
Mereka bertiga terdiam beberapa saat. Tanpa sadar Alvin masih belum melepas tangannya dari lengan Rili.
Dara sadar, dia juga tahu diri. Alvin lebih memilih Rili dibandingkan dirinya. "Gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Bagi aku semua sudah jelas. Dan mulai sekarang kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi."
"Ra, aku minta maaf..." Alvin tidak tahu harus bicara apa. Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan. Sebelum akhirnya Dara membalikkan badannya dan pergi.
"Vin, lepasin tangan lo."
Alvin baru saja tersadar jika tangannya terlalu lama singgah di lengan Rili. Dia lepas tangannya lalu beralih duduk di kursi taman. "Kita harus gimana?"
Rili menggelengkan kepalanya.
"Lo gak takut? Hantu itu bawa aura jahat ke Dara. Gue takut lo dicelakai sama Dara. Gue khawatir sama lo."
Rili hanya terdiam. Jujur saja dia takut. Tapi dia tidak boleh lemah. Dia harus kuat. Dia harus bisa mengungkap misteri ini. "Lo akan selalu bantu gue kan?"
"Pasti. Tanpa lo minta pun gue akan terus bantu lo." Alvin menepuk kursi taman yang ada di sebelahnya, mengajak Rili untuk duduk di sebelahnya. "Duduk sini.."
Rili ingin duduk tapi dia takut jika sudah bersama Alvin dia akan lupa waktu. Jangan sampai dia terlambat lagi masuk kelas.
Rili menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau telat lagi masuk kelas."
"Terus kapan kita bisa bicara lama?"
Rili menggelengkan kepalanya lagi.
"Nanti gue telpon ya." Alvin tersenyum. Kalau seperti ini mereka sudah seperti orang kasmaran beneran saja. Saat mereka berbalas senyum malu-malu sambil janjian untuk bicara, bagai ada bunga yang bermekaran mendadak di sekitar mereka.
Rili melangkah pergi. Dia berjalan perlahan menuju kelas. Belum juga setengah hari tapi rasanya peristiwa hari ini sudah sangat menyita pikiran Rili. Perasaannya benar-benar campur aduk tidak karuan.
Rili masuk ke dalam kelas. Lagi-lagi dia mendapatkan tatapan tidak enak dari Dara. Lalu siapa yang harus disalahkan? Dirinya? Alvin? Atau cinta?
Rili duduk di samping Nana yang membuat Nana kini menolehnya.
"Lo sebenarnya ada masalah apa sih? Ada skandal apaan lo sama Alvin."
"Gak ada apa-apa, Na." Rili mengalihkan pembicaraan. "Tadi ada tugas apa aja?" tanya Rili sambil mengeluarkan bukunya.
"Ada PR halaman 10. Oiya, lo ikut ekskul Bahasa Inggris gak? Nanti sepulang sekolah suruh kumpul."
Rili menggelengkan kepalanya. "Emang lo ikut?"
"Kalau lo gak ikut, gue juga gak."
"Emang di kelas kita banyak yang ikut ekskul itu?" Rili berusaha mencari tahu, ya siapa tahu saja Dara ikut bergabung dalam ekstrakurikuler itu.
__ADS_1
"Amel, Dara,...." Nana menyebutkan beberapa nama teman sekelasnya yang ikut bergabung dalam ekskul itu.
Rili menyunggingkan sebelah bibirnya. Lalu dia mengambil ponsel dan membuka dinding chat dengan nama kontak "A"
Vin, nanti Dara ada ekskul Bahasa Inggris. Gimana? Lo antar gue ke rumah Dara bisa?
Pesan terkirim ke WA Alvin. Tak butuh waktu lama pesan chat sudah centang dua biru dan terlihat Alvin sedang mengetik balasan.
Beberapa saat kemudian balasan pesan dari Alvin masuk.
Kebetulan banget. Nanti ada rapat OSIS juga. Gue bisa kabur.
Rili tersenyum. Ya, akhirnya dia bisa mencari tahu sendiri siapa sebenarnya hantu itu?
Nanti lo tunggu aja ya, di sebelah sekolah. 😘😘
Rili kembali membalas pesan Alvin. Idih, apaan sih emot lo. Gak jelas banget.
Yang penting tadi udah jelas rasanya. 😘
Meski hanya berbalas chat saja dadanya sudah berdebar-debar.
Nana yang berada di sebelah Rili menjadi penasaran. Dia kini mengintip ponsel Rili tanpa sepengetahuannya.
"Cieee, ada yang berbunga-bunga." kata Nana cukup keras yang membuat Rili seketika menyembunyikan ponselnya.
Nana kini berbisik di telinga Rili. "Emang Alvin udah putus sama Dara?"
Rili hanya menganggukkan kepalanya.
"Emang lo udah jadian sama Alvin?"
Rili menggelengkan kepalanya.
"Terus maksudnya rasa apa yang udah jelas? Bikin pikiran gue travelling aja."
Rili kini menatap tajam Nana. "Lo baca chat gue barusan. Ini privasi. Awas lo kalau nyebar gosip."
"Lo tenang aja. Kita kan best friend."
"Na, gue minta tolong ya sama lo. Nanti bilang sama Kak Rasya kalau gue belajar kelompok di rumah lo."
Nana masih saja bicara pelan dengan Rili. "Lo mau ngapain ke rumah Dara sama Alvin?"
"Gue ada urusan penting, Na. Sorry gue belum bisa cerita sama lo. Kapan-kapan aja ya." Rili menghela napas panjang. Kali ini dia harus berhasil mendapat info agar masalahnya cepat terselesaikan.
__ADS_1
...***...
"Rili, aku ada rapat OSIS. Kamu pulang sendiri ya?" Kata Rasya yang berpapasan dengan Rili di lorong kelas.
"Iya Kak. Kebetulan aku juga ada kerja kelompok di rumah Nana. Iya kan, Na?"
Rili menyenggol lengan Nana saat Nana masih saja menatap Rasya dengan senyumnya.
"Iya Kak. Nanti biar Rili aku pesenin Gojek yang cakep."
"Ya udah. Hati-hati ya." Setelah itu Rasya berlalu.
Rili bernapas lega. Lalu dia berjalan bersama Nana keluar dari gerbang. Setelah itu mereka berpisah. Sebelum keluar Rili tak lupa mengambil helmnya. Dia kini berdiri di samping sekolah. Tepatnya di bawah pohon yang bisa dibuatnya berteduh dari panasnya sinar matahari.
Beberapa saat kemudian motor Alvin berhenti di depannya. Dia membuka kaca helmnya lalu tersenyum manis pada Rili.
Hanya mendapat senyuman dari Alvin saja dadanya sudah dag dig dig tak karuan.
"Udah lama?"
Rili menggelengkan kepalanya.
"Ayo naik." Suruh Alvin. Ternyata Alvin sudah mempersiapkan dirinya. Tas yang seharusnya berada di punggungnya sudah berpindah ke depan.
Rili memakai helmnya lalu naik ke boncengan Alvin. Dia masih saja gerogi. Bahkan kini dia mengepalkan tangannya sendiri di atas pahanya.
Motor Alvin mulai melaju pelan menuju rumah Dara. "Gak pegangan?"
Pertanyaan Alvin mampu ditangkap dengan jelas oleh telinga Rili, tapi seolah meloading beberapa saat. "Udah kok," jawab Rili.
"Pegangan itu di sini." Alvin meraih tangan kiri Rili lalu meletakkan di pinggangnya.
Rili menarik kembali tangannya. "Lo modus banget sih?! Tas udah di taruh di depan segala. Lo emang cari kesempatan ya?!"
Alvin hanya menyunggingkan senyumnya. "Bilang aja malu-malu mau kayak tadi."
Satu pukulan didapat Alvin di pundaknya. "Jangan seenaknya lo. Status gak jelas aja."
Tiba-tiba Alvin mengerem motornya secara mendadak dan berhenti di pinggir jalan. "Oo, jadi mau kejelasan status kita."
"Eh, nggak bukan gitu. Ayo jalan, biar cepat sampai di rumah Dara."
"Rili," Alvin kini menahan motornya dengan kedua kaki lalu dia menarik kedua tangan Rili melingkar ke pinggangnya. "Sebenarnya gue..."
💞💞💞
__ADS_1
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Sebenarnya apaan Alvin?? Jangan mencari kesempitan dalam kesempatan. Eh.. 😊