Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Dalam Bahaya


__ADS_3

Rizal duduk sendiri di meja makan. Biasanya mereka makan bersama sambil bercanda dan mengobrol. Ya, di saat sang ratu rumah sedang sakit semua berubah.


"Rasya, apa gak bisa izin dulu buat gak ikut ekskul basket?" tanya Rizal saat melihat putranya sudah siap untuk berangkat mengikuti ekskul basket.


"Gak bisa, Pi. Soalnya sudah terlanjur janji sama anak kelas X. Rasya cuma bentar kok." Rasya mengambil air putih lalu meminumnya.


"Kamu udah sarapan?"


"Udah, Pi."


"Kamu pamit dulu sama Mami."


Rasya akan berjalan tapi terhenti saat Maminya yang sedang dituntun Rili berjalan menuju meja makan.


"Mi, Rasya ke sekolah dulu ya ada ekskul basket." Rasya mencium tangan Maminya untuk berpamitan.


"Iya. Hati-hati ya.."


"Iya." Setelah itu Rasya berlalu.


Sedangkan Lisa yang masih dibantu putrinya kini duduk di meja makan yang berseberangan dengan Rizal. Rizal memberi kode putrinya agar tidak memberi tahu Lisa bahwa dirinya juga sedang duduk di sana.


"Mami makan dulu ya.. Rili suapin..." Setelah Rili mengambil makanan lalu dia duduk di sebelah Maminya.


"Yang masak nasi siapa Rili? Kamu?"


"Nggak Mi. Papi yang masak, yang pesen makanan juga Papi."


"Rili, kamu udah besar harusnya kamu yang masak. Jangan Papi."


"Hmm, iya Mi. Tadi Rili kesiangan." Rili mulai menyuapi Maminya sambil sesekali melirik Papinya yang masih saja menatap nanar.


"Papi kamu dimana?"


"Papi di teras depan Mi sambil lihat laptop." Dengan telaten Rili terus menyuapi Maminya sampai habis.


"Mami kenapa marah sama Papi? Kasian Papi." Setelah Maminya minum obat dan air putih, Rili berusaha mencari tahu kenapa mood Maminya bisa berubah.


"Mami gak marah. Mami cuma kecewa sama diri sendiri. Mami sekarang udah gak bisa apa-apa lagi. Mami gak mungkin terus bergantung sama Papi kamu."


"Mami, bentar lagi kan Mami udah bisa lihat."


"Mami gak yakin Rili."

__ADS_1


Perkataan Lisa berhasil membuat kedua orang yang sekarang berada di dekatnya meneteskan air mata walau tanpa bersuara.


"Mami harus yakin dong. Kami semua sayang sama Mami." Rili kembali menanyakan sesuatu. "Kayaknya Mami kemarin udah gak sedih. Kenapa sekarang jadi sedih? Rili jadi ikutan sedih lihat Mami kayak gini. Senyum dong, Mi."


Lisa memaksakan senyumnya untuk putri tersayangnya. "Semalam Mami mimpi, Papi kamu ninggalin Mami sama wanita lain karena Mami udah cacat."


Perkataan Lisa membuat mata Rizal melebar. Jadi itu penyebabnya. Perasaan Lisa memang sedang sangat sensitif, dia pasti takut jika hal itu memang terjadi.


"Mami, itu cuma mimpi. Papi itu sayang banget sama Mami."


"Tapi Rili, kamu pernah bilang kan kalau Dewi mau ambil miliknya. Dewi udah ambil matanya, dan mungkin saja..." Lisa tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Rizal kini berdiri dan berjalan pelan tanpa suara. Dia harus segera melakukan sesuatu.


"Mami, jangan berpikir yang tidak-tidak ya. Rili yakin semua akan baik-baik saja." Rili memeluk tubuh Maminya dari samping.


Beberapa saat kemudian Rizal kembali dan sudah memakai jaket dengan membawa helm dan kunci motor. "Rili, kamu kunci pintunya ya, Papi mau keluar sebentar."


"Papi mau kemana?"


"Mau ambil barang ketinggalan di kantor."


Rili menyipitkan matanya. Tidak biasanya Papinya ke kantor membawa sepeda motor.


"Papi sebenarnya mau kemana?" tanya Rili yang sangat penasaran. "Tumben bawa motor?"


"Mau ke kantor. Biar cepat jadi bawa motor. Kamu kunci ya pintunya. Jangan buka sebelum Papi atau Kak Rasya datang."


"Iya Pi. Hati-hati." Rili segera menutup pintu dan menguncinya. Ada perasaan tidak enak seiring kepergian Papinya.


Aku harus segera selesaikan masalah ini. Sebenarnya ada apa sama keluarga Dewa?


Rizal melajukan motornya dengan kencang menuju rumah sahabat lamanya, Dewa. Masalah ini harus segera terselesaikan.


Beberapa saat kemudian, Rizal sampai di depan rumah Dewa. Dia segera turun dari motor dan bergegas menuju pintu masuk rumah Dewa. Tiga ketukan pintu sudah terbuka, munculah Dewa dibalik pintu itu.


"Rizal!" Dewa cukup terkejut. Bahkan dia saja belum sempat menjenguk Lisa ataupun menanyakan keadaannya.


Tidak seperti biasanya. Rizal kini tanpa senyum bahkan nyaris tanpa ekspresi. Harusnya mereka berpelukan setelah sekian lama tidak bertemu. Tapi tidak, perasaan Rizal benar-benar kacau untuk saat ini.


Rizal masuk dan duduk di dekat Dewa.


"Bagaimana keadaan Lisa? Maaf aku belum sempat jenguk."

__ADS_1


"Buruk, serpihan kaca itu mengenai mata Lisa."


"Lalu?"


Rizal menggelengkan kepalanya. "Masih menunggu kepastian dua hari ke depan." Rizal menghela napas panjang. "Wa, sebenarnya aku ke sini mau tanya soal kejanggalan yang terus dialami keluarga aku. Kamu tahu gak masalah cincin yang diberikan Bu Maya pada Lisa?"


"Cincin? Aku gak tahu sama sekali soal cincin itu."


Rizal mengusap wajahnya. Dia kali ini merasa putus asa.


Hidupku tanpa cintamu, bagai malam tanpa bintang... Cintaku tanpa sambutmu, bagai panas tanpa hujan...


Tiba-tiba terdengar suara lagu Risalah Hati dari Dewa19. Rizal ingat betul lagu itu adalah lagu kenangannya dengan Dewi. "Lagu ini?"


"Pasti Dara tahu sesuatu." Dewa berdiri dan akan memanggil Dara tapi ternyata Dara sudah berjalan mendekat dan lagu itu sudah tidak terdengar lagi.


"Pa, aku mau ke rumah teman."


"Mau ngapain? Papa mau tanya dulu sama kamu. Ini ada Om Rizal di sini. Kamu tahu sesuatu soal cincin atau masalah tentang Kak Dewi?"


Dara menoleh Rizal tapi pandangan mata Dara berhasil membuat Rizal seolah menghentikan detak jantungnya sesaat.


"Ada tugas kelompok Pa. Dara sudah ditunggu." Dara mencium tangan Papanya lalu keluar dan sudah membawa helm serta kunci motornya.


"Dara? Seperti ada yang aneh dengan Dara."


"Iya, memang dia sangat tertutup. Kemarin Dara sempat bilang sama Karin soal Dewi karena Dara sempat membaca semua buku diary Dewi. Katanya Dewi ingin meraih kembali apa yang belum dia dapatkan."


"Maksudnya...." Rizal berpikir sejenak. Pikiran buruk tiba-tiba singgah di kepalanya. "Jangan-jangan Dara mau..." Seketika Rizal berdiri. "Aku harus pulang sekarang! Sepertinya Lisa dan Rili sedang dalam bahaya." Rizal berlari menuju motornya yang terparkir. Hal yang tidak terduga terjadi. Ban motornya kempes. "Sial!! Kenapa bisa bocor semua."


"Zal, kamu pakai mobil aku aja. Loh, ban mobil aku kenapa kempes juga!!" Dan ternyata keempat ban mobil Dewa juga bocor.


Rizal mengacak rambutnya frustasi. Dia merasa Lisa dan Rili dalam bahaya. "Ya Tuhan, tolong jaga Lisa dan Rili."


"Bentar-bentar. Kamu tenang dulu. Aku pinjamin motor tetangga sebelah dulu ya."


Rizal sudah sangat tidak sabar. Dia buang napasnya kasar. Dia menyesal sekali lagi. Kenapa dia tidak berpikir panjang untuk meninggalkan Lisa dan Rili hanya berdua di rumah. Harusnya dia juga tidak sampai datang ke rumah Dewa. Masalah yang dihadapinya membuat Rizal benar-benar tidak bisa berpikir jernih.


Semoga gak terjadi apa-apa sama kalian...


💞💞💞


.

__ADS_1


.


__ADS_2