.
.
.
**Happy reading ❤️
jangan lupa like dan komen ya.....biar lebih semangat untuk menulis lagi**.
__ADS_1