
"Ini semua beneran kamu yang masak?" tanya Lisa memastikan lagi saat melihat sudah ada beberapa menu makanan tertata rapi di atas meja. Ada ayam goreng, telor dadar, cap jay dan bakmi goreng.
"Iya tante, menyesuaikan bahan di kulkas jadi saya masak ini saja." Kata Alvin yang sudah duduk di sebelah Rili sedari tadi.
"Kamu memang istimewa ya. Tuh, lihat Rili sama Rasya udah makan aja dengan lahap."
Alvin melirik mereka berdua yang seolah tidak punya sopan santun. Mereka sudah mengambil sepiring penuh makanan dan melahapnya tanpa menunggu kedua orang tuanya.
"Gimana Bang Rasya, enak? Siapa tadi yang bilang gak enak?" cibir Alvin.
Rasya tak menjawab. Dia terus mengunyah sambil mengangkat satu jempolnya.
"Papi, aku suapin ya. Tangannya kan masih sakit."
Entah kenapa melihat Mami Lisa menyuapi Papi Rizal saja membuat Alvin baper. Dia yang sedari tadi sudah mengambil makanan di piring tak kunjung dimakan juga. Dia malah memikirkan yang tidak-tidak sambil sesekali melirik Rili yang tengah sibuk bergulat dengan makanannya. Seandainya... Seandainya... Seandainya... Seperti itulah isi kepala Alvin.
"Alvin, kamu belajar masak dimana? Enak loh, masakan kamu." puji Rizal tapi Alvin masih saja melamun. "Alvin?"
"Eh, iya om."
"Mau disuapin Rili juga?" godaan Rizal sukses membuat putrinya hampir tersedak.
"Uhukk.. Uhukk.."
"Eh, minum dulu. Makanya pelan-pelan." Alvin mengambilkan segelas air putih lalu memberikannya pada Rili.
"Alvin ayo, dimakan juga."
"Iya, Om." Alvin mulai memakannya. Sebenarnya dia lapar tapi entah kenapa dia malah tidak fokus dengan nafsu makannya.
"Jangan sungkan-sungkan ya, anggap saja seperti rumah sendiri. Nanti kita juga akan jadi keluarga."
Kali ini justru Alvin yang hampir tersedak.
__ADS_1
"Uhukk.. Uhukk.." Tapi memang dasar gadis di sebelahnya ini tidak peka. Dia ambil saja gelas yang berisi air putih dan tinggal separuh itu lalu diminumnya.
Pandangan Rili kini tertuju pada Alvin. Duh, bekas aku...
"Papi udah jangan godain mereka. Tuh, hampir tersedak kan."
Rizal justru tersenyum. "Lucu, jadi ingat waktu kita masih muda ya Mi."
Alvin hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya.
"Jadi, kamu belajar masak sama siapa? Gak nyangka kamu jago masak. Cocok sama Rili yang jago makan."
Rili hanya tersenyum miring. Untung makanan sudah habis dan perutnya sudah kenyang jadi tidak akan tersedak lagi.
"Sama Papa. Kebetulan Papa punya restoran sendiri."
"Jadi, kamu calon seorang pemilik restoran ya."
Alvin mengangguk kecil. "Iya, niatnya nanti saya mau buka restoran sendiri. Masih butuh banyak ilmu dan modal tentunya. Progresnya masih butuh beberapa tahun lagi."
"Papi kenapa godain Rili terus sih." Kini Rili mulai memanyunkan bibirnya yang justru membuat seseorang yang ada di sebelahnya semakin gemas. "Alvin udah habis kan makannya. Cepat pulang gih?!"
"Ngusir?"
"Ya udah kalau gitu aku mau ke kamar mau tidur, capek." Sebenarnya Rili memang capek merasakan debaran jantungnya yang terus berdetak tidak beraturan. Semakin cepat saja seolah ingin meledak. Rili berdiri meninggalkan meja makan yang masih bisa menangkap obrolan mereka sesaat.
"Anak Om, malu-malu mau ya..."
"Iya, kamu yang sabar aja hadapi Rili."
Mereka masih saja mengobrol sampai hari mulai sore baru Alvin pulang dari rumah Rizal.
Sedangkan Rili sudah terbang ke langit ke tujuh sejak dia merebahkan dirinya di atas ranjang.
__ADS_1
...***...
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Ada raut kesedihan di wajah sepasang remaja ini.
"Jadi, kamu mau pergi?"
Dia menganggukkan kepalanya. "Iya, cuma sebentar kok. Aku di sana juga jelas mau ngapain dan sampai kapannya."
"Tapi..."
"Kenapa? Kamu gak bisa jauh dari aku?"
Rili hanya mampu menatapnya. Menatap kedua bola mata indah yang selalu meneduhkannya.
"You know, I will always love you. Now and until later..." Dia mendekatkan dirinya, semakin dekat dan dekat. Rasa itu sama. Indah dan bergelora.
Rili membuka matanya. Dia terbangun dari tidurnya.
"Alvin, gak dinyata gak dimimpi mesum aja sih kerjaannya." Rili meraba bibirnya sesaat. Walau hanya mimpi tapi sudah mampu membuatnya mabuk kepayang.
Rili perlahan duduk dan bersandar di headboard. "Loh, hp aku ada di sini? Tadi lupa gak aku ambil di depan." Rili meraihnya dan melihat ponselnya. Ada dua pesan masuk dari Alvin.
Nyenyak banget ya tidurnya. Aku pulang dulu ya sayang. Besok ketemu lagi. Love you...
Jangan marah ya kalau nanti aku gak balas pesan kamu. Aku capek banget habis perjalanan jauh belum istirahat...
Rili tersenyum kecil membaca 2 pesan dari Alvin. Dia benar-benar sudah dibuat Alvin jatuh cinta. Walau terkadang Rili gengsi untuk mengakuinya tapi perasaan itu semakin nyata dan semakin besar seiring berjalannya waktu.
Iya... Love U too...
Balas Rili dengan cukup singkat.
"Sebenarnya Alvin mau pamit kemana ya dimimpi aku barusan. Apa dia mau pergi ke luar kota? Atau apa ya? Pokoknya besok aku harus tanya sama Alvin."
__ADS_1
💞💞💞
Tenang Rili besok author tanyain ya...