Ricky Vs Rosa

Ricky Vs Rosa
27. Sakit kan diacuhkan??


__ADS_3

" Hey......". Ricky mencoba mencekeram lengan Rosa untuk menahan Rosa pergi.


Rosa hanya terdiam. Mereka berdua hanya sama-sama diam. Terlebih Ricky, sebenarnya dia menyadari kesalahannya saat itu.


Ricky tau kalau Rosa marah saat dia mengatakan didepan Samuel dan Tomi saat itu. Seharusnya Ricky meminta maaf, tapi lidahnya kelu seakan lupa untuk mengatakan kata "maaf".


"Lepaskan". kata Rosa membuyarkan kebisuan mereka.


"Katakan dulu apa kata dokter kemarin??"


"Apa yang harus aku katakan??"


" Kata dokter kamu sakit apa?"


" Sebenarnya apa pedulimu klo aku sakit??"


"Toh aku ga ada manfaatnya buat kamu".


" Jawab saja apa kata dokter? aku ingin tau".


Percuma saja Rosa berdebat dengan laki-laki ini. Dia tidak akan pergi dari hadapannya sebelum Rosa menjawab pertanyaannya.


" Tekanan darah ku rendah. Kecapekan. Aku harus banyak istirahat. kamu tau kenapa??


karena aku sakit hati sama kamu.


memang aku bukan siapa-siapa bagimu. Mungkin memang aku orang yang tidak penting buatmu.


Seharusnya aku salah, seharusnya aku menyadari itu bukannya malah sakit hati.


Maaf.....mungkin aku tidak bisa menemani kamu lagi. Carilah orang lain yang lebih bisa mengerti dirimu".


Segera Rosa meninggalkan Ricky yang masih terpatung di tempatnya.


Jika saja Ricky bisa mengurangi rasa gengsinya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tetapi kenyataannya, Ricky masih malu jika 2 temannya itu tahu. Kalau Ricky sering datang ke cafe dan mencari Rosa.


Seperti ada dorongan kuat yang membantu Rosa meloloskan semua kata yang ada didalam hatinya. Entah Ricky akan sakit hati atau tidak, yang terpenting Rosa sudah meluapkan semua uneg-uneg yang ada dihatinya.


Karena kejadian itu, membuat Rosa tidak ada ***** untuk makan lagi. Tanpa terasa setetes demi setetes air bening itu keluar juga dari ujung matanya.

__ADS_1


Rosa menumpahkan tangisannya di dalam kamar, sendirian tanpa bersuara.


Sebenarnya Rosa juga merasa kasihan dengan apa yang tadi dia katakan pada Ricky.


Tapi rasa kasihan itu sama besarnya dengan rasa sakit hatinya karena perkataan Ricky.


Ricky masih duduk di tempat biasanya. Berharap Rosa keluar dan dia bisa menemuinya. Setidaknya dia merasa lega walau hanya bisa menatapnya dari jarak jauh.


Sebenarnya apa yang aku harapkan dari gadis itu. Semua orang itu sama saja


tidak ada yang mengerti diriku. Tidak ada...


Memang seharusnya aku tetap ditempatku


sendiri dengan kehidupanku...


Percuma saja aku mencari kebahagiaanku, toh nyatanya aku tetap menyakiti orang-orang yang ada disampingku...


Seharusnya aku tidak dilahirkan di dunia ini.....


Isi pikiran Ricky


membawa luka yang ada dihatinya.


Hati yang telah sedikit terbuka karena Rosa.


Dengan kecepatan sedang, Ricky melajukan mobilnya ke jalan raya.


*****


Dikantor


Samuel mencoba untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaannya. Pikirannya dipenuhi dengan kecemasan.


ingin rasanya dia cepat pulang dan melihat kondisi Rosa.


Gadis itu telah memasuki ruang hati Samuel. Sekeras apapun melawan, gadis itu masih duduk manis di hati Samuel.


Karena pikiran nya dipenuhi oleh Rosa, sehingga Samuel tidak menyadari bahwa Vanya sudah berada dikantornya.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan menjauhi ku Sam??" Tiba-tiba suara Vanya mengisi kantor yang daritadi sunyi.


Samuel sedikit kaget dengan suara Vanya barusan.


"Apa maksudmu Vanya?" tanya Samuel sembari diletakkannya bolpoin yang ada di jarinya.


" Jangan membohongiku Sam".


" Aku sungguh tidak paham dengan perkataanmu".


"Berapa janji yang kamu batalkan Sam. Berapa hari kamu tidak memperdulikan aku. Apakah gara-gara gadis itu Sam??"


"Siapa yang kamu maksud vanya??"


" Apakah kamu menyukai gadis itu Sam??"


"Lebih baik kamu pulang Vanya. pekerjaan ku banyak yang harus aku selesaikan hari ini".


"Loh ya.....kenapa dengan ku kamu terlihat sibuk Sam. Tapi dengan gadis itu, kamu merasa bebas tanpa peduli dengan pekerjaan maupun aku".


"Pulanglah Vanya ... aku tidak mau ada keributan dikantorku!".


"Aku juga tidak mau ribut Sam, semua ini karena kamu. karena gadis itu.


"Apakah aku harus menyadarkan mu kalo kamu sudah punya tunangan Sam".


Samuel masih terdiam menatap Vanya dengan tajam.


Dia memang salah telah mengacuhkan Vanya, Vanya memang benar kalau dia adalah tunangan Sam.


Tapi kenyataannya, Sam tidak pernah tertarik dengan Vanya apalagi sampai jatuh cinta.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading❤️


__ADS_2