
Aku berjalan mengikuti langkah Samuel menuju tempat parkir mobilnya. Entah apa yang ada dipikiran Samuel, yang terpenting saat ini aku sudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal walaupun hanya untuk sementara. Aku juga harus menepati janji yang sudah aku ucapkan tadi ke Samuel. Aku harus tetap semangat, Doakan aku Bu, pak.....aku akan tetap berjuang untuk kita semua. Tunggu anakmu sampai kita bisa berkumpul kembali.
Tak terasa akhirnya sampai juga di depan mobil Samuel. Samuel merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobilnya. Lalu dia membuka pintu untuk masuk kedalam mobilnya.
"Masuklah ca, kamu mau diam disitu saja."
"iya." kataku reflek. karna sekian detik tadi aku masih sibuk dengan pikiran ku sendiri yang membayangkan apa yang akan terjadi padaku setelah esok hari.
"Aku bukan sopirmu ca, kenapa kamu mau duduk dibelakang." kata Samuel setelah melihat ku akan membuka pintu belakang.
Bagaimana bisa aku duduk disamping mu Sam, aku tidak akan mampu menguasai detak jantungku dengan duduk disebelahmu. menatap mu saja aku merasa jantungan apalagi harus duduk sedekat itu dengan mu.
Tanpa menunggu lama akhirnya aku menuruti perkataan Samuel untuk duduk di depan, disampingnya. Ku buka pintunya, lalu aku duduk dan memasang sabuk pengamannya. walaupun aku orang tidak mampu, tp aku juga tidak bodoh-bodoh amat kalo hanya untuk mengetahui fungsi sabuk pengaman di dalam mobil. Padahal aku tau juga dari seringnya aku lihat televisi dan membaca.
Aku hanya terdiam. Sunyi tidak ada kata-kata yang terucap. Ingin aku memulai berbicara tapi aku juga bingung harus berkata apa. Aku hanya bisa menatap pemandangan kota Jakarta lewat kaca di pintu mobil. Harum parfum Samuel seakan semerbak di lubang hidungku. Aku bisa membayangkan sekaya apa orang yang ada di sampingku ini.
.
__ADS_1
.
.
.
Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya telah sampai di depan gerbang rumah yang besar dan indah. Selama aku tinggal dikotaku, aku hanya bisa melihat rumah mewah seperti ini sekilas lewat saja.
Dulu aku sering berkata sendiri dalam hati, kira-kira apa pekerjaan orang yang mempunyai rumah sebesar itu. memangnya tidak capek apa membersihkan rumah Segede itu. Mungkin rumah ku hanya sebesar kamar mandi mereka. Tapi aku tetap bersyukur atas apa saja tang sudah diberikan olehNya kepadaku.
"Ayo ......kamu mau tidur di dalam mobil??". kata Samuel membuyarkan lamunanku.
"Iya...." dengan cepat aku membuka pintu mobil lalu keluar. Tanpa menunggu lama aku segera berjalan mendekat di belakang punggung Samuel berdiri. Tidak lupa aku terus memeluk tas ransel ku yang sudah pudar warnanya.
Ceklek.....
"Selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya.
"iya pak. Kenalkan dia Rosa, panggil dia Oca. untuk sementara antarkan dia dikamar belakang. Dia akan menginap disini malam ini. besok dia akan aku bawa ke cafe dan bekerja disana." kata Samuel menjelaskan.
"Baik tuan."
"Ada yang bisa saya bantu lainnya tuan??"
__ADS_1
" Tidak terima kasih pak Mun."
"Oh ya....tolong sampaikan ke bik Ijah tidak usah menyiapkan makan malam, karena aku sudah kenyang."
"Baik tuan akan saya sampaikan".
"Ca....ikutlah pak Mun. Beliau akan mengantarmu ke kamar. Istirahat lah, besok pukul 9 aku akan mengantarmu ke cafe ku." jelas Samuel.
" Baik. Terima kasih Samuel atas bantuan mu." kataku
Aku ikuti langkah pak Mun. Hingga sampai disebuah kamar yang lumayan luas, seperti rumahku di Surabaya.
"Masuklah nona, istirahatlah. Jangan lupa pukul 9 besok kamu harus siap. karena keluarga ini disiplin, pastikan kamu sudah siap. Jangan sampai terlambat." tegas pak Mun.
"Iya pak, terima kasih." ucapku sambil aku angukkan kepalaku ke pak Mun untuk menyakinkan bahwa aku paham dengan pesannya.
Setelah itu aku masuk kekamar dan menutup pintu. Aku hampiri kasur yg sudah terlihat rapi dan bersih, lalu aku duduk di atas nya. Ku rebahkan badanku diatas kasur. Nikmatnya, akhirnya aku bisa mengistirahatkan badan ku. Semoga besok berjalan dengan baik.
.
.
.
__ADS_1
.
.