Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Lihat Aku


__ADS_3

Rili masih saja ditemani Alvin saat menunggu kedua orang tuanya di rumah sakit. Ada rasa khawatir, cemas, lega, semua bercampur jadi satu.


"Kamu tenang ya. Semua akan baik-baik saja." Alvin mengusap pundak Rili sambil tersenyum berusaha memberikan ketenangan pada gadisnya.


Rili menghela napas panjang. Dia masih saja mengingat rentetan peristiwa sadis itu. "Aku gak bisa bayangin kalau seandainya Papi gak nahan pisau itu, mungkin jari aku udah kepotong kayak ceker ayam."


Alvin semakin terkekeh. Ceker ayam? "Oo, nanti tinggal dimasak aja pake kecap."


"Alvin!! Serius juga!"


Satu rengkuhan kini berhasil menarik tubuh Rili mendekat. "Iya, iya. Sorry ya, aku tadi sedikit terlambat. Jantung aku hampir aja copot dapat telpon dari kamu."


"Untung sih kontak kamu masih A aja. Jadi ada di kontak teratas."


"Oo, jadi itu alasannya kenapa kamu cuma kasih inisial A. Jangan dirubah ya. Biar tetep kayak gitu sampai nanti. Kalau butuh bantuan kamu tinggal dial aja kontak teratas."


Rili tersenyum tipis. Dia pasrah begitu saja tangannya sekarang di genggam oleh Alvin. Lupakah sekarang mereka sedang di rumah sakit? Lupa juga kah kalau ada kedua orang tuanya di dalam yang sewaktu-waktu bisa keluar.


"Sekarang udah terbukti kan kalau aku itu cinta sejati kamu. Udah siap kah jadi ibu dari anak-anakku kelak?"


"Alvin kejauhan banget kalau ngomong. Buat aja belum udah mikir jadi ibu dari anak-anak kamu." Duh, rupanya kalimat Rili salah. Harusnya kan nikah aja belum, gitu.


"Oiya udah. Udah siapkah kamu nyicil untuk membuat anak bersamaku?"


"Alvin!!!" Rili mencubit pinggang Alvin cukup keras.


"Auw, sakit sayang."


"Awas ya, kalau sekali lagi kamu ngomong kayak gitu. Aku laporin sama Papi!!"

__ADS_1


"Bercanda. Bercanda. Duh, serius amat sih." tangan Alvin masih saja bertengger di pundak Rili. "Jadi Rasya beneran cinta sama Dara?"


Rili menganggukkan kepalanya. "Iya, dulu Kak Rasya pernah beberapa kali ketemu Dara. Mungkin itu alasannya kenapa sampai sekarang Kak Rasya masih aja jomblo. Ya, dia nungguin Dara."


Alvin manggut-manggut saja mendengar perkataan Rili. "Rasya lagi ngapain ya sekarang?"


Rili memutar bola matanya lalu menatap Alvin. "Kak Rasya itu bukan kamu yang mencari kesempatan dalam kesempitan."


Lagi-lagi perkataan Rili benar adanya dan bukan tuduhan semata. "Kamu bener banget sih kalau ngomong. Dan yang aku ajak curi kesempatan juga mau-mau aja. Atau kamu mau lagi sekarang?" Alvin tersenyum miring sambil mendekatkan dirinya.


"Alvin jangan dekat-dekat dilihat orang."


"Mana? Gak ada orang?"


"Alvin ini di rumah sakit. Gak tahu tempat banget..."


"Ibu, coba buka matanya pelan-pelan ya."


Setelah dokter selesai menangani luka Rizal, dokter kembali memeriksa luka Lisa dan membuka perban yang menutupi kedua matanya. Sepertinya luka itu sudah mulai mengering.


Dengan hanya ditemani Rizal, Lisa meragu untuk membuka matanya. Dia takut, hanya akan ada gelap yang dia lihat.


Rizal mengenggam erat tangan Lisa dengan tangan kirinya. Berusaha memberi kekuatan. Entah apapun nanti hasilnya, dia harus siap.


Perlahan Lisa mulai membuka matanya. Terasa sangat berat. Awalnya buram hanya ada setitik cahaya yang masuk. Lisa kembali menutup matanya lagi lalu membuka matanya pelan. Dia kini menoleh ke sisi kanannya dimana ada suaminya yang masih setia menemaninya.


Lisa terpaku. Tak bersuara dan tanpa ekspresi.


Deg!! Jantung Rizal sudah berdetak tak beraturan lagi. Pikiran buruk menyelimutinya. Jangan-jangan Lisa memang tidak bisa melihat dirinya.

__ADS_1


Lisa melepas tangan Rizal lalu mengangkat kedua tangannya untuk menangkup kedua pipi suaminya. "Papi..." Lisa tersenyum. Netranya berkaca melihat seseorang yang sudah khawatir setengah mati itu.


"Sayang, kamu bisa lihat aku?"


Satu anggukan kecil mengiringi pelukan Rizal. Dia kini mengeratkan pelukannya walau hanya dengan satu tangannya yang tidak terluka. "Aku udah deg-deg an banget. Akhirnya kamu melihat lagi, sayang."


"Ehem.." Satu deheman dari dokter berhasil melepas pelukan sepasang suami istri ini. "Selamat ya.. Luka-luka itu tidak mengenai kornea mata Bu Lisa. Untuk selanjutnya cukup lakukan kompres rutin dan obatnya tetap diminum ya sampai habis."


"Terima kasih dokter."


Lisa kini beralih melihat tangan Rizal yang sudah terbalut perban. "Papi ini lukanya gak parah kan?"


Rizal menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Yang penting kamu dan Rili gak kenapa-napa."


Lalu mereka berdiri dan berjalan berdampingan keluar dari ruangan. "Anak-anak pasti senang kalau udah tahu Mami bisa lihat lagi."


Setelah keluar ruangan, pandangan Rizal tertuju pada anak gadisnya dan satu manusia yang ada di sampingnya. "Alvin, kamu ngapain?"


Suara Rizal membuat Alvin sangat terkejut.....


💞💞💞


.


.


.


Lagi mau nyicil buat anak, Pi.. eh.. 🤦🏼‍♀️

__ADS_1


__ADS_2