
Mereka berempat kini keluar dari ruang BK. Rupanya di sepanjang jalan menuju tempat parkir banyak murid yang sudah keluar untuk beristirahat. Pandangan mereka kini tak lepas dari Rili dan Alvin yang berjalan di belakang bapaknya masing-masing.
"Papi..." panggilan itu menghentikan langkah mereka. "Ada masalah apa?" Rasya kini menatap Alvin dan Rili penuh selidik. Walau sebenarnya dia sudah tahu permasalahannya dari Mas Rudi, yang bekerja di ruang kontrol cctv sekolah.
"Tanya saja sama adik kamu itu. Rasya jangan biarkan Rili pulang lagi sama Alvin. Papi masih belum bisa percaya. Kalau kamu ada urusan biar Papi saja yang jemput."
Rasya kini menatap Rili cukup jengah. "Kalian kemarin itu mojok dulu? Ngapain? Jadi bener terekam cctv!!"
"Kak, Kak. Jangan keras-keras nanti banyak yang dengar."
"Alvin, jangan diulangi lagi."
"Iya Pa."
"Ya udah, Papi mau kembali ke kantor dulu."
"Iya Pi. Hati-hati."
Kedua bapak ini segera melangkahkan kakinya menuju tempat parkir sambil melanjutkan obrolan mereka.
"Yah, sugar daddy udah jauh." Nana sedari tadi berlari dan memang berniat melihat wajah tampan Papinya Rili.
"Nana, itu bokap gue!! Selalu bilang sugar daddy. Ih!!"
Nana tertawa tanpa dosa. "Habis masih ganteng banget, sumpah. Gak kalah gantengnya sama Kak Rasya."
Rasya tak menanggapinya. Dia kini justru menarik paksa Alvin.
__ADS_1
"Kak Rasya mau ngapain Alvin!! Jangan berantem!!" melihat wajah garang Rasya, Rili menjadi berpikir yang tidak-tidak. Dia takut Rasya akan menghajar Alvin.
Rasya tak menjawab dan justru semakin melangkah menjauh.
"Udahlah, kayaknya Kak Rasya gak mungkin sampai hajar Alvin." Nana menggamit lengan Rili. "Lo ngapain dipanggil sama Alvin ke BK. Pasti ketahuan lagi anu-anu ya..." terdengar Nana cekikikan. "Gimana, langsung dikawinin gak sama Papi."
"Apaan sih. Dapat siraman rohani yang iya. Udah dikasih ultimatum gue gak boleh deket-deket sama Alvin."
Nana semakin cekikikan. "Makanya kalau mau nempelin bibir itu tau tempat."
"Tuh, si Alvin yang sukanya main serobot aja."
"Halah, yang diserobotin juga suka kan."
Kali ini Nana benar.
"Alvin, lo itu tau gak kalau di taman belakang udah dipasang cctv. Lo cari masalah aja!! Nyesel gue kemarin ngizinin lo pulang sama Rili." Rasya melepas cengkeramannya di dekat ruang kontrol cctv sekolah.
"Iya, gue salah. Gue lupa kalau ada cctv. Kayaknya ada yang ngikutin gue."
"Iya. Karena kasus lo pulang sekolah. Jadi gak mungkin ada yang mantau cctv jam segitu. Mas Rudi juga udah pulang. Gue tadi dikasih tahu sama Mas Rudi, katanya Pak Soni yang minta rekaman cctv itu dan dengan jam yang sangat tepat."
Alvin dan Rasya segera masuk ke dalam ruang kontrol cctv. Rasya yang memang menjabat sebagai ketua OSIS tentu sangat mudah untuk mendapatkan informasi itu.
"Mas Rudi, bisa lihat rekaman cctv dari lorong kelas X."
Mas Rudi justru tersenyum melihat Alvin. "Alvin, jago juga ya kamu. Aku gak ngira loh."
__ADS_1
"Tolong ya mas, bisa kan?"
"Gampang! Beberapa menit sebelum masa indah kamu kan."
Alvin hanya menyunggingkan sebelah bibirnya sambil melihat Mas Rudi membuka rekaman tanggal kemarin.
Dari kelas X, terlihat Rili berjalan melewati beberapa kelas. Lalu ganti ke posisi kamera satunya yang mengarah ke lorong tepat menuju taman belakang ada seseorang yang mengikuti Rili beberapa meter di belakangnya.
"Stop! Stop! Itu dia, Rili ada yang ngikutin."
Mas Rudi memperbesar gambar itu yang hanya terlihat dari samping.
"Wajahnya gak jelas mas. Ada kamera yang hadap ke sana yang lebih jelas."
"Di depan kelas XI-D sepertinya ada." Kelas itu memang kelas yang paling dekat dengan taman belakang.
Mas Rudi membuka rekaman kamera itu. Stop! Dia perbesar wajah yang cukup jelas dan yang sangat mereka kenal.
"Sial!!! Dia ternyata!! Gue harus cari dia!!" Alvin bergegas keluar dari ruang kontrol cctv. Emosinya kini sudah tidak bisa terkontrol.
"Mas, makasih ya.." ucap Rasya sambil berlari mengikuti Alvin.
"Iya..." Mas Rudi tersenyum melihat tingkah mereka. "Dasar anak muda..."
💞💞💞
Siapa hayooo... ðŸ¤
__ADS_1
Dikit dulu nanti sore dilanjut.. 🥺