
Keesokan harinya, seperti biasa Rili berangkat dengan Rasya. Mereka sampai di tempat parkir bebarengan dengan sang pujaan hatinya Rili.
Satu senyuman manis langsung didapat Rili. Wajah mereka sangat cerah, secerah pagi hari itu.
Setelah Rili turun dari motor dan melepas helmnya, kini dia berdiri di samping Alvin.
"Bang Rasya, sekali-kali boleh dong nanti anter Rili pulang..." kata Alvin. Ya, untuk mengantar Rili pulang pun harus minta izin dulu pada sang Kakak.
Rasya melirik Alvin, lalu menjawab. "Iya, tapi jangan kemana-mana. Langsung pulang."
"Nah, gitu dong. Kayaknya tadi gue lihat Dara gak bawa motor. Bisa kali nanti dianterin juga."
Seketika Rasya melihat seseorang yang berjalan menuju lorong kelas. Dia bergegas menyusul langkah itu.
"Es kutub selatan udah bucin ternyata."
Rili hanya tersenyum lalu berjalan sejajar dengan Alvin.
"Aku penasaran deh, Rasya udah nyatain perasaannya belum sih. Secara dia itu dingin banget."
Rili mengangkat kedua bahunya. Dia sendiri juga tidak bertanya pada Rasya. Meskipun bertanya pun Rasya pasti tidak akan menjawab pertanyaan Rili. "Kalau dilihat-lihat sih kayaknya udah." Sedetik kemudian Rili teringat dengan mimpinya kemarin. "Hmm, Vin, ada yang mau aku tanyain..."
Belum selesai Rili berkata, tiba-tiba Alvin menepuk jidatnya tanda ingat sesuatu yang sempat terlupa. "Aku belum ngerjain PR Matematika kemarin gak sempat. Nanti aja ya kita ngobrol." Alvin mengusap pipi Rili sesaat lalu mempercepat langkahnya menuju kelasnya.
Rili menghela napas panjang menatap punggung Alvin yang kian menjauh.
"Ehem, ada yang makin so sweat aja." Kini ada Nana yang mensejajarkan langkahnya dengan Rili.
Rili hanya tersenyum.
Pandangan mata Nana kini tertuju pada Rasya yang sedang mengobrol dengan Dara. Hal itu sangat memancing keingintahuan Nana.
__ADS_1
"Rili, Kak Rasya kok deket sama Dara?"
"O.. Kan Kak Rasya suka sama Dara. Mereka udah kenal sejak kecil."
"Ah, masak sih?! Serius lo?!"
"Iya. Dua rius malah. Otw sah bentar lagi."
Perkataan Rili mampu menoreh luka di hati Nana. "Hancur sudah harapan gue buat jadi kakak ipar lo."
"Udah gak usah lebay. Kan dari dulu Kak Rasya juga gak suka sama lo."
Perkataan Rili yang terang-terangan bagai menabur garam di atas luka. Perih. "Ih, jahat banget sih lo. Tapi emang bener sih."
...***...
Saat istirahat, Rili masih menunggu kedatangan Alvin. Entah mengapa cowok itu jika ditunggu seolah tidak merasa. Biasanya datang tanpa diduga, sekarang justru tidak datang jika diharapkan.
"Ketimbang nungguin gitu telpon sana. Ntar jam istirahatnya keburu habis." suruh Nana yang duduk di dekat Rili.
"Bilang aja kalau kangen, ingin berduaan terus."
Rili kini memanggil Alvin lewat WA. Beberapa saat kemudian Alvin sudah mengangkatnya.
Hallo, nanti aja ya ngobrolnya. Aku lagi dipanggil kepala sekolah.
"Ngapain?"
Nanti sepulang sekolah aku ceritain. Kamu tunggu ya di taman belakang.
"Oke." Rili memutuskan panggilannya. Sebenarnya dia sudah sangat penasaran. Ditambah lagi Alvin dipanggil kepala sekolah. Jangan-jangan ada pertukaran pelajar atau apa. Eh, tapi kan Alvin sudah kelas XII mana mungkin. Rili terus menerka-nerka.
__ADS_1
Meskipun fokus dengan pikirannya, kini dia melihat Dara yang sedang berjalan sendiri.
"Dara!" panggil Rili yang membuat Dara menghentikan langkahnya dan mendekati mereka berdua. "Sini, gabung sama kita!"
Nana melirik Rili. Bukannya tidak mau tapi bagaimana pun juga Nana masih merasa Dara adalah saingannya.
Dara mengangguk lalu duduk di depan mereka berdua.
"Hmm, Rili sorry ya soal kemarin."
"Udahlah, lupain aja. Semua udah berlalu. Lagian kan itu bukan mau lo."
Dara hanya mengangguk kaku.
"Lo udah jadian sama Kak Rasya?" Pertanyaan Rili memang terkesan terlalu to the point. Tanpa rasa sungkan lagi demi memutus rasa keingintahuannya.
Dara hanya menggelengkan kepalanya.
Seulas senyum tipis merekah di bibir Nana walau dia sembunyikan di balik sedotan minumannya.
"Loh? Kirain udah jadian. Kak Rasya belum nembak lo? Duh, emang bener es kutub selatan."
Dara tersenyum untuk menutupi kekakuannya. "Bukan. Bukan gitu. Gue udah tahu perasaan Kak Rasya cuma gue yang belum bisa jawab."
"Ke-" Rili menghentikan pertanyaan selanjutnya. Hampir aja lidah ini tak bertulang. Udah tahu Dara masih suka sama Alvin ngapain gue tanya lagi. Nanti ujung-ujungnya gue sendiri yang jadi korban perasaan.
"Eh, santai aja. Kak Rasya itu orangnya sabar. Sabar banget pokoknya. Iya. Galaknya cuma sama adiknya aja."
Lagi, Dara hanya tersenyum kecil dan terkesan dipaksakan.
"Kita bisa dong mulai sekarang temenan. Iya kan Na." Rili menyenggol sikut Nana agar segera menjawabnya.
__ADS_1
"Iya dong." Nana berusaha mencairkan dirinya sendiri. "Biar tambah rame kita." Walau sebenarnya dalam hatinya tidak rela.
💞💞💞