Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Cerita


__ADS_3

Terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah Rizal. Ya, tentu saja itu sepeda motor milik Rasya. Rasya bergegas masuk ke dalam rumah. Dia melihat semua orang sepertinya sedang mengobrol dengan serius. Dia kini duduk di samping Alvin lalu menatap adiknya yang terlihat masih pucat.


"Rili, kamu gak papa kan?"


Rili menggelengkan kepalanya. "Dara gimana? Apa Dara cerita sesuatu sama Kak Rasya?"


Rasya menggelengkan kepalanya. "Dara seperti merahasiakan sesuatu. Dia gak mau cerita apa-apa sama aku."


"Jadi kamu juga sudah tahu Rasya? Kenapa gak cerita sama Papi? Kamu juga gak bilang kalau Dewa kembali ke kota ini."


"Iya Pi. Maaf." Rasya kini bersandar sambil melihat Papinya yang mulai berbicara. Tidak ada lagi yang harus ditutupi agar misteri terpecah.


"Iya, Dewi memang masa lalu saya. Dulu waktu masih SMA saya berpacaran sama Dewi, ya kurang lebih selama hampir satu tahun. Banyak sekali yang tidak suka dengan hubunganku sama Dewi. Dewi kena teror, Dewi kena bully terus-terusan."


Tiba-tiba Alvin memotong cerita Rizal. "Diteror dan dibully, kenapa bisa?"


"Alvin, Papi aku kan ganteng." Celetuk Rili yang berhasil mencetak senyum tipis di bibir kedua orang tuanya.


Alvin hanya manggut-manggut sambil berkata dalam hati. Gini nih kalau punya calon Papi mertua ganteng. Kalah saing. Rili aja gak pernah sebut aku ganteng.


Rizal kembali melanjutkan ceritanya. "Iya, mungkin itu salah satunya. Yang jelas tiba-tiba saja Dewi menghilang. Saya pikir dia pindah sekolah karena dia gak betah dibully. Dia sama sekali gak ngasih kabar. Setiap datang ke rumahnya pun selalu diusir sama ibunya. Ibunya cuma bilang dia gak mau ketemu lagi. Iya, dulu saya sempat sedih dan merasa kehilangan karena tiba-tiba dia pergi begitu saja tanpa bicara. Sampai akhirnya, saat ganti tahun ajaran, saya bertemu Lisa dan Dewa yang ternyata adik dari Dewi. Baru semua itu terungkap bahwa ternyata Dewi korban dari pembunuhan. Dan alasan satu-satunya pembunuh itu adalah saya." terbesit rasa menyesal di wajah Rizal. Itu pengalaman pahit yang pernah dia rasakan. "Lebih jelasnya kamu tanya sama Mami kamu ya. Karena Mami kamu yang dulu bisa lihat Dewi."


Kini Rili mendongak menatap Maminya yang sedari tadi hanya berkerut dahi. "Mami punya indera keenam juga?"


Pertanyaan Rili membuat Lisa mengalihkan pandangannya dari suaminya.


"Gak punya sayang."


"Lalu kenapa bisa lihat hantu?"


"Hmmm.." Lisa tidak menjawab pertanyaan putrinya. Sebenarnya Lisa sudah tidak mau lagi mengenang masa buruk itu. "Iya, dulu Mami lihat hantu itu selalu ngikuti Papi kamu."


"Ngikutin Papi, Mi? Sebucin itu Dewi sama Papi."


"Eh, bukan. Dewi cuma ingin Papi kamu tahu kalau dia udah meninggal. Dulu setelah semua terungkap Dewi sempat pamitan sama Mami dan Papi. Mami kira dia udah hidup tenang di sana."


"Tapi, Mi. Kenapa Mami bisa melihat Dewi. Apa karena Papi dulu dekat sama Mami?" Rili masih saja menyelidik. Seperti ada yang ganjal saja. Seseorang yang tidak memiliki indera keenam bisa melihat hantu. Pasti ada alasan kuat yang memicunya.

__ADS_1


Satu helaan napas panjang terdengar. Lisa ragu. Tapi saat mendapat genggaman dari Rizal dan isyarat untuk segera menceritakannya, Lisa mulai bersuara. "Sebenarnya, sepasang mata yang Mami gunakan untuk melihat dunia ini adalah pemberian dari Dewi."


Ketiga remaja ini terkejut. Mereka sama sekali tidak menduga akan hal itu.


Rili terdiam. Dia teringat lagi dengan mimpinya dulu. Saat hantu itu menutup mata Maminya. Jangan-jangan... Rili kini memeluk erat Maminya.


"Mami sebenarnya..."


"Iya, sayang kenapa??"


Rili terdiam. Dia tidak sampai hati menceritakan apa yang sebenarnya hantu itu mau.


"Rili, kamu cerita saja ya. Gak papa." Tangan Rizal kini beralih mengusap tangan Rili.


"Tadi Dewi bilang, sebenarnya yang dia ingin adalah Papi dan cincin ini." Rili menunjukkan cincin yang masih melekat erat di jari manisnya.


Lisa memegang tangan Rili. Dia mencoba lagi melepas cincin itu tapi memang tidak bisa. "Rili, sebenarnya ini peninggalan dari keluarga Bu Maya dan memang seharusnya Dewi yang memakainya."


Mendengar itu, badan Rili terasa melemas. Pantas saja Dewi selalu bilang, kembalikan. Pasti ini. Dia ingin cincin ini kembali. Hanya cincin saja kan, tidak termasuk Papinya atau mata Maminya. Ketiga hal itu seolah berputar di kepala Rili. Kenapa Dewi begitu egois. Dia sudah tidak ada di dunia ini, buat apa dia ingin mengambil lagi semuanya.


"Hmm, nenek Dara, maksud saya Bu Maya sudah meninggal Om." kata Alvin memberi tahu.


Rizal dan Lisa sangat terkejut mendengar kabar itu. "Apa?? Bu Maya sudah meninggal?! Kenapa Dewa atau Karin gak ngasih kabar kita." Perasaan Rizal menjadi tidak tenang memikirkan cincin itu. Dulu dia sudah melarang Lisa memakainya tapi takdir berkata lain. Sekarang justru putrinya yang memakai cincin itu. "Kalau begitu, Rili besok ikut Papi. Kita potong aja cincin itu."


"Tapi Pi, apa gak ada cara lain? Rili takut Dewi akan semakin marah."


Ya, memang benar kata Rili. Mencari cara lain? Rizal menghela napas panjang. "Ya udah. Nanti Papi pikirkan. Hmm, Alvin, Dewa dan keluarganya tinggal di Jalan Elang itu kan? Rumah lamanya?"


"Iya, om."


"Papi mau ke rumah Om Dewa?"


"Iya sayang. Mungkin besok sore kalau ada waktu. Sekalian mau bicara soal ini."


"Jangan Pi." Rili justru mencegahnya. "Rili takut nanti Papi dibawa sama Dewi."


Rizal tersenyum mendengar rasa khawatir putrinya yang terkesan lucu. "Dewi itu sudah gak ada, gak akan bisa bawa Papi ya. Papi gak mau, kamu sampai luka-luka kayak gini lagi." Lalu Rizal berdiri. "Mami, buatin minum dong calon mantu kita pasti haus."

__ADS_1


"Oiya, Mami sampai lupa. Sebentar ya." Lisa berdiri lalu berjalan menuju dapur.


Sedangkan Alvin yang mendengar hal itu membuat dirinya bagai tersedak sesuatu. Tiba-tiba saja dia menjadi salah tingkah. Apalagi saat mendapat satu lirikan tajam dari Rili.


"Rili, ayo Papi gendong kalau mau ke kamar." Rizal meraih tangan Rili yang masih saja menatap Alvin. "Rili, mau digendong Alvin lagi? Jangan! Belum boleh ya. Cukup tadi aja dia gendong kamu."


"Loh, tadi kamu yang gendong? Bukannya Kak Rasya."


Alvin hanya memberi senyuman manis pada Rili sambil menyipitkan matanya.


"Udah ya, kamu istirahat dulu." Rizal meraih tubuh putrinya lalu menggendongnya dan berjalan menaiki anak tangga.


"Papi, Rili bisa sendiri."


"Udah gak papa."


Alvin hanya tersenyum melihat Rili dan Papinya berlalu.


"Lo bentar lagi mau balik ke sekolah?"


Pertanyaan Rasya membuat Alvin menoleh. "Iya, gue mau ambil motor dulu."


"Ya udah, gue antar. Gue ganti baju dulu. Lo tunggu sambil minum ya."


"Eh, gak usah. Gue bisa sendiri."


Rasya menepuk pundak Alvin sebagai lambang perdamaiannya untuk yang pertama kali. "Gak papa. Mulai sekarang lo lupain semua persaingan kita." Setelah itu, Rasya meninggalkan Alvin yang sedikit melongo.


Jadi, Rasya sudah mengibarkan bendera perdamaian.


Alvin menopang dagunya dengan keempat jari dan ibu jari yang melipat di bawah dagu. Gue gak pernah nyangka bisa baikan ama Rasya.


💞💞💞


Iya dong, kan calon kakak ipar.


Like dan komen yes...

__ADS_1


__ADS_2