
Sekitar kurang lebih setengah jam terlewati dengan menyusuri jalan kota yang tentunya aku tak pernah mengenal jalan ini. Begitu banyaknya aneka kendaraan yang berlalu lalang dijalan raya, bunyi klakson yang bersahut-sahutan seakan-akan seperti perayaan malam tahun baru di kota kelahiran ku.
Asap kendaraan bertebaran menambah semakin sumpeknya suasana kota ini. Meskipun tempat tinggalku dulu juga termasuk kota tetapi tak pernah sampai sepadat ini. Seandainya aku diturunkan disini mungkin aku tak kan tahu arah untuk pulang kembali.
Baru kali ini aku menyadari kebodohanku karena mempercayai tetanggaku untuk berangkat ke kota besar ini mencari pekerjaan. Bodohnya aku dengan semangat dan modal tekad tetap ngotot ke orang tuaku untuk dapat di ijinkan berangkat.
Entah berapa lama aku berkutat dengan pikiranku, hingga aku lupa bahwa ada orang lain di sampingku. Bagaimana jadinya kalau saat itu aku tidak bertemu dengan Samuel dan Tomi. Bagaimana jadinya kalau waktu aku duduk-duduk ditepi jalan lalu bertemu dengan orang jahat lalu terjadi hal-hal buruk padaku.
"Kamu tidak apa-apa ca?" tanya Samuel memecah keheningan.
" iya, aku baik-baik saja".
"Kenapa kamu hanya diam saja??"
"Aku menyadari kebodohsn ku karena telah datang ke kota ini. jika waktu itu aku tidak bertemu denganmu, apa yang akan terjadi". kataku sambil menundukkan wajah.
"Biarlah, Tuhan sudah mengatur segalanya. Tidak usah kamu menyalahkan dirimu terus menerus." ucap Samuel dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya.
Akhirnya kita telah sampai didepan cafe yang lumayan besar bagiku. Dengan tempat parkir agak luas disampingnya. Berbagai tanaman yang tumbuh subur menambah kesan sejuk di ruangan luar, sehingga orang-orang tambah kerasan untuk berlama-lama duduk disitu.
Tanpa dikomando aku mengikuti langkah Samuel menuju pintu masuk cafe tersebut. Kutatap sekeliling ruangannya, sangat indah. semua tertata dengan rapi. Meja-meja dan kursi yang tertata sempurna, interiornya begitu sederhana namun terkesan mewah dan sedap dipandang. Diujung meja terdapat meja panjang yang agak tinggi seakan mengikuti suasana bartender seperti yang aku lihat di televisi. Tak luput juga meja kasir yang tersedia disamping meja bartender.
Tak berapa lama muncul 4 orang pegawai cafe Samuel datang kehadapan nya. Dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka masih muda-muda kira-kira lebih muda 2 tahun dariku. Dengan senyum merekah, mereka menyambut kedatangan bos nya.
__ADS_1
"Selamat pagi kak Samuel". sapa mereka serempak
"Pagi juga. Bagaimana kabar kalian??". kata Samuel.
"Baik kak."
"Bagus. Apakah ada masalah di cafe???" tanya Samuel lagi.
"Tidak ada kak, semua baik-baik saja tidak ada masalah apapun." jawab salah satu dari mereka.
"Kalian pasti tahu kan tujuan ku kesini??"
"iya kak." jawab mereka serempak.
"Aku membawa seorang pegawai baru untuk membantu kalian. Dan dia juga akan tinggal disini."jelas Samuel.
" Ca, kesinilah. Kenalkan diriku ke mereka." kata Samuel
"Hai, kenalkan namaku Rosa tapi biasa dipanggil Oca atau Caca."
" Hai Ca, senang berkenalan denganmu. Namaku Fatma." kata gadis yang berambut sebahu.
" Hai, namaku Sari." kata gadis satunya.
__ADS_1
" Aku Ryo dan dia Anton." kata laki-laki yang rambutnya agak gondrong sedikit.
Mereka serempak mengulurkan tangannya mengajakku melakukan tos. sepertinya mereka baik semua.
" Baiklah. Bekerja sebaik-baiknya. Soga kamu kerasan disini. nanti Fatma akan mengantarmu ke kamar. Kamu bisa menaruh barangmu disana." jelas Samuel.
"iya, sekali lagi terima kasih." ucapku
Samuel hanya menganggukkan kepalanya sedikit dan tersenyum. Sebelum pergi dia memberikan ku uang untuk berjaga-jaga jika aku butuh membeli sesuatu.
Dengan senyum merekah mereka menyambutku dan memelukku. Betapa leganya hatiku dapat bekerja dengan mereka. Setelah aku menaruh barang-barangku di kamar, aku segera mengganti bajuku dengan seragam yang tadi diberikan oleh Sari.
Secepatnya aku mengikuti mereka membersihkan meja kursih dan semua peralatan. Mereka sangat membantuku, mengajariku dengan sabar. Hingga melayani pembeli tanpa rasa takut. Memang aku masih harus banyak belajar, karena aku baru saja memulainya kan. Semangat Ca.....kamu harus semangat. kamu pasti bisa melewati semuanya. kataku dalam hati untuk menyemangati diriku sendiri.
***
Setelah mengantar Rosa, Samuel segera memerintah kan sopirnya menuju kantor tempat dia bekerja. Setelah lulus kuliah Samuel langsung bekerja di perusahaan papanya Ricky untuk menggantikan papanya Samuel yang sekarang menetap di Australia.
Entah sampai kapan Ricky mau berubah dan mau menjalankan perusahaannya. Sejak dia kembali ke Indonesia, hanya 3 atau 4 kali Ricky menginjakkan kakinya di gedung ini. Bayang-bayang papanya akan selalu terngiang didalam pikirannya.
Saat masih kecil, mereka bertiga sering datang ke gedung ini walaupun hanya bermain-main. Mereka sangat senang sekali bermain bersama. Ricky dulu periang, supel dan suka tertawa.
Tetapi semua berubah setelah kematian orang tua yang sangat disayanginya. Seharusnya Ricky juga ikut serta dalam kecelakaan itu kalau seandainya waktu itu dia tidak ikut papanya Samuel untuk membeli mainan yang telah dijanjikannya.
__ADS_1
Semua itu hasil dari kekejaman adik papanya Ricky, yang tak rela perusahaannya dialihkan atas nama Ricky. Sehingga dengan kejinya merancang semua rencana kecelakaan itu.
Karena itu pula, Ricky berubah seratus delapan puluh derajat. Dia berubah menjadi pendiam, jarang tersenyum, jarang bicara dan suka menyendiri. Lebih parahnya lagi dia tidak mudah percaya dengan orang lain walaupun dia sudah mengenal lama.