
Kamu itu cuma wanita cacat!! Udah gak pantas sama Rizal!! Wanita buta!! Bisanya cuma merepotkan!!
Seorang gadis cantik menggandeng tangan Rizal. Membawanya pergi dan meninggalkan Lisa yang semakin terpuruk.
"Nggak!!! Jangan pergi!!!"
Rizal yang duduk di depan laptopnya, seketika berdiri dan menghampiri istrinya saat mendengar igauan yang cukup keras. "Sayang, ada apa?"
Lisa masih saja mengigau dan menggelengkan kepalanya dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya. "Nggak!!"
"Sayang!!" Rizal menepuk pipi Lisa yang membuatnya akhirnya terbangun. "Ada apa? Mimpi buruk? Ini minum dulu." Rizal membantu Lisa duduk lalu mengambil air mineral yang ada di atas nakas.
Lisa segera meminumnya. Setelah itu dia menarik napas dalam. "Jam berapa?"
"Masih jam 6." Rizal memang sudah dari jam 4 bangun untuk menyelesaikan pekerjaannya di laptop setelah sebelumnya dia menanak nasi terlebih dahulu di rice cooker. Ya, setidaknya nasi sudah matang dan tinggal order makanan saja.
Lisa duduk termenung. Bisikan dalam mimpinya seolah terus terdengar di telinganya.
Wanita cacat!! Gak pantas buat Rizal!! Pasti sebentar lagi Rizal akan ninggalin kamu!!
Lisa menutup kedua telinganya sambil menunduk. "Nggak!!!"
"Sayang, kenapa?" tanya Rizal. Kemarin emosi Lisa sudah membaik. Kenapa sekarang menjadi tidak terkontrol lagi seperti ini. "Sayang. Udah! Ada aku di sini..." Rizal melepas tangan Lisa yang menutupi telinganya tapi justru Lisa mendorong tangan suaminya.
__ADS_1
"Nggak!! Jangan bantu aku. Aku bisa sendiri!" Lisa turun dari ranjang dan dengan sebelah tangannya dia mulai meraba benda-benda yang ada di dekatnya.
"Mau ke kamar mandi. Aku bantu ya."
"Nggak!! Aku bisa sendiri!!!" Lisa terus melangkahkan kakinya walau dia tersandung beberapa barang. Setelah sampai di dekat kamar mandi dia justru terjatuh saat sebelah kakinya tersandung pintu.
"Sayang!!" Rizal jongkok dan membantu Lisa bangun tapi lagi-lagi Lisa memberontak.
"Udah, aku bisa sendiri!!"
"Hei, sayang, hei.." Tak peduli dengan tangan Lisa yang terus memukul lengan dan dadanya Rizal tetap meraih tubuh Lisa. "Kenapa? Jangan kayak gini, aku semakin sedih lihat kamu kayak gini." Dada Rizal bergetar. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kegetiran hatinya. Bahkan cairan bening itu kini berhasil lolos dari mata Rizal. "Aku benar-benar gak bisa lihat kamu kayak gini." Rizal semakin membawa tubuh Lisa dalam peluknya.
"Apa aku akan jadi wanita cacat?"
"Kalau aku gak bisa melihat lagi?"
Pertanyaan apa lagi ini? Rizal mengusap air matanya agar tidak sampai lolos dari pipinya.
"Papi nangis?" Lisa meraba wajah Rizal yang memang sudah basah karena air mata. "Jadi benar kan aku akan jadi wanita cacat yang hanya akan bergantung terus sama Papi."
Rizal berusaha menguatkan dirinya sendiri. Dia tidak boleh lemah di dekat istrinya yang sedang sangat membutuhkan dukungan. "Nggak sayang. Nggak!! Kalau pun kamu gak bisa lihat, kamu bisa lakuin cangkok mata lagi."
Deg!!! Seketika Lisa terdiam. Tubuhnya yang berada dalam dekapan Rizal seolah melemas. "Jadi, Dewi memang ingin ambil matanya kembali?"
__ADS_1
Entah itu sebuah pertanyaan atau kesimpulan yang jelas hal itu sudah mampu memporak-poranda perasaan Rizal yang memang sudah diterjang badai.
"Apa Papi juga akan ninggalin aku?"
Terus saja lukai perasaan Rizal dengan pertanyaan yang akan tetap sama jawabannya. "Aku gak akan pernah ninggalin kamu!"
Lisa terdiam, dia menundukkan kepalanya.
"Ayo sayang aku bantu. Kamu mau ke kamar mandi?Atau kembali istirahat?" Rizal melepaskan pelukannya dan berniat membantu Lisa berdiri tapi lagi-lagi Lisa menolak.
Rizal menyerah, mungkin Lisa butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ya sudah, biar Rili yang bantu kamu ya."
Rizal berdiri dan meninggalkan Lisa. Dia sempat berhenti di dekat pintu dan menatap Lisa yang berusaha berdiri sendiri. Rasa tidak tega semakin menghujam. Dia keluar dan tepat saat Rili mendekat.
"Papi ada apa?" tanya Rili yang melihat mata merah Papinya dengan segala kekacauan di wajahnya.
Rizal hanya menggeleng lalu dia menarik tubuh putrinya dalam pelukannya. "Papi gak tega lihat Mami kamu kayak gini. Entah Mami kamu mimpi apa, semangatnya down lagi. Papi gak bisa tenangin Mami kamu. Mungkin kalau kamu yang nemenin, Mami kamu akan kuat."
"Pi," Rili melepas pelukan Papinya. "Jawab jujur pertanyaan Rili, apa Mami akan bisa melihat lagi?"
Rizal menggelengkan kepalanya. "Papi sendiri juga tidak tahu. Kata Dokter peluangnya sangat kecil. Kalaupun Dokter menyarankan untuk cangkok kornea mata lagi tapi kamu tahu kan cari donor mata itu gak mudah."
"Mami..." Rili tidak bisa berkata lagi, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan segera merangkul Maminya. "Mami mau apa? Rili bantu ya..."
__ADS_1
Di depan pintu Rizal menatap mereka sesaat. Ada satu helaan panjang, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan mereka berdua.