Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Kecelakaan


__ADS_3

Baru saja Alvin menghentikan motornya di depan rumah Dewa, Rili langsung turun dan melepas helmnya. Dia segera berlari masuk ke dalam rumah yang masih terbuka itu.


"Mami!!" Suara Rili terdengar seiring langkahnya yang masuk ke dalam rumah Dewa. "Mami ayo pulang!!" Rili masuk ke dalam rumah dan langsung menarik tangan Maminya.


"Loh, Rili kamu kok nyusul Mami. Kamu sama siapa?" Lisa terkejut karena tiba-tiba saja Rili datang dan langsung mengajaknya pulang. Karena tarikan Rili akhirnya Lisa berdiri dan sedikit melangkah.


"Ayo, Mami pulang sekarang."


"Tunggu bentar ya. Papi bentar lagi nyusul ke sini."


Tiba-tiba suara lampu gantung yang terpasang di langit-langit itu semakin berbunyi keras.


"Rili awas!!!" Lisa berhasil mendorong tubuh Rili sedangkan Lisa gagal menghindar karena sebelah kakinya tersangkut kaki meja dan membuatnya jatuh tersungkur. Dia hanya bisa menahan tubuhnya dengan kedua tangannya


"Pyyaaarrr!!!" Tapi nahas, lampu gantung itu jatuh beberapa centi di depan Lisa yang membuat serpihan-serpihan kaca mengenai wajahnya. Bahkan Lisa sekarang menjerit saat merasakan perih dan panas di kedua matanya.


Dua lelaki yang tadi sempat bertegur sapa di depan rumah segera berlari masuk saat mendengar suara pecah dan jeritan Lisa.


"Mami!!!" teriak Rili saat melihat semua kejadian itu. Hatinya sangat hancur. Apalagi semua kejadian ini sudah tergambar dalam mimpinya barusan. Mengapa dia masih gagal juga mencegahnya.


"Astaga, sayang!!" Rizal segera menyingkirkan bongkahan lampu gantung dengan kakinya lalu meraih tubuh istrinya dan langsung mengangkatnya. "Kenapa bisa gini?"


Alvin tercekat. Dia melihat langit-langit. Lampu itu memang dengan sengaja dijatuhkan makhluk tak kasat mata itu. "Jangan ganggu lagi!!" Alvin meraih tubuh Rili. "Cepat kita keluar dari sini."

__ADS_1


"Ini kenapa?" Karin sangat terkejut dengan situasi saat ini. Dia melihat lampu gantung yang telah terjatuh dan Lisa yang sudah terluka.


"Kita ke rumah sakit dulu." Rizal segera berlari keluar rumah yang diikuti Rili dan Alvin. Tanpa ada pembicaraan lagi dengan Karin.


Alvin segera membuka pintu belakang mobil Rizal lalu Rili masuk setelah membantu Maminya.


Rizal segera menuju kursi pengemudi. Setelah itu, Rizal langsung melajukan mobilnya cepat menuju rumah sakit.


"Mami..." Rili masih terus menangis. Dia kini memeluk Maminya. "Maafin Rili ya. Rili gak bisa cegah ini semua."


Rizal beberapa kali melihat keadaan Lisa dari kaca yang ada di atasnya. Jantungnya terasa diremat sesuatu, saat melihat wajah cantik itu terluka bahkan cukup parah di area matanya. Rasa sangat tidak tega semakin menjadi saat melihat gadis yang dicintainya hanya bisa menutup mata sambil merintih menahan sakit. "Udah ya Rili. Ini bukan salah kamu. Justru Papi yang salah ngebolehin Mami kamu berangkat sendiri."


"Udah. Mami gak papa. Jangan saling menyalahkan." kata Lisa di sela-sela rasa sakitnya dia harus bisa terlihat kuat.


"Maaf, Anda tunggu diluar ya..."


Papi dan putri ini menunggu di kursi tunggu dengan cemas. Rili masih saja tidak berhenti menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian Alvin datang dan sudah bersama Rasya. Alvin segera menghubungi Rasya setelah kecelakaan itu terjadi dan menceritakan kronologi kejadiannya.


"Papi..." Rasya langsung duduk di samping Papinya.


Mereka menunggu dengan cemas. Terutama Rizal, dia sangat takut hal buruk akan menimpa istrinya. Dia kini berdiri berjalan mondar mandir sesaat, sebelum akhirnya dia berhenti di sisi pintu IGD dengan sebelah tangan yang menapak sebagai tumpuan.

__ADS_1


"Rili, udah jangan nangis." kata Alvin yang kini duduk di sebelah Rili.


"Tapi Vin, aku gak bisa cegah kejadian ini. Padahal apa yang terjadi udah terlihat di mimpi aku. Apa gunanya aku mimpi kalau aku gak bisa mengubah takdir." suara Rili bergetar. Perasaannya benar-benar sangat kacau.


Alvin menggelengkan kepalanya. Ingin dia memeluk gadisnya tapi tertahan karena ada Papi dan Kakaknya. "Gak bisa Rili. Kamu hanya bisa melihatnya dalam mimpi tapi kamu gak akan bisa mengubah takdir itu."


"Lalu apa gunanya aku mimpi!!" Rili kecewa dengan dirinya sendiri. Harusnya dia punya kelebihan agar bisa melindungi orang yang dia sayang. Tapi nyatanya tidak.


Beberapa saat kemudian pintu IGD terbuka. Seketika Rizal berjalan mendekati dokter yang menangani Lisa.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?"


Ada satu helaan dari hidung dokter. "Maaf, kita bicara di ruangan saya saja. Biar istri Anda dipindahkan ke ruang rawat."


Dokter itu melangkah pergi. Rizal mengikuti langkah Dokter itu dengan perasaan gamang. Rasa khawatir dan takut menyelimuti hatinya. Apa ada masalah serius yang terjadi dengan Lisa? Semoga saja tidak. Rizal terus berdo'a dalam hatinya...


💞💞💞


Semoga saja ya... 😔


Like dan komennya ya..


Jangan jadi pembaca gaib juga . eh... 🤭✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2