Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Terendap Laraku


__ADS_3

Alvin masih saja merutuki dirinya, menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan semalam. Harusnya masalah itu sudah selesai, jika saja dia tahu ponsel yang berhasil dia rebut adalah ponsel Zaki. Bahkan setelah dia berhasil menyelamatkan nyawa Zaki, tidak ada efek apapun. Sekedar berterima kasih pun tidak.


Lalu bagaimana nasib cinta Alvin sekarang? Benar-benar tidak ada kesempatan untuk bersama lagikah? Kepala Alvin yang sakit terasa semakin nyut-nyutan memikirkan semuanya.


Dia berjalan gontai menuju toilet karena dia akan berganti seragam olahraga. Ya, memang saat itu adalah jam pelajaran olahraga.


"Mikirin masalah kepala sampai bocor kayak gitu." cibir Adit yang kini berjalan di sampingnya.


"Habis jatuh gue." Alvin meraba plester yang menempel dan menutupi luka di kepalanya. Bila di pegang rasanya masih sakit walau luka itu tak seberapa dibanding luka batinnya yang dia buat sendiri.


Adit melihat seseorang yang berjalan pelan di dekat Alvin. Sepertinya Alvin tidak menyadari hal itu. Adit sengaja menyenggol Alvin hingga badan Alvin oleng dan menabrak Rili yang hanya berjarak setengah meter di sampingnya.


"Eh," Dengan cepat Alvin menahan Rili agar tidak terjatuh dengan memegang lengannya. "Sorry.. Sorry..." Hanya sesaat lalu Alvin melepas tangannya.


"Dahi kamu kenapa?" Rili menyentuh pelan dahi Alvin yang terpasang plester.


Alvin justru melengos menghindari tangan Rili. "Gak papa." Alvin kembali melangkahkan kakinya pergi.


"Alvin, jangan jadi cowok pengecut!"


Perkataan Rili membuat langkah Alvin berhenti sesaat. Hanya sesaat tanpa lagi berbalik untuk sekedar mengajak Rili mengobrol atau menggodanya seperti sebelumnya. Dia kini masuk ke dalam toilet walau sebenarnya dia sungguh tidak berniat untuk menjadi seorang pengecut.


Kejadian barusan semakin membuat kepala Alvin pusing. Nyut-nyutan tak karuan.


Apalagi kalimat Rili terus terngiang di telinganya.


Jangan jadi cowok pengecut!


Jangan jadi cowok pengecut!


Ingin rasanya dia tidak ikut pelajaran olahraga hari itu tapi ada latihan basket untuk mempersiapkan ujian prakteknya. Mau tidak mau dia kini berdiri mengikuti pemanasan.


Sudut mata Alvin beberapa kali menangkap bayangan Rili yang juga mengikuti gerakan pemanasan. Berat sekali rasanya mendiamkan gadisnya seperti ini.

__ADS_1


Setelah pemanasan selesai, dari kelas Alvin membentuk beberapa tim untuk berlatih basket. Sialnya tim Alvin justru melawan tim Rasya. Bisa kalah telak. Alvin yang memang tak sejago Rasya bermain basket. Ditambah kepalanya terasa sakit bila dibuat mendongak. Sebisa mungkin dia fokus dan berusaha berlatih. Walau sesekali pandangannya menangkap bayangan Rili yang ikut bergerombol bersama temannya untuk menonton latihannya.


Seketika daya fokus Alvin berkurang dengan pesat. Saat dia akan menangkap lemparan Rasya, justru kepalanya yang terbentur bola cukup keras.


"Duakk!!" tepat di luka yang terplester itu.


"Aww!! Shits!!" Alvin menahan tubuhnya dengan tangan saat dia terjatuh. Sebelah tangannya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Alvin! Lo kenapa jadi letoy gini sih!!" Adit berusaha membantu Alvin berdiri tapi Alvin menangkis tangan Adit.


"Gue bisa!" Alvin berusaha berdiri sendiri walau kini kepalanya terasa sangat berat. Bahkan luka Alvin kembali berdarah, terlihat dari luar plester yang memerah.


"Itu, luka lo berdarah lagi. Mending lo ke UKS mumpung ada dokter yang lagi tes kesehatan anak atlet basket."


Sebenarnya yang dia butuhkan saat ini adalah Rili bukan yang lain. Sebegitunya dia. Tanpa Rili hidupnya lemah dan tiada berarti. Persis seperti lirik sebuah lagu dengan judul Terendap Laraku.


Alvin berjalan gontai. Tiba-tiba tubuhnya terasa sangat ringan dengan pandangannya yang sedikit kabur. Tidak lucu kan jika seorang Alvin Elvaro justru pingsan di tengah lapangan. Lebih tepatnya sekarang dia hampir pingsan. Tubuhnya limbung jika saja tidak ditahan sang rival sejati.


"Mending sekarang lo ke UKS. Sekalian gue mau bicara sama lo." Rasya memapah Alvin berjalan menuju ke UKS. Beberapa pasang mata tertuju pada mereka tak terkecuali Rili.


...***...


"Luka kayak gini kenapa langsung diplester. Harusnya dikompres dulu. Bahaya, bisa infeksi. Proses penyembuhan juga bisa lama." kata Bu Dokter cantik yang sekarang sedang membersihkan luka Alvin dengan cairan rivanol dengan sangat telaten dan hati-hati.


"Iya, kemarin sudah malam." jawab Alvin sambil sesekali menahan sakit.


Setelah memasang perban kecil di dahi Alvin, Bu Dokter itu menyudahi tindakannya. "Masih terasa sakit?" hanya dibalas anggukan oleh Alvin. "Oke, saya kasih resep antibiotik sama penghilang nyeri nanti tebus di apotik ya."


"Iya. Terima kasih."


Setelah selesai, Bu Dokter berkemas dan meninggalkan UKS karena tes kesehatan untuk tim basket juga sudah diselesaikan.


Kini tinggal Alvin yang duduk di atas bed UKS dengan pandangan menerawang jauh.

__ADS_1


Rupanya sedari tadi Rasya masih menunggui Alvin. Dia kini berjalan mendekat. "Gimana keputusan lo?" tanya Rasya.


Alvin menghela napas kasar. Dia masih gundah gulana. Sempat yakin ingin memutuskan Rili tapi sedetik kemudian dia tidak yakin, begitulah seterusnya.


"Lo putusin Rili secepatnya!!"


"Gue..." Alvin sangat meragu.


"Lo putusin Rili secepatnya sebelum video itu viral!!!" Rasya mengeraskan suaranya yang membuat Alvin sedikit berjingkat


Jika saja Rasya bukan kakak kandung Rili, dia pasti sudah menghajarnya. Untuk sekarang dia hanya mampu mengepalkan tangannya.


"Kak Rasya? Apa yang Kak Rasya bilang?"


Mendengar suara itu, seketika membuat Rasya membalikkan badannya. Dia kini melihat Rili yang sudah berdiri beberapa langkah di depan pintu.


"Kenapa Kak Rasya bentak Alvin kayak gitu. Ini bukan sepenuhnya salah Alvin."


Rasya kini berjalan mendekati Rili. "Rili, tapi karena Alvin kamu bisa kena masalah besar."


"Masalah video Zaki?" Tentu saja, Rili sudah mengetahui masalah itu lewat mimpinya.


"Kamu sudah tahu?" tanya Rasya.


Sedangkan Alvin kini hanya mampu menatap Rili. Tentu, Alvin sudah mengerti pasti semalam alat pendeteksi alami Rili bekerja dengan sempurna.


"Tanpa kalian cerita pun, aku pasti tahu." Rili kini justru menghampiri Alvin yang hanya duduk menatapnya. "Alvin, kamu jangan jadi cowok pengecut dong. Kenapa sih kamu gak cerita tentang masalah ini sama aku."


"Aku salah! Aku yang udah buat masalah ini. Lebih baik kita sekarang..."


"Putus? Iya?" Rili memotong pembicaraan Alvin. "Al, bukan kamu aja yang salah. Tapi kita. Kamu gak pernah maksa aku. Apa yang kita lakuin itu karena sama-sama mau."


Perkataan Rili berhasil membuat jantung Alvin berdetak tak beraturan. Yeah, sama-sama mau.

__ADS_1


"Oke, biar aku yang nyelesaiin masalah ini sama Zaki." Rili membalikkan badannya lalu sedikit berlari dan berniat mencari Zaki.


"Rili!!" Alvin segera menyusul langkah Rili yang diikuti oleh Rasya. "Jangan!!"


__ADS_2