Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Sampai Pingsan


__ADS_3

"Bbbrrruuakkk!!!" Pintu berhasil didobrak kedua pria ini. Setelah pintu terbuka, mereka berdua segera berlari masuk ke dalam kelas.


"Dara lepasin Rili!!!" Rasya menarik tubuh Dara hingga menjauh dari tubuh Rili.


"Rili.." Alvin segera berjongkok dan mendekap tubuh Rili yang sudah tidak berdaya. "Maaf aku terlambat."


"Sakit, Vin."


"Dara sadar, Ra.. Dara!!"


Dara sempat memberontak beberapa kali sebelum akhirnya dia melemas. "Apa yang..." Dara menatap Rasya lalu beralih pada Rili yang lusuh tak berdaya. Dia kini menangis. "Ini bukan mau aku... Maaf..." Dara berjongkok sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangis Dara pecah. Jujur saja dia juga merasa sangat lelah dengan semua ini. Ini bukan maunya. Ini bukan inginnya.


"Ra.. " Rasya ikut berjongkok lalu meraih pundak Dara yang bergetar. "Ra, tenangin diri kamu.."


"Apa yang sakit Rili?" Alvin menyandarkan Rili pada lengannya lalu merapikan rambut-rambut yang menutup wajahnya kemudian mengusap pelan setitik darah yang ada di ujung bibirnya. Dia sangat khawatir melihat gadisnya yang terus meringis kesakitan dengan wajah pucatnya.


"Badan aku sakit semua..." Rili sudah tidak sanggup menahan tubuhnya. Dia kini melemas dan pingsan.


"Rili... Rili bangun!" Alvin semakin panik saat melihat kedua mata Rili terpejam. Dia menepuk pelan pipi Rili agar tersadar.


"Rili..." Melihat adiknya pingsan, Rasya sangat khawatir tapi dia tidak bisa meninggalkan Dara. "Alvin, biar gue telpon Papi. Lo tolong bawa Rili ya."


Rasya segera menghubungi Papinya. "Hallo Pi. Papi dimana?"


Iya, Sya. Papi kebetulan lagi cek lokasi di dekat sekolah kamu. Kamu ada rapat OSIS? Gak papa biar Papi jemput Rili.


"Papi jemput Rili sekarang ya, Rili pingsan habis jatuh.."


Iya.. Iya.. Papi segera ke sana...

__ADS_1


Alvin mengangkat tubuh Rili dengan kedua tangannya. Setelah Rasya menutup panggilannya dengan Rizal, Alvin segera berjalan cepat keluar dari kelas dan menuju depan sekolah.


Rili, semoga kamu gak kenapa-napa ya...


Setelah dekat dengan gerbang sekolah, nampak mobil Rizal berhenti. Rizal keluar dari mobil dengan tergesa.


"Astaga Rili..." Rizal meraih tubuh putrinya dan menahannya dengan pelukan. "Rili kenapa?"


Alvin terdiam beberapa saat. "Hmm, Rili jatuh Om."


"Rasya mana?"


"Rasya masih ada urusan." jawab Alvin. Dia sendiri bingung harus berbicara apa.


"Kamu bisa nyetir mobil?"


"Bisa Om."


Setelah menerima kunci mobil, Alvin segera membukakan pintu belakang dan membantu Rili masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu, Alvin segera masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobil Rizal.


"Kita ke rumah sakit mana Om?" tanya Alvin sambil mengemudi.


"Kita ke klinik langganan saya saja. Kamu lurus nanti setelah dua kali lampu merah belok kanan."


"Iya, Om."


Rizal semakin mendekap putrinya. "Sayang, bangun.. Kenapa bisa kayak gini?" Rizal kini meletakkan kepala Rili di pangkuannya. Mengusap pipi Rili pelan. "Rili..."


Alvin sesekali melihat Rizal dan Rili dari kaca. Sesayang itu Rizal sama putrinya, pantaslah Rili tidak tega merusak kebahagiaan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Papi..." Rili membuka matanya. Hatinya terasa nyaman saat dia kini berada dalam pangkuan Papinya. "Papi Rili takut.. " Rili melingkarkan tangannya pada leher Rizal.


"Kamu kenapa? Papi khawatir banget sama kamu."


"Papi Rili takut..." Hanya kalimat itu yang mampu Rili ucapkan. Dia semakin memeluk Papinya mencari rasa nyaman yang tiada duanya.


Rizal mengusap lembut rambut Rili yang tergerai. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Sayang, cerita sama Papi ya. Ada apa sebenarnya?"


Rili tak menjawab hanya isak tangisnya saja yang terdengar.


Alvin merasa kali ini dirinya harus bertindak. Dia tidak mungkin membiarkan Rili terus diburu oleh hantu itu. "Maaf Om. Apa Om nanti ada waktu, saya mau bicara soal Rili."


Mendengar kalimat Alvin, entah kenapa jiwa ke-Bapak-an Rizal seketika muncul. Dia jadi berpikir yang tidak-tidak tentang kedekatan Alvin dengan Rili. "Ada apa? Apa yang sudah kamu lakuin sama anak saya?!"


Suara Rizal yang cukup keras membuat jantung Alvin seketika terpacu dengan cepat. Belum apa-apa saja sudah dimarahi sama calon mertua. "Maaf Om. Bukan itu maksud saya."


"Lalu apa?! Saya gak akan biarin kamu sakiti ataupun nyentuh Rili!!"


Untung kefokusan Alvin mengemudi mobil tidak terpecah. Dia telan salivanya lalu menutup rapat bibirnya, takut jika salah bicara lagi. Sialnya, Alvin sudah pernah menyentuh bibir putri dari bapak yang ada di belakangnya sekarang, bahkan lebih dari sekedar menyentuh yang sudah membuatnya kecanduan.


"Papi, justru Alvin yang selalu nolong Rili. Sebenarnya Rili juga mau cerita sama Papi." Rili kini melepas pelukannya dan duduk bersandar di dada Papinya.


"Ya sudah, nanti saja di rumah ya. Yang penting sekarang kita periksa dulu kesehatan kamu. Papi takut kamu kenapa-napa."


Rili hanya mengangguk. Ya, memang badan Rili saat itu masih terasa sakit semua. Terutama di bagian punggung yang tadi terbentur tembok.


Alvin kini hanya berani bertanya tentang letak klinik itu. Selebihnya dia memilih untuk diam.


💞💞💞

__ADS_1


Ternyata Alvin takut juga kena semprot calon papi mertua.. 🤭🤭🤭


__ADS_2