Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Bonchap 3 (Cafe Ria)


__ADS_3

"Selamat atas dibukanya cafe Ria..."


Beberapa teman dan kerabat datang di acara pembukaan cafe milik Alvin. Setelah satu tahun lulus dari kuliahnya di luar negeri akhirnya Alvin berhasil membuka cafe impiannya. Dengan bantuan modal dari Papanya dan dari akun youtube nya yang sudah jutaan subscriber itu. Dia memang seorang koki muda yang tampan dan handal. Banyak fans dari luar negri dan dalam negri. Terutama mak-mak berdaster yang suka melihat resep simple dari Alvin dengan bonus wajah tampannya itu.


"Mas, kenapa sih kok namanya Cafe Ria? Biar yang datang ria gembira gitu kah?"


Beberapa tahun sudah hubungan asmara mereka terjalin, rasa itu masih sama bahkan semakin besar ditambah lagi semenjak dia lulus kuliah, panggilan Rili terhadapnya berubah menjadi Mas. Walau sebenarnya dia ingin dipanggil sayang, honey, beb, atau panggilan cinta lainnya tapi tak mengapalah satu peningkatan pesat. Dia jadi merasa telah menjadi suami Rili saat Rili memanggilnya Mas dengan manja. Duh, manisnya.


"Rili kamu gak tahu maksud dari penamaan cafe ini?" kata Adit yang mulai sekarang akan ikut mengelola cafe bersama Alvin. Ya, bisa dibilang Adit telah dinobatkan menjadi asisten Alvin. "Gak peka ya calon bu bos satu ini."


"Emang apa Mas?"


Alvin hanya tersenyum penuh arti.


Adit semakin gemas saja melihat pasangan yang sudah bertahun-tahun itu tapi masih terlihat sedang kasmaran saja.


"Ria singkatan dari Rili Alvin. Bucin lo dasar!!" Adit berdiri meninggalkan mereka berdua. Mungkin saja mereka mau melakukan adegan-adegan yang sangat dinanti para reader.


"Emang iya?" tanya Rili tak percaya.


"Iya. Itu singkatan nama aku dan kamu."


Jadi seperti ini rasanya di tempatkan paling spesial di hati seseorang.


Alvin menggenggam tangan yang tak pernah bosan ia genggam bahkan tangan itu ingin selalu ia genggam saat suka maupun duka, sampai nanti dan menua bersama. "Kamulah motivasi aku."


"Aku bukan tim yel-yel kan? Kenapa jadi termotivasi gara-gara aku. Aku juga gak pernah beri kata-kata mutiara nan indah seperti om mario."


Satu cubitan kini mendarat di pipi Rili. "Aku gak perlu yel-yel, gak perlu juga kata-kata motivasi. Yang terpenting adalah cinta dari kamu."


Pipi Rili bersemu merah. Semakin bertambahnya umur Alvin, dia semakin jago saja membuat hati Rili klepek-klepek.


"Makasih kamu sudah mau menemani aku mulai dari nol sampai sekarang dan sampai nanti."


Rili tersenyum sambil membalas tatapan Alvin.


"Kamu sekarang semester berapa?"


"Kok tanya sih? Pura-pura lupa?"


"Setahun lagi lulus kuliah kan?"


"Terus?"


"Aku mau melamar kamu."

__ADS_1


Jantung Rili berdetak lebih cepat. Benarkah dia akan sampai di tahap itu bersama Alvin.


"Widih, keren.." tim rusuh satu akhirnya datang, siapa lagi kalau bukan Nana. "Selamat ya, Kak Alvin, Rili. Ah, senangnya punya teman pemilik cafe mewah kayak gini bisa makan gratis terus." Nana langsung menyomot makanan yang ada di atas meja lalu duduk di dekat Rili sebagai obat nyamuk.


"Eh, lo tuh mikirnya makan aja terus, pantes Kak Rasya ogah deket sama lo," sentil Rili yang langsung mengena di hati.


"Ngomongin Kak Rasya, dia ikut gak?" tanya Nana dengan mulut yang penuh makanan.


"Tuh, ada di belakang sama teman lainnya."


"Eh, btw ada lowongan gak di kantor Kak Rasya. Gue mau dong. Biar bisa manggil Pak Rasya gituh." tetap tidak ada yang berubah. Sudah umur 21 tahun tapi masih saja centil ala abg.


"Papi belum mau pensiun, Kak Rasya masih tahap belajar. Mungkin satu tahun lagi baru pegang kantor sendiri."


"Pas dong, setahun lagi gue lulus. Pokoknya gue mau buat lamaran. Syukur-syukur kalau bisa jadi aspri nya Kak Rasya."


Alvin justru tertawa. "Es kutub mana bisa mencair sama cacing."


"Wah, Kak Alvin udah ketularan Rili. Dengan hangatnya cinta pasti gue bisa mecairkan es kutub."


"Lo tuh cocoknya sama Adit tuh."


"Whats, gue sama tabung gas bocor. Meleduk yang iya. Udah ah, mau lihat Kak Rasya dulu. Kalian lanjut pacaran aja." Nana berdiri, tangannya mengambil lagi makanan yang ada di atas meja. "Cepat dihalalin, biar gak buat dosa terus!!"


Tapi bicara soal es kutub, Rili menjadi kasihan sama Kakaknya. Sampai bertahun-tahun, dia masih saja sendiri. Entahlah sampai kapan Rasya akan menemukan cintanya. Rasanya Rili jadi tidak tega mau mendahului Rasya untuk naik ke jenjang selanjutnya.


"Hei, mikirin apa?"


Rili menggelengkan kepalanya.


"Ikut yuk?"


"Kemana?"


"Lihat kantor aku." Alvin menarik tangan Rili agar mengikuti langkahnya. Setelah masuk ke dalam kantor, Alvin justru mengungkung tubuh Rili di belakang pintu.


"Baru juga diingetin Nana."


Alvin tersenyum sambil terus menatap wajah cantik Rili. "Kamu makin cantik sih."


"Gombal."


"Serius."


"Kata pembukaannya apa gak ada yang lain?"

__ADS_1


"Ya udah kamu aja yang mulai kata pembukaannya."


Rili tersenyum malu, dia kini melingkarkan tangannya di leher Alvin. "Mas Alvin, jangan buat konten lagi di youtube ya, kan udah buka cafe. Aku gak mau Mas Alvin di puji-puji terus sama emak-emak berdaster itu. Wajah tampan ini hanya milik Rili seorang."


Alvin tersenyum lalu mengecup singkat hidung Rili. "Iya. Semua yang ada di diri aku itu milik kamu."


"Belum semuanya, belum sah."


Tatapan yang selalu membuat Rili tersihir itu semakin dekat. Kesekian kalinya sudah, lagi-lagi bibir itu membuatnya terbang ke angkasa seolah dia lupa saat ini sedang berpijah dimana.


Alvin menghentikan gerak aktif bibirnya saat mendengar Pak Iwan dan Pak Rizal sedang mengobrol dan berjalan semakin dekat.


"Ada Papa."


"Ada Papi."


Mereka melepas pelukannya seperti telletubies yang akan berpisah, berat dan enggan. Alvin duduk di kursi kantornya sedangkan Rili duduk di seberang Alvin saat pintu itu terbuka.


"Rili, Alvin, kalian di sini?"


"Eh, Papi kirain udah pulang tadi?"


"Gak jadi masih mau lihat hasil kerja anak buah." Ya, yang membangun proyek cafe Alvin adalah dari kantor properti Papinya Rili. Keluarga mereka memang sudah sedekat itu dengan keluarga Alvin. "Ayo, pulang sama Papi."


"Nanti aja pulang sama Mas Alvin."


"Tiap hari ketemu tapi kamu gak ada bosennya sama Alvin."


"Loh, emang Papi bisa bosen sama Mami?"


Pak Iwan hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Calon mantu Pak Iwan ini memang terlalu hiperaktif."


"Tidak apa-apa sama kayak Alvin."


Setelah mengambil beberapa berkas, Pak Rizal dan Pak Iwan keluar dari ruangan sambil masih asyik mengobrol.


"Lanjut adegan tadi yuk?"


Rili hanya memutar bola matanya. Benar-benar perayu ulung...


💞💞💞


Hallo.. Hallo.. Ada yang masih setia di sini kah? Sebentar lagi cerita Alvin akan dilanjut ya...

__ADS_1


__ADS_2