
Cincin itu cantik ya... Semoga saja kelak kamu yang menyematkan cincin itu di jari manis aku... Karena kata Mama itu cincin cinta sejati. Hanya cinta sejati yang boleh menyematkan cincin itu... Semoga saja kamulah cinta sejati aku, Rizal.
Rizal! Rizal! Rizal!
"Ayolah. Stop!!!" Dara merobek kertas itu lalu menutupnya kasar. Itu adalah sebuah buku diary yang dia temukan dalam kamar yang sekarang dia tempati. Bukan lancang diam-diam membaca buku diary seseorang tapi pemilik dari kenangan itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Setumpuk barang-barang kenangan itu masih saja tersisa di atas meja belajar yang sekarang Dara pakai.
"Kamu udah gak akan bisa kembali lagi ke dunia ini. Jangan jadiin aku alat untuk mengambil apa yang kamu mau!! Harusnya kamu udah tenang di sana sama nenek!!"
Dara mengusap wajahnya kasar. "Kalau nenek kasih cincin itu sama Lisa, kenapa kamu yang marah!! Kamu sudah mati!! Sudah tidak ada lagi cinta sejati itu!!"
Dara kini beralih pada beberapa foto Rizal. "Dia!! Dia juga udah bahagia sama keluarganya." Dara menunjuk foto Rizal. "Dan aku!! Aku gak ada niat buat sakiti Rili!! Sakit hati aku itu biar aku sendiri yang simpan!! Kamu gak berhak mencampurinya!!"
Dara menumpuk kasar beberapa buku diary beserta foto-foto kenangan bersama Rizal. Karena semua itu telah membuatnya ikut masuk dalam masalah Dewi. Napas Dara tidak beraturan dan badannya bergetar karena rasa marah serta takut bercampur jadi satu.
Dia kini membawa semua barang itu menuju halaman belakang. Memasukkannya kasar pada tong besi. Dia ambil korek kayu, membukanya lalu mengambil satu batang korek dan dengan satu gesekan korek itu menyala kemudian dilemparnya tepat di atas setumpuk kenangan yang harus segera terbakar.
"Dara, apa yang kamu lakuin?" Karin berlari menghampiri putrinya dan melihat apa yang dilakukannya. "Astaga, ini semua kenangannya Kak Dewi. Kenapa kamu bakar? Nanti Papa kamu marah loh." Karin mencari kain lalu segera menutup api yang masih kecil itu agar gagal menyulut lebih lebar.
"Ma, pemilik kenangan itu udah gak ada di dunia ini. Jangan biarkan kenangan itu tetap ada yang membuat pemiliknya ingin memiliki kembali sesuatu yang belum bisa dia raih dalam hidupnya!!!" Dada Dara naik turun. Lalu dia membalikkan badannya dan berlari kembali ke kamar.
"Dara!!" panggilan mamanya sudah tidak lagi Dara dengar.
Karin membungkukkan tubuhnya lalu melihat apa saja yang ingin Dara singkirkan. Karin mengambil sebuah buku diary dan foto-foto Rizal.
__ADS_1
"Ma, ada apa?" pertanyaan Dewa membuat Karin menolehnya.
"Dara mau bakar ini."
Dewa berjalan mendekat lalu melihat setumpuk kenangan yang ditinggalkan Dewi dan memang sengaja Dewa simpan. Dia mengambil semua barang-barang itu. Dewa masih saja belum rela semua kenangan itu terbuang atau bahkan hangus terbakar.
"Pa, sebenarnya Rili kemaren ke sini."
"Rili siapa?"
"Rili, Pa. Rizal dan Lisa."
"Putrinya?" seketika Dewa kini menatap Karin yang dibalas anggukan oleh Karin. "Rili teman Dara?"
"Iya. Sebenarnya dia ke sini ada satu masalah."
"Katanya dia di teror sama Kak Dewi dan dia sering muncul di dekat Dara."
Dewa sangat terkejut. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi kembali.
"Pa, akhir-akhir ini Dara juga sering murung bahkan kadang dia marah-marah sendiri di dalam kamar. Kamu tahu kan, kalau Dara sangat tertutup. Tiap Mama tanya dia gak mau cerita. Aku jadi takut terjadi sesuatu sama Dara. Dan soal barang milik Dewi itu, Dara cuma bilang kalau Dewi menginginkan sesuatu yang belum bisa dia raih kalau kenangan itu masih saja tersimpan."
Dewa terpaku. Dia memikirkan setiap kalimat yang diucapkan Karin. Apa benar Kakaknya kembali dan menginginkan sesuatu. Detik berikutnya Dewa melempar semua barang kenangan itu ke dalam tong besi. Dia ambil korek api dan dengan cepat menyulut semua kertas-kertas itu dengan api.
__ADS_1
"Papa..." Karin terkejut dengan tindakan Dewa.
"Mungkin Dara benar, kenangan itu harus segera dimusnahkan." Dewa terus menatap api yang semakin besar melahap semua barang-barang kenangan Dewi.
Karin mengusap punggung suaminya yang terasa bergetar. Ya, Karin tahu sudah dua kali Dewa kehilangan seseorang yang penting dalam hidupnya. Bahkan tidak hanya itu saja, masa-masa sulit seringkali menghampiri mereka. Saat usahanya tidak berkembang dan justru akhirnya gulung tikar membuat mereka akhirnya kembali ke kota ini.
"Pa. Apa Papa gak mau ketemuan sama Rizal dan Lisa? Sudah hampir 5 tahun kan gak pernah ngasih kabar mereka."
Dewa menghela napas panjang lalu dia kini duduk di kursi taman sambil menatap nyala api itu yang masih menyala. Ada gelengan pelan dari Dewa.
Karin kini mengikuti suaminya duduk di sebelahnya.
"Ma, aku gak mau Rizal terus bantu keluarga kita. Mama ingat kan, terakhir kali Rizal ngasih aku modal. Aku berharap aku bisa segera kembaliin modal itu, tapi ternyata usaha kita malah bangkrut." Ada satu helaan panjang dari hidung Dewa. "Rizal itu terlalu baik, Ma. Aku gak mau terus merepotkan keluarga Rizal."
Karin tersenyum sambil mengusap pundak Dewa. Selama ini memang Karin lah kekuatan Dewa bertahan dalam keadaan terpuruk.
"Pa, kayaknya udah saatnya Papa ketemu sama mereka. Agar mereka juga gak mikir kalau kita yang menjauh atau marah. Aku sebenarnya juga kangen sama Lisa. Sampai Dara besar aku belum pernah sama sekali ketemu Lisa lagi."
Dewa meraih pundak Karin lalu menyandarkan kepala Karin di pundaknya. Mengusap lembut rambut Karin yang sebahu. "Iya. Kalau Mama mau ketemu Lisa gak papa. Nanti aja ya, nunggu aku libur."
Karin menganggukkan kepalanya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Dewa. Mengeratkan pelukannya yang selalu membuat mereka merasa nyaman.
💞💞💞
__ADS_1
Akhirnya muncul juga keluarga Dara.. Dikit dulu aja deh.. ðŸ¤ðŸ¤ Udah tahu kan alasannya. 😅
Jangan lupa like dan komennya kawan.. 😘