
"Kak Alvin."
Alvin menghentikan langkahnya saat berada di lorong kelas menuju kelas Rili. Entah kenapa Dara tiba-tiba memanggilnya.
"Iya, ada apa Ra?"
"Hanya Kak Alvin yang bisa lepas cincin itu dari jari Rili. Lakukan segera, sebelum semua terlambat." kemudian Dara berlalu.
"Maksudnya?" Alvin masih kurang mengerti dengan pernyataan Dara barusan. Ingin dia bertanya lagi tapi langkahnya terhenti saat ponselnya berbunyi. Alvin segera mengangkat teleponnya. "Iya... Kalau gitu bentar lagi aku ke sana... Sendirian ... Iya ..." Alvin meluruskan pandangannya terlihat Rasya sudah berjalan bersama Rili. Dia mengurungkan niatnya bertemu Rili dan justru berjalan cepat menuju tempat parkir.
Sedari tadi Rili bisa melihat Alvin. Dia cukup penasaran dengan apa yang Dara katakan pada Alvin. Bahkan tak biasanya Alvin buru-buru untuk pulang.
Saat Rili dan Rasya sampai di tempat parkir, sudah tidak ada lagi motor Alvin. Alvin mau kemana ya buru-buru?
Rili mengambil ponselnya agar pertanyaannya segera terjawab, dia harus mengirim pesan pada Alvin.
Alvin, kamu mau kemana?
Pesan terkirim dan hanya centang satu saja.
Loh, kok WA Alvin justru gak aktif.
Sampai Rili naik ke boncengan Rasya, di jalan dan bahkan sampai rumah Rili masih memikirkan pesannya yang masih saja centang satu. Alvin kemana? Jangan-jangan dia pergi sama Dara.
Pikiran buruk singgah di kepala Rili.
Nggak, nggak, aku harus percaya sama Alvin...
...***...
"Mami, Rili tidur dulu ya. Mami cepat sehat. Besok Rili temani seharian." Rili mencium kedua pipi Maminya.
"Iya sayang."
__ADS_1
Setelah Rili keluar dari kamar Mami Lisa, Rili segera menuju kamarnya. Hal pertama yang dia ambil adalah ponselnya.
"Alvin, kemana sih kamu? Sampai malam WA kamu masih gak aktif juga."
Rili beralih menutup pintu kamarnya. Saat dia akan merebahkan dirinya tiba-tiba ada panggilan video masuk dari Alvin.
"Alvin!!" Rili segera menerima panggilan itu. "Alvin kamu darimana sih? WA kamu baru aktif!!"
Alvin justru tertawa mendengar omelan dari Rili. "Sorry, sorry, tadi hp aku lowbath. Bikin gemes aja kalau ngambek gitu. Itu bibir yang manyun pengen aku gigit deh."
"Alvin!! Emang kamu kemana?"
"Aku, di rumah Kakek. Di Donomulyo deket Pantai Ngliyep."
"Ngapain kamu ke sana?"
"Bentar-bentar." Terlihat Alvin sedang berjalan. Rupanya dia menghampiri kakeknya yang sedang duduk di ruang tamu. "Kek, ini Rili. Apa kakek mau lihat langsung."
Rili mengernyitkan dahinya, sebenarnya apa yang akan dilakukan Alvin.
"Hmm, cincin.." Rili mendekatkan jarinya pada kamera.
"Iya, itu cincin cinta sejati. Alvin, cuma kamu yang bisa lepas cincin itu. Kamu harus cepat lakuin itu. Ada aura jahat yang terus mendekati cincin itu. Segera kembalikan ke pemiliknya."
"Tapi pemilik cincin itu sudah meninggal Kek."
"Setahu saya cincin itu turun temurun, jadi kamu kembalikan saja pada orang yang memiliki ikatan darah dengan cincin itu. Sudah ya, semoga masalahnya cepat selesai." Satu tepukan di pundak Alvin membuat Alvin mengangguk. Alvin kini berdiri dan beralih menuju teras rumah.
"Alvin? Itu artinya Dara yang harusnya pakai cincin ini?"
"Iya."
"Tunggu dulu. Kenapa cuma kamu yang bisa lepas cincin aku? Kenapa harus kamu?"
__ADS_1
Alvin tersenyum. Ternyata Rili belum mengerti juga maksudnya. "Sayang, jadi maksudnya aku itu cinta sejati kamu..."
"Hah? Yakin banget."
"Yakin. Kamu pernah gak mimpiin aku sebagai cinta sejati kamu. Kalau pernah berarti itu benar adanya."
Rili hanya terdiam. Tentu saja, dia ingat pernah bertemu Alvin dalam mimpinya sebelum dia bertemu di dunia nyata.
"Iya kan? Kalau aku sih udah yakin 100%"
Nampak senyum tipis Rili membenarkan perkataan Alvin. "Lalu, apa cincin itu diberikan gitu aja ke Dara atau harus ada seseorang yang memakaikannya."
"Oiya, soal itu dipikirin nanti aja. Pokoknya besok aku harus cepat lepas cincin itu dari kamu."
"Jadi ternyata Kakek kamu paranormal?"
"Iya, aku baru bisa ke sini hari ini. Maaf ya, mungkin agak terlambat."
"Iya gak papa. Hmm, Dara tadi ngomong apa sama kamu?" Rili kini merebahkan dirinya. Sebenarnya rasa penasarannya sedari tadi sudah berkumpul di titik temu.
"Oo, tadi itu Dara juga bilang kalau yang bisa lepas cincin itu cuma aku."
"Jadi sebenarnya Dara udah ngerti permasalahannya."
"Iya, dia seperti menyimpan sebuah misteri."
Rili terdiam. Memang Dara terlihat sangat tertutup. Dia sangat kaku. Bahkan sudah sebulan lebih bersekolah pun kelihatannya dia belum punya teman dekat.
"Setelah cincin itu aku lepas, aku janji suatu saat nanti aku akan gantiin cincin yang jauh lebih indah. Tapi nanti, setelah aku udah punya uang sendiri."
Rili hanya tersenyum mendengar ucapan Alvin. Tapi dia juga tidak boleh terlalu percaya dengan ucapan Alvin yang masih terlalu dini. "Jangan janji kalau akhirnya mengingkari. Lebih baik jalani aja dulu."
"Kali ini kamu benar. Kamu memang salah satu masa depan aku tapi masih banyak yang harus aku raih."
__ADS_1
Mereka masih saja mengobrol sampai larut malam, ya mumpung malam minggu meskipun hanya bisa berkencan secaa virtual.