Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Akan Tetap Bersamamu


__ADS_3

Rizal masuk ke dalam ruang rawat vip Lisa. Wajahnya sangat kusut dengan tampilan yang nyaris acak-acakan. Dia pandang istrinya yang berbaring dan masih berbicara dengan kedua anaknya tanpa rasa sedih. Dia tahu persis, dia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya di depan kedua anaknya.


Kedua mata yang diperban itu tidak akan melihat mata nanar Rizal yang sedari tadi hanya mampu menatap tanpa bicara.


"Mi, cepat sembuh ya.. Mami pasti gak akan kenapa-napa." Rili masih saja bergelayut di pundak Maminya.


"Iya. Kamu pulang ya sama Rasya. Nanti biar Oma sama Opa temani kalian."


"Tapi Mi, Rili masih mau nemenin Mami di sini."


"Sayang, kamu kan baru sembuh."


Rili akhirnya melepas tangannya dan menegakkan dirinya. Lalu kini pandangannya menatap Papinya yang hanya berdiri kaku terdiam membisu.


Rizal bisa menangkap pertanyaan hanya dari sorot mata kedua anaknya ini. Kenapa? Iya, pasti itu yang akan ditanyakan mereka.


Rizal hanya menggelengkan kepalanya pertanda bahwa mereka tidak boleh menanyakan apa-apa. "Sebelum hari mulai malam, kalian pulang aja ya. Tadi Papi sudah telpon Oma sama Opa biar nemenin kalian. Biar Papi yang jaga Mami di sini. Cuma semalam kok, besok Mami udah boleh pulang."


Lisa baru tersadar, jika ada suaminya di ruangannya.

__ADS_1


"Iya Pi. Mi, kita pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati."


Setelah Rasya dan Rili keluar dari ruangan, Rizal menutup pintu lalu berjalan mendekati istrinya yang nampak membuang muka sambil menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya saling meremas. Rizal sangat mengerti, pasti Lisa sekarang sedang ketakutan. Takut jika masa lalunya akan terulang kembali. Takut jika Dokter akan memvonis kedua matanya telah rusak dan tidak akan bisa melihat lagi.


"Sayang..." panggil Rizal untuk memecah kebisuan. Jujur saja hatinya sangat terluka melihat keadaan Lisa saat ini. Dia belai rambut Lisa. Dia bisa merasakan tubuh Lisa yang semakin bergetar. Pasti saat ini dia sedang menangis walau tanpa air mata.


"Apa kata Dokter?" tanya Lisa dengan suara yang sangat parau.


Rizal tak menjawab. Dia justru melepas sepatunya lalu naik ke atas brangkar dan membaringkan tubuhnya di samping kiri istrinya. Dia hapus jarak di antara mereka dengan sebuah pelukan hangat. Dia kecup beberapa kali puncak kepala Lisa.


"Papi? Jawab pertanyaan aku."


Rizal menghela napas panjang mengingat perkataan Dokter itu. "Dokter masih belum bisa memastikan. Kita tunggu 4 hari, setelah lukanya mengering baru nanti perbannya dibuka. Pasti kamu bisa melihat sayang." Rizal semakin mengeratkan pelukannya, berusaha memberi kekuatan untuk istrinya.


"Pi, kalau seandainya aku gak bisa lihat lagi gimana?"


Pertanyaan Lisa begitu menghujam jantung Rizal. Dokter hanya bilang peluang Lisa bisa melihat itu sangat kecil. Kini setumpuk rasa menyesal singgah di hatinya. Mengapa juga tadi dia mengijinkan Lisa berangkat sendiri ke rumah Karin. Andai saja dia tidak mengijinkan pasti semua tidak akan seperti ini.

__ADS_1


"Apa Papi akan ninggalin aku?"


"Sayang, kamu ngomong apa sih? Aku gak akan ninggalin kamu dalam keadaan apapun." Rizal meraih wajah Lisa agar menghadap ke arahnya walau Lisa tidak akan bisa melihatnya. "Seburuk apapun hasilnya nanti, aku selalu ada buat kamu. Aku bisa jadi mata kamu, aku bisa jadi kaki dan tangan kamu. Semua cinta dan raga aku itu buat kamu dan hanya milik kamu."


Lisa hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bisa membayangkan jika nanti dirinya tidak bisa melihat wajah seseorang yang selalu menemaninya ini.


"Jangan digigit bibirnya. Sini gigit bibir aku aja." Rizal meraup bibir Lisa dengan bibirnya tapi Lisa hanya terdiam, menutup bibirnya dan tanpa reaksi. "Kok gak dibalas, hem.. Biasanya kan kamu paling pintar ngimbangi permainan aku."


"Papi, ini di rumah sakit."


"Loh, sejak kapan kamu pilih-pilih tempat buat ciuman." Rizal terus menggoda istrinya untuk menghilangkan rasa sedih yang ada di hati Lisa maupun hatinya. "Sayang, aku cinta sama kamu." suara Rizal yang penuh perasaan itu begitu dekat di telinga Lisa.


"Aku juga cinta sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku ya."


"Gak akan pernah." Detik berikutnya, Rizal kembali mencium bibir istrinya. Menciumnya dengan lembut. Ciuman yang saling berbalas saat itu mampu meluruhkan segala beban yang ada untuk sesaat. Bibir yang tidak pernah bosan mereka rasakan di setiap harinya.


Rizal melepas ciumannya lalu menuntun tangan Lisa yang terinfus dengan perlahan kembali ke samping kanan Lisa setelah sebelumnya tangan itu berpindah ke pinggang Rizal. "Sementara biar aku aja yang meluk ya. Takut infus kamu kegeser. Sekarang, kamu tidur. Semoga besok kamu jauh lebih baik..." Satu kecupan di kening Lisa mengantarkannya menuju alam mimpi...


💞💞💞

__ADS_1


Aduh duh Papi Rizal.. 😘


Like dan komen, monggo mampir dulu. 😅. bisa kali kiriman Mami Lisa bunga.. 🌹🌹 atau kopi buat Papi Rizal.. 🤭🤭


__ADS_2