
Rili teringat kembali dengan tujuannya untuk bertemu Alvin. "Vin, sebenarnya dari tadi gue mau ngomong soal Dara sama lo."
Alvin menghentikan aktivitasnya lalu menoleh Rili.
"Lebih baik lo jujur sama Dara kalau lo cuma pura-pura," lanjut Rili.
Alvin masih terdiam.
"Lo memang cuma pura-pura kan?" tanya Rili lagi memastikan.
"Nggak. Gue serius."
Pernyataan Alvin membuat Rili kecewa untuk sesaat.
Alvin kini berjalan mendekati Rili lalu dia duduk di lantai, tepatnya di sisi kanan Rili dan bersandar di kakinya. "Gue serius mau bantu lo," lanjutnya.
Lanjutan kalimat Alvin membuat Rili tersenyum kecil.
"Sebenarnya tanpa gue cerita pun, lo udah tahu kan lewat mimpi lo."
"Gue semalam mimpi kalau Dara tahu semua kebohongan lo. Dia marah dan hantu itu muncul lagi."
Alvin mendongak menatap Rili. "Kalau gitu, setelah ini kita jangan saling bicara lagi."
Rili menggelengkan kepalanya. "Nggak!! Kalau lo terus bohongi Dara, dia akan semakin sakit hati."
"Tapi informasi yang gue dapat belum lengkap." Kemarin saat Alvin ke rumah Dara, dia memang sengaja ke rumahnya untuk mencari info tentang hantu itu. Ada satu info penting yang dia dapat dari foto keluarga yang terpajang di rumah Dara. Tapi sayangnya dia belum bisa memastikan seseorang yang sangat mirip dengan hantu itu yang berada dalam foto keluarga Papanya Dara. Hanya sebatas dia adalah Kakak dari Papa Dara.
"Lo udah dapat sebagian infonya? Apa?" Rili sangat antusias hingga suaranya bisa terdengar oleh Bu Tiwi.
"Cepat kerja, jangan pada ngobrol!!"
Mendengar suara Bu Tiwi, Alvin kini berdiri lalu kembali menyelesaikan hukumannya. "Biar gue selesaiin dulu. Baru nanti gue kasih tahu."
Rili kini berdiri lalu membantu Alvin menata buku-buku itu. "Gue bantu biar cepat selesai."
Alvin sesekali mencuri pandang dengan gadis yang ada di sebelahnya saat ini. Entah kenapa sejak pertama bertemu dengan Rili, Alvin seolah yakin bahwa Rili adalah gadis yang akan terpilih untuk menemani hidupnya kelak. Meski telah beberapa kali membuat Rili kesal, tapi semua itu hanya untuk menarik perhatian Rili semata. Tak peduli juga walau ada Rasya yang akan selalu menjadi tameng Rili.
"Ngapain lihat-lihat? Katanya mau cepat selesai," kata Rili yang tanpa sengaja menangkap pandangan mata Alvin.
__ADS_1
"Iya.. Iya.." Mereka segera menyelesaikan hukumannya. Ya, harus selesai sebelum jam istirahat agar segera bisa berbicara.
"Kalian rajin ya ternyata. Udah cocok jadi pasangan suami istri." Bu Tiwi kini berdiri di belakang mereka.
"Pacaran aja kena hukum, kalau nikah pasti langsung di drop out dari sekolah." Rili kini menghentikan aktivitasnya lalu duduk. "Bu Tiwi, kebanyakan baca novel sih."
"Iya dong. Biar pikiran fresh dan kembali muda lagi kayak kalian. Kalau udah selesai kalian istirahat saja dulu. Saya mau ke toilet." Bu Tiwi membalikkan badannya dan keluar dari perpustakaan.
"Akhirnya selesai juga." Alvin mengembalikan peralatan bersih-bersih lalu mencuci tangannya di wastafel yang ada di depan perpustakaan. Setelah itu, dia kembali pada Rili dan menarik tangannya mengajaknya duduk di balik rak agar tidak terlihat dari depan perpustakaan.
"Alvin nanti dikira kita pacaran lagi."
"Cuma bentar aja. Sini." Alvin mengajak Rili agar duduk dilantai. Dia mengambil ponselnya yang ada disaku lalu membuka galerinya.
"Video??" Rili menautkan alisnya saat pertama kali yang muncul pada galeri Alvin justru sebuah video yang.. Hah, sudahlah.. "Alvin, lo yang bener aja!!!" Rili memukul lengan Alvin cukup keras.
"Iya, iya, sorry. Video spongebob pakai lupa gak gue keluarin segala lagi. Gini kan jadinya dikira gue cowok yang gak bener." Alvin dengan cepat keluar dari album video lalu menuju album kameranya. "Nih, baru bener."
"Rese' banget sih lo!!" Rili belum juga melihat foto yang kini terpampang di layar ponsel Alvin.
"Sini lihat."
"Iya bener."
Rili kini melihat foto yang sudah terlihat jelas di ponsel Alvin. Dia mengambil ponsel Alvin lalu memperbesar foto itu. "Ini lo dapat foto dari mana?"
"Itu foto keluarga dari Papanya Dara."
"Loh, ini kayak Om Dewa." Ya, meskipun Rili tidak pernah bertemu dengan Dewa tapi dia sudah sering melihat foto-foto kebersamaan Dewa dengan kedua orang tuanya.
"Om Dewa? Lo udah kenal? Itu Papanya Dara loh."
"Gak begitu kenal juga sih. Cuma Om Dewa itu sahabatnya Papi dan Mami gue." Rili kembali melihat foto itu dengan saksama. "Gadis ini siapa?"
"Kata Dara, itu Budenya. Kakak dari Om Dewa."
"Lo sepemikiran sama gue kan?"
"Iya. Tapi sayang, Dara belum sempat jawab soal dia." Alvin kini menyandarkan dirinya pada tembok. "Semua ini kayak berkaitan. Kalau memang orang tua lo sahabat dari Om Dewa, harusnya mereka tahu soal Kakaknya itu. Lo bisa tanya sama orang tua lo."
__ADS_1
Rili menggelengkan kepalanya lalu dia ikut menyandarkan dirinya pada tembok. "Gue gak mau mereka khawatir soal ini. Biar gue cari sendiri aja."
"Caranya?"
"Anterin gue ke rumah Dara."
Alvin kini beralih menatap Rili. "Caranya gue anter lo ke rumah Dara itu gimana? Belum lagi di sana ada Dara, terus emang gampang ambil lo dari Rasya."
"Nanti cari waktu yang tepat. Saat Dara gak ada di rumah dan saat Kak Rasya gak sama gue."
"Lo atur aja. Gue sih siap banget anterin lo." Alvin tersenyum, ya inilah kesempatannya untuk membonceng Rili. "Nomor WA lo berapa?"
Rili baru ingat kalau dia sudah menyimpan nomor Alvin. Rili menyebutkan nomor ponselnya yang langsung disimpan oleh Alvin.
"My Rili?" Rili menautkan alisnya saat Alvin menamai kontaknya dengan sebutan My Rili. "Gue bukan punya lo."
Lagi-lagi Alvin hanya tersenyum. "Ya, sekarang sih emang belum." Dia kini langsung menghubungkan nomor Rili dengan chat WA. Sedikit heran juga. "Foto profil lo udah kelihatan. WA lo gak terprivasi ya?" Alvin mengirim pesan WA pada Rili.
Rili mengambil ponselnya dan sedikit menyembunyikannya dari Alvin.
Karena rasa curiganya, Alvin mengambil paksa ponsel Rili dari tangannya. "A? Jadi lo udah punya nomor gue?"
"Hmm, itu..."
"Ssttt.." Alvin mengembalikan ponsel Rili pada tangannya. "Gue ngerti kok, kalau lo itu ada feeling."
"Lo jangan GR dulu. Gue itu nyimpan nomor lo buat tanya soal Dara."
Alvin menggenggam kedua tangan Rili. Menyingkirkan ponsel-ponsel yang ada di tangan mereka. "Cuma alasan aja kan? Gue ngerti sebenarnya lo ada rasa kan sama gue?"
Rili mengalihkan pandangannya. "Nggak ada."
"Yakin? Apa mau gue tunjukin sebenarnya perasaan lo?" Alvin semakin mendekatkan wajahnya. Bahkan hembusan napas Alvin mulai terasa menyeka hidung Rili.
"Alvin, mau ngapain lo?"
💞💞💞
🤣🤣🤣
__ADS_1
Bersambung aja dulu, besok dilanjut. Harap tetap bertahan dalam posisi ya, Vin..