
Pagi sudah datang, jam dinding menunjukkan jarum pendek di angka 7 dan jarum panjang diangka 12. Ya Tuhan senyenyak itukah aku tidur semalam hingga aku bangun sesiang ini. Selama ditempat tinggal ku tak pernah aku bangun sesiang ini, biasanya pukul 6 itu saja sudah siang bagiku.
Secepatnya aku membersihkan kamar yang telah aku buat tidur semalam. bergegas aku masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku. Sekurang ajarnya diriku kenapa bisa bangun sesiang ini. Maaf kan aku Bu, aku telah melanggar ajaran yang engkau berikan kepadaku.
Kubuka tas ku untuk mengambil pakaian, lalu aku masukkan baju kotorku kedalam tas plastik yang sudah aku siapkan dikantong samping tas ku. Tinggal menyisir rambutku lalu ku kuncir rambutku seperti ekor kuda. Dan kupoles wajahku dengan sedikit bedak, karena aku juga tidak pernah memakai make up. selain aku tidak terbiasa, aku juga tidak punya cukup uang untuk memikirkan membeli alat make up.
Setiap hari tersedia beras dan lauk saja sudah lega untuk keluargaku. walaupun hanya lauk tempe atau tahu yang digoreng di tambah dengan sambel terasi buatan ibu. Itu sudah sangat nikmat bagiku. Membayangkan masakan ibu aku jadi kangen dengan ibu. Memasak bersama, nyuci baju, bersenda gurau sambil menanti bapak pulang kerja.
Tanpa mengulur waktu aku segera keluar dari kamar dengan membawa tas ranselku. Pelan- pelan aku berjalan dengan mengingat arah jalan untuk keluar ke ruang depan. Akhirnya aku bertemu dengan pak Mun kembali, setidaknya aku bisa bertanya jalan untuk keruang depan.
" Pagi pak Mun." ucapku
" Pagi nona." jawab pak Mun
" Pak, boleh aku bertanya??"
" Silahkan nona.."
" Apakah Samuel sudah bangun?? apakah dia sudah siap berangkat??" kata ku lagi.
" Belum nona. Tuan Samuel akan siap sebentar lagi."
__ADS_1
" Syukurlah......".
" Pak, bisakah bapak kasih tau arah jalan untuk keluar?? aku tidak tau jalan untuk keluar pak. Biar saya menunggu Samuel di teras depan."
" Baik nona, silahkan ikuti saya". kata pak Mun.
Dengan cepat aku mengikuti langkah pak Mun untuk segera menuju teras depan. Saat sampai di ruang tamu pak Mun menghentikan langkahnya.
"Silahkan tunggu disini nona, sebentar lagi tuan Samuel akan turun dan sarapan." kata pak Mun lagi.
" iya pak Mun, terima kasih." kataku sambil agak menundukkan kepalaku.
" Apa tidak sebaiknya saya tunggu didepan saja pak Mun, biar kan saya menunggu didepan saja sampai Samuel selesai sarapan.
Tampan sekali laki-laki itu ya Tuhan. Dengan senyum merekah, wajah yang putih bersih terawat. Memakai setelan jas yang menambah gagah penampilannya. Tanpa aku sadari aku melongo melihat pemandangan yang indah di depan mataku. Betapa indahnya ciptaan Mu Tuhan, apakah dia seorang malaikat?? tanyaku dalam hati.
Lalu aku melihat Samuel menuruni tangga dengan perlahan-lahan menuju tempatku berdiri.
" Apakah tidurmu nyenyak semalam ca??" tanya Samuel.
"iya. Sampai aku bangun kesiangan". kataku jujur.
__ADS_1
Dia hanya tersenyum mendengar jawaban ku. Lalu Samuel melangkah menuju meja makan, dan aku tetap tegak berdiri ditempat tanpa beranjak sedikit pun.
"Ayo kesini ca, apa kamu tidak sarapan?? kamu tidak lapar??" kata Samuel
"Tidak usah Sam, terima kasih. kamu sudah sangat baik dan banyak menolongku." kataku.
" Tidak usah sungkan ca. ayo makanlah, aku tidak akan menggendong mu klo nanti kamu pingsan." ucapnya.
Mau tidak mau aku segera berjalan mendekat ke meja makan. lalu aku duduk diseberang Samuel. Aku tidak sanggup menatap lama-lama wajah Samuel. Tatapan matanya sungguh tajam, sehingga membuat jantungku berdebar seakan ingin lepas dari tempatnya.
Tanpa berlama-lama akhirnya aku dan Samuel sarapan bersama tanpa ada kata yang terucap. Memang ibuku juga mengajariku untuk tidak mengeluarkan suara saat makan. Tidak sopan katanya.
Setelah selesai sarapan, Samuel merapikan bajunya dengan berdiri. Aku turut serta berdiri dan bersiap untuk mengikuti Samuel. Langkah demi langkah Samuel keluar dari rumah nya menuju mobil yang sudah tersedia didepan rumah. Sejenak Samuel menoleh menatapku dengan tersenyum, kemudian menyuruhku untuk masuk kedalam mobil.
.
.
.
.
__ADS_1
.