Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Selamat Tinggal Dara


__ADS_3

Rasya masih saja tak mengerti dengan perkataan Rili. "Emang kenapa?"


"Kak, Dara akan celaka."


"Celaka gimana?" Rasya menjadi was-was. Dia kini berdiri dan menatap Rili heran.


"Nanti aku jelasin. Yang penting sekarang lebih baik Kak Rasya segera susul Dara."


Benar atau tidak, percaya atau tidak dengan ucapan Rili, Rasya kini setengah berlari menuju tempat parkir.


Sedangkan Rili kini berjalan bersama Alvin. "Al aku takut.." Rili mengenggam tangannya sendiri yang telah berkeringat sedari tadi. Dia takut semua akan terlambat. Di tidurnya yang singkat semalam dia bermimpi Dara mengalami kecelakaan yang tragis hingga membuatnya pergi untuk selamanya. Mengingat mimpinya saja membuat jantungnya bagai diremat oleh sesuatu yang tak terlihat.


Alvin hanya bisa merengkuh pundak Rili sambil berjalan mengikuti langkah Rasya yang sudah tidak terlihat. "Aku pernah bilang sama kamu. Kamu hanya bisa melihatnya tanpa bisa merubah takdirnya."


Lutut Rili seolah tak sanggup untuk melangkah. Dirinya merasa benar-benar lemas sudah kehilangan tenaga. "Al, kenapa kamu bilang gitu." Suara Rili terdengar parau. Mata Rili juga sudah berkaca. Dia tidak mau hal buruk itu sampai terjadi.


"Kamu tenang ya. Kali ini kita coba untuk melawan takdir." Alvin menggandeng tangan Rili agar berjalan dengan cepat menuju tempat parkir.


Setelah naik ke atas motor, Alvin segera melajukan motornya menyusul Rasya.


Rasya semakin mempercepat laju motornya berharap jalan yang dia lewati sama dengan Dara. Hatinya sudah tidak tenang mendengar perkataan Rili barusan. Dia harus segera menemukan Dara dan memastikan bahwa dia baik-baik saja.


Seulas senyum mengembang saat Rasya dapat menangkap bayangan Dara sekitar 10 meter di depannya tepat sebelum pertigaan. Dia semakin menambah kecepatan laju motornya.


"TIINNN!! TIINNN!!! BRRUUAAKK!!"


Suara keras itu membuat Rasya memekik tertahan. Sebuah truk menghantam motor Dara dengan keras saat Dara sedang memotong jalan. Dara sampai terlempar 3 meter di depan truk. Pengait helm yang tidak terpasang membuat helm itu terlepas dari kepala Dara hingga terjadi benturan keras langsung di kepalanya.


"Dara!!!" Seketika Rasya menepikan motornya dan dia berlari mendekati tubuh Dara yang tak berdaya di tengah jalan.


Keadaan ramai seketika, apalagi saat warga sekitar mengamankan sopir truk yang ternyata dalam keadaan mengantuk.


"Ra..." Rasya bersimpuh lalu dengan tangan bergetar Rasya meraih tubuh Dara dan menahan tubuhnya dalam pelukannya. Tak peduli dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. "Kamu harus kuat. Kita segera ke rumah sakit."


"Kak Rasya...." suara Dara sangat lirih yang hampir saja tidak bisa ditangkap telinga Rasya. "Maafin aku..."


"Iya gak papa.."

__ADS_1


"Aku yakin Kak Rasya pasti bertemu dengan dia... Dia..." Dara sudah tidak melanjutkan perkataannya. Tubuhnya melemas dalam pelukan Rasya.


"Dara!! Dara!!!" Rasya memeriksa denyut nadi Dara yang sudah tidak terasa lagi. "Daraa!!!!" Rasya semakin memeluk tubuh Dara dengan erat. "Jangan tinggalin aku. Aku sayang sama kamu." Untuk pertama kalinya di umur yang sudah belasan tahun, dia menangis. Tidak peduli lagi dengan kerumunan orang yang melihatnya atau bahkan merekam mereka.


"Ra.." Rasya masih berusaha memanggil namanya berharap dia akan kembali. Tapi itu tidak akan terjadi. Rasya semakin menangis tergugu dan masih memeluk Dara dengan erat. Hatinya terasa hancur dan sakit yang tidak ada tandingannya ketika melihat seseorang yang dicintainya meregang nyawa dalam pelukannya.


Rili dan Alvin menerobos kerumunan dan berhasil melihat pemandangan kelu itu. Kini lutut Rili terasa melemas. Dia ikut bersimpuh di dekat Rasya. "Sekali lagi, aku terlambat." tangis sudah tidak bisa dia tahan.


"Rili, ini bukan salah kamu." Alvin meraih pundak Rili dan mengusapnya untuk memberi ketenangan. Tapi netranya kini menatap sesosok yang tak jauh dari mereka berdiri.


Dara...


Alvin yang telah terbiasa melihat makhluk tak kasat mata, kali ini bulu kuduknya terasa merinding. Tubuhnya sedikit menegang dan napasnya tercekat beberapa saat.


Terlihat Dara hanya terdiam dan menunduk pucat menatap dirinya sendiri yang masih berada dalam pelukan Rasya. Beberapa detik kemudian Dara pergi bergandengan tangan dengan Dewi.


Alvin menutup matanya sesaat, menekan ujung hidungnya. Ini pemandangan memilukan yang pernah dia lihat selama dia bisa melihat makhluk itu.


Lalu dia kini menatap dua kakak adik yang masih menangis di sampingnya saat ambulance dan mobil polisi datang.


"Lo ikut aja. Biar gue urus motor lo." kata Alvin pada Rasya.


Rili masih bergelayut di lengan Alvin sambil menangis terisak saat berjalan menepi.


"Rili, udah kamu tenang ya. Semua udah terjadi..."


Rili semakin menangis terisak. Rasa bersalah itu singgah di hatinya. Dia sudah melihat jalan cerita tapi mengapa dia tetap tidak bisa merubah jalan cerita itu. Kali ini dia benar-benar merasa menyesal telah gagal menolong Dara.


"Udah ya..." Alvin meraih tubuh Rili dalam pelukannya. Tak peduli lagi jika mereka kini sedang berada di pinggir jalan. Atau bahkan beberapa pasang mata akan melihat mereka berpelukan.


"Al.. Apa gunanya sih aku mimpi kalau faktanya masih aja terjadi." kata Rili di sela isak tangisnya.


Alvin hanya terdiam. Seolah dia memikirkan sesuatu sambil mengusap punggung Rili agar lebih tenang.


"Aku gak mau punya six sense kayak gini." Rili melepas pelukan Alvin lalu menghapus air matanya dengan punggung tangannya. "Kamu ada cara buat hilangin ini?"


Alvin menatap lekat kedua mata Rili yang sembab. Dia tahu ini berat. Apalagi bagi seorang perempuan seperti Rili. "Aku akan tanya sama kakek soal masalah kamu. Kalau six sense kamu bisa ditutup. Aku juga akan tutup six sense aku."

__ADS_1


"Benar bisa ditutup?"


Alvin tidak begitu yakin. Dulu, kakeknya pernah menawarkannya untuk menutup mata batinnya tapi dia tidak mau karena dia ingin berpetualang sesaat dengan makhluk tak kasat mata itu untuk sekedar tahu tentang kehidupannya.


"Nanti aku tanyakan ya. Kalau memang bisa, kehidupan misteri kita akan berakhir."


"Beneran ya?"


Alvin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil sebagai penenang Rili. "Ya udah. Jangan nangis lagi ya. Kita susul Rasya ke rumah sakit. Kamu hubungi juga kedua orang tua kamu."


Terlebih dahulu Alvin menuntun motor Rasya lalu dia titipkan pada sebuah ruko yang ada tempat parkirnya.


"Pak, nitip ini ya..." kata Alvin pada tukang parkir yang berada di depan ruko.


"Iya mas. Taruh aja disitu. Kalian keluarga korban?" tanya tukang parkir itu pada Alvin.


"Bukan, kami temannya."


"Terus yang nangis sambil meluk tadi itu pacarnya?"


"Iya, bisa dibilang seperti itu."


"Wah, kasian ya. Ini salah sopir truknya. Udah tau ngantuk malah ugal-ugalan. Apesnya mbak tadi."


Alvin hanya mengangguk. "Makasih ya, Pak. Saya permisi." Alvin melangkah pergi dari tempat parkir menuju Rili yang tengah berdiri di dekat motornya.


Alvin segera menaiki motornya bersama Rili menuju ke rumah sakit. Setelah sebelumnya Rili telah menghubungi kedua orang tuanya terlebih dahulu.


💞💞💞


.


.


.


Maaf Dara, aku terpaksa hapuskan kamu.. 🤧

__ADS_1


.


Seperti kata Alvin, kisah misteri kita akan segera berakhir. 🤧🤧


__ADS_2