Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
I'll Always Waiting For U


__ADS_3

"Kak Rasya.." panggil Dara saat dia sudah tiba di taman kota dan langsung menemukan Rasya yang tengah duduk di bangku taman dekat pohon.


Rasya yang sedang melamun memikirkan perkataan Rili tiba-tiba dikejutkan oleh Dara yang kini sudah duduk disebelahnya. Bahkan panggilan Dara barusan pun tak dia dengar. "Eh, Dara."


"Hmm, Kak Rasya udah lama nunggu?"


"Baru bentar." jawab Rasya. Sebenarnya Rasya penasaran dengan apa yang membuat Dara ingin menemuinya.


Mereka terdiam beberapa saat. Ya, seperti itulah keadaan es di kutub. Dingin dan membeku.


Dara kini membuka tasnya dan mengambil kertas yang terlipat menjadi empat bagian, dimana di dalamnya ada cincin itu.


"Kak, ini tolong kasih ke Om Rizal." Dara menyodorkan kertas itu.


Rasya mengerutkan dahinya. "Ini apa?" Tanyanya seraya tangannya mengambil kertas itu dari tangan Dara, lalu membukanya. Ternyata cincin itu lagi dan sebuah tulisan.


Cincin itu cantik ya... Semoga saja kelak kamu yang menyematkan cincin itu di jari manis aku... Karena kata Mama itu cincin cinta sejati. Hanya cinta sejati yang boleh menyematkan cincin itu... Semoga saja kamulah cinta sejati aku, Rizal.


"Tapi kan Dewi sudah..."


Dara menganggukkan kepalanya. Memang tidak mungkin kan memasangkan cincin pada jari seseorang yang telah tiada. "Iya. Aku cuma mau minta tolong, kubur cincin itu di makam Bude Dewi. Aku gak mau berurusan dengan cincin itu lagi."


"Kamu digangguin sama arwahnya?"


Dara menghela napas panjang. "Aku sebenarnya udah dari dulu sering mimpiin Bude Dewi. Entah kenapa dia selalu mengajakku untuk menemaninya."


Perkataan Dara membuat leher Rasya terasa menegang. Entahlah, mengapa tiba-tiba pikiran buruk singgah di kepalanya.


"Terlepas dari soal cincin ini tentunya."


"Aku kira cincin itu harusnya jadi milik kamu."


Dara menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Rasya kembali melipat kertas itu dengan cincin ada di dalamnya lalu memasukkan dalam tas kecil yang terselempang. Dia sebenarnya ragu dengan keinginan Dara. Apa benar Papinya harus melakukan itu. Dia takut terjadi hal-hal buruk lagi pada keluarganya.


"Tapi Ra, kamu yakin soal cincin ini? Aku takut aja ada hal-hal buruk lagi kayak kemarin."


Dara mengangguk yakin.


"Tapi cincin itu bisa terpasang di jari kamu?"


Ada satu helaan napas panjang terdengar. Dara menatap netra Rasya sesaat lalu kembali mengedarkan pandangannya.


"Iya, mungkin karena aku masih ada ikatan darah. Tapi aku gak mau menutupi satu keinginan yang belum terwujud. Dan soal cinta sejati itu..." Dara menghentikan kalimatnya.


Sedangkan Rasya menunggu kelanjutan kalimat itu dengan harap-harap cemas.


"Aku gak yakin kalau nanti aku akan jadi cinta sejati Kak Rasya..."


Meskipun dalam hati kecewa, tapi Rasya sangat mengerti jika di dalam hati Dara memang belum ada dirinya.


"Aku bisa menunggu kamu." jawab Rasya dengan yakin. Bahkan dia kini menangkup kedua pipi Dara agar Dara juga menatapnya.


Rasya mengerutkan dahinya. Dia terus menatap netra Dara yang sering kali menghindari tatapan Rasya. "Itu soal nanti, yang jelas untuk saat ini cuma ada kamu."


Lagi, Dara menggelengkan kepalanya. Lalu melepas kedua tangan Rasya dari pipinya. "Kak, ini salah. Seseorang yang Kak Rasya temui di masa lalu itu bukan aku."


Rasya semakin tidak mengerti dengan ucapan Dara. "Kalau bukan kamu lalu siapa? Nama dan wajah itu jelas kamu."


Dara hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Seolah dia masih menyimpan rahasia yang besar, yang tidak ingin seorang pun tahu.


"Ra, jangan cari alasan lain untuk menolak aku." Rasya kembali menangkup kedua pipi Dara agar bisa menatap kedua mata indahnya. "If there is still another love in your heart. No problem. I will wait until you open your heart to me."


Sebagai seorang perempuan, tentu perkataan Rasya membuat hatinya meleleh. Dia merasa dicintai begitu besar oleh seseorang yang belum dia balas rasa cintanya sama sekali.


Dara terlena dan terpaku oleh tatapan lekat Rasya. Saat wajah yang dipandangnya itu semakin dekat, Dara justru melepas tangan Rasya agar dia bisa mengalihkan pandangannya. "Hmm, maaf Kak. Aku... Aku gak bisa lama-lama."

__ADS_1


"Ra..." Rasya menahan tangan Dara saat Dara akan melangkah pergi. "I'll always waiting for you..."


Dara hanya menoleh sesaat Rasya lalu dia perlahan menarik tangannya dari genggaman Rasya.


Rasya hanya bisa melepaskan tangan Dara. Tak bisa menahannya terlalu lama. Hanya mata nanar yang menatap punggung Dara yang kian menjauh. Hatinya sedang gundah. Dirinya merasa patah hati sebelum merasakan cinta. Rasya sampai melupakan perkataan Rili.


Pastikan Dara baik-baik saja sampai pulang ke rumah.


Ya, Rasya lupa akan hal itu karena hatinya sekarang tidak sedang baik-baik saja.


"Kak Rasya. Aku cari muter-muter ternyata di sini." Rasya tak langsung menoleh pemilik suara itu.


"Kak Rasya!!!" Akhirnya Rili duduk di sebelah Rasya dan menggoyang pundaknya.


"Rili kamu ngapain ke sini?" Setelah pandangannya melihat Rili, kini dia berganti melihat Alvin yang sedang berdiri di dekat Rili.


"Mau mastiin. Dara dimana?" Rili nampak mengatur napasnya karena sedari tadi dia begitu terburu-buru.


"Dia udah balik barusan."


"Kak Rasya kan aku udah bilang, pastiin Dara pulang sampai rumah dengan selamat."


Rasya masih saja tak mengerti dengan perkataan Rili. "Emang kenapa?"


"Kak, Dara akan celaka..."


💞💞💞


.


.


.

__ADS_1


Ini nih Kak Rasya, dingin-dingin tapi dalam oey.


__ADS_2