
Setelah mendapat panggilan dari Rili saat dia berhenti di SPBU, Alvin segera mempercepat laju motornya. Dia yakin, ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi di rumah Rili. Semoga saja semua belum terlambat.
Alvin menghentikan motornya di depan rumah Rili yang berpapasan dengan Rasya. "Sya, kayaknya ada yang gak beres di rumah lo." Alvin turun dari motor dan berjalan cepat menuju pintu yang tertutup.
"Maksud lo?" Rasya mengikuti Alvin.
Pintu itu sulit terbuka. Hingga terjadi beberapa kali dobrakan baru pintu itu berhasil terbuka.
Kedua pria ini terkejut saat melihat darah yang mengalir dari telapak tangan Rizal karena genggamannya menahan pisau agar tidak melukai jari Rili. Sedangkan tangan Rili masih dicekal Dara.
"Dara!!!" Rasya segera menarik tubuh Dara cukup kuat sedangkan Alvin berusaha melepas tangan Dara dari pisau dan tangan Rili.
"Dara, sadar Ra!!! Dara!!!" Rasya mengguncangkan tubuh Dara. Tapi napas Dara semakin memburu tak beraturan.
"Lepasin!!" Alvin akhirnya berhasil melepas tangan Dara dan membuat pisau yang telah berlumuran darah itu jatuh ke lantai.
Rizal meringis kesakitan merasakan perih di telapak tangannya yang terluka cukup dalam.
"Dara!!! Sadar Ra!! Dara!!" Rasya masih terus memanggil nama Dara di alam bawah sadarnya.
"Papi.. Tangan Papi..." Rili tidak sanggup melihat luka di telapak tangan Papinya yang menganga lebar.
"Rili, cincin kamu dulu." Alvin segera meraih tangan Rili dan melepas cincin itu dengan segala keyakinan hatinya.
__ADS_1
Cincin itu berhasil dilepas. "Rili, aku berhasil melepas cincin kamu." Mereka saling bertatap nanar untuk sesaat. Kemudian Alvin segera menghampiri Dara yang masih terus berontak dalam dekapan Rasya.
"Sya, cincinnya. Ini harusnya Dara yang pakai. Lo sematkan di jari Dara."
"Tapi, cincin apa? Aku sama Dara itu..." Rasya tidak yakin. Bukankah katanya itu cincin sakral. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan Dara, dan satu hal lagi Rasya hanya mencinta tanpa saling mencintai.
"Lo harus yakin. Segera sadarkan Dara!!" Alvin membantu menahan tubuh Dara yang masih berkali-kali memberontak.
Rasya berusaha meraih tangan Dara dan membuka jemarinya. Sangat sulit. Tangan itu menggenggam rapat.
"Dara!! Tolong kuasai diri kamu!!" Rasya mencengkeram erat kedua bahu Dara lalu mengecup mata Dara sampai beberapa saat. "Dara sadar! Ayo kamu bangun!"
Suara Rasya terdengar sampai di alam bawah sadar Dara. Tubuh Dara melemas dan limbung. Rasya segera memakaikan cincin itu pada jari manis Dara. Rasya masih terus mendekap tubuh lemah Dara. Badannya bergetar. Dia tahu, Dara sedang ketakutan dan terisak dalam diamnya.
"Iya!" Alvin segera menyusul Rili dan kedua orang tuanya yang sudah bersiap masuk ke dalam mobil.
Sedangkan di dalam rumah, Rasya masih berusaha menenangkan Dara. Tangis Dara semakin pecah saat melihat darah yang tercecer di lantai.
"Apa yang udah aku lakuin..." Dia menangis tergugu. Tak sadar, jika dia sudah melakukan hal yang sadis.
"Dara, udah. Kita tahu ini bukan mau kamu. Mulai sekarang semoga kamu tidak hilang kontrol lagi." Rasya melonggarkan dekapannya. Dia kini menatap Dara yang baru sadar cincin itu sudah tersemat di jari manisnya.
"Cincin ini siapa yang memakaikan?" Dara memandangi cincin itu.
__ADS_1
"Aku." jawab Rasya.
Dara melebarkan matanya. Dia menggeser cincin itu dan ternyata bisa lepas.
"Kenapa? Tadi Alvin yang nyuruh aku pakaikan cincin itu ke kamu. Aku sebenarnya takut justru hal buruk akan terjadi sama kamu. Tapi mungkin saja memang cincin itu lebih tepat berada di jari kamu."
Dara memundurkan dirinya agar terlepas dari pelukan Rasya. Bagaimana bisa? "Kak Rasya, kamu tahu gak, cincin ini adalah cincin cinta sejati. Hanya cinta sejati yang boleh menyematkan cincin ini pada jari pasangannya. Kalau tidak maka cincin ini tidak akan terlepas seperti yang dialami Rili. Tapi..." Dara menatap Rasya. "Cincin ini bisa aku lepas."
Rasya kembali meraih tangan Dara dan mencoba melepas kembali cincin itu. Rasya menautkan alisnya. Apa Dara tidak mengerti akan perasaannya? Ya jelas tidak mengerti, Rasya sama sekali tidak pernah mengungkapkannya.
"Ra, sebenarnya aku cinta sama kamu. Sejak dulu, sejak aku kenal sama kamu. Ya, mungkin kita dulu masih bocah dan sekarang pun masih tetap sama tapi yang jelas, aku yakin suatu saat nanti kita bisa saling mencintai." ketidak-mengertian itu harus segera diakhiri.
Dara yang sedari tadi menundukkan pandangannya kini menatap kedua netra Rasya. "Tapi, aku... "
"Ssttt, aku tahu perasaan kamu. Biar aku dulu yang mencinta. Dan inilah bukti ketulusan cinta aku."
Dara masih terus menatap lekat Rasya. Ingin dia berkata tapi tidak sanggup. Apalagi saat tubuhnya kembali Rasya raih dalam pelukannya. Memberi kenyamanan pada Dara dari kegamangan hatinya.
💞💞💞
.
.
__ADS_1
Duh, Kak Rasya bucin parah... 🤧🤧