
Pagi hari itu di saat Rili sedang mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia, tiba-tiba wali kelasnya yang bernama Bu Siti masuk ke dalam kelas.
"Rili, ikut ibu ke ruang BK ya sekarang."
Rili melebarkan matanya. Ada apa? Kenapa dia bisa dipanggil ke ruang BK.
"Rili, lo ada masalah apa?" bisik Nana yang hanya dibalas gelengan oleh Rili.
Rili berdiri dan mengikuti Bu Siti keluar dari kelas. "Hmm, maaf Bu, ada masalah apa?"
"Nanti saya kasih tahu di ruang BK."
Rili menggigit bibir bawahnya sambil meremas tangannya sendiri. Ada apa ini?
Sampai di dalam ruang BK, Rili sangat terkejut saat melihat Alvin juga berada di dalam ruangan itu bersama Pak Soni sang guru BK.
"Alvin, ada apa?" tanya Rili pelan yang hanya dibalas gelengan dari Alvin. Perasaan Rili sudah merasa tidak nyaman. Dia seperti bisa menebak, apa ada yang melihat dia ciuman dengan Alvin kemarin di sekolah.
"Hmm, Alvin. Akhirnya Bapak bertemu dengan kamu di ruang BK yang hampir tidak pernah melanggar tata tertib dan terkenal dengan segudang prestasi kamu."
"Sebenarnya ada apa Pak?" tanya Alvin. Ya, ini memang baru pertama kalinya selama sekolah hampir 3 tahun dipanggil oleh guru BK.
"Belum tahu ya? Kemarin sepulang sekolah langsung ke rumah atau mojok dulu?"
Deg!!! Jantung kedua remaja ini berdenyut dengan kencang. Iyakah ada yang tahu tentang ciuman panas itu.
"Gak tahu kalau di dekat taman belakang terpasang cctv?"
Taman belakang? Alvin baru mengingatnya jika memang ada cctv di dekat pohon dan baru terpasang. Aduh, kenapa kemarin dia bisa main sosor saja ke Rili.
Pak Soni kini menunjukkan video dirinya dan Rili.
Mereka berdua justru menghela napas panjang. Untunglah yang terekspos hanya ciumannya yang 3 detik itu saja.
"Tahu kan, aturan di sekolah ini. Dilarang berpacaran apalagi sampai bermesraan di area sekolah."
"I-iya Pak. Maaf saya khilaf." jawab Alvin mengakuinya
"Maaf? Saya sudah memanggil wakil dari orang tua kalian. Biar mereka tahu apa yang dilakukan anaknya di sekolah ini."
"Loh, Pak. Kenapa Bapak langsung panggil orang tua kita tanpa bicara dulu. Video itu juga cuma beberapa detik, itu cuma nyerempet aja Pak. Lagian saya juga tidak pernah melanggar tata tertib sebelumnya." sangkal Alvin panjang lebar.
"Justru karena masih belum pernah itu supaya kamu tidak mengulanginya lagi. Kalian masih sekolah, tidak baik pacaran sampai bersentuhan kayak gitu. Nyerempet-nyerempet apaan sampai seperti itu."
__ADS_1
Rili hanya menundukkan kepalanya. Kalau Papinya memang datang ke sekolah, sudah pasti dia akan kena marah dan hubungannya dengan Alvin pasti akan berlanjut ke masa pengamatan ulang.
Alvin kini terdiam sambil sesekali melirik Rili. Terbesit rasa bersalah telah membawa Rili masuk dalam masalah ini. Sedangkan Pak Soni masih saja menceramahi mereka berdua.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. "Maaf, permisi."
"Silahkan masuk Pak Rizal."
Setelah menatap Papinya beberapa saat kini Rili menundukkan dirinya.
Rizal kini duduk di dekat putrinya yang terlihat sangat tegang. "Ada apa Rili?"
Rili tak berani menjawab.
"Pak Rizal ini kan orang tua dari Rasya, dan ini adiknya Rasya?" Pertanyaan yang seperti membandingkan antara kakak dan adik.
"Iya Pak. Rili memang sedikit berbeda dengan Kakaknya. Ada masalah apa Pak? Mereka pacaran di sekolah?" dengan hanya melihat Alvin yang juga berada di ruangan itu, Rizal sudah bisa menebak apa permasalahan mereka.
"Iya Pak. Mereka tertangkap kamera cctv sedang bermesraan." Pak Soni menunjukkan rekaman cctv itu pada Rizal.
Ada satu helaan panjang yang terdengar. "Alvin, saya kan sudah pernah bilang, jaga sikap kamu sama Rili. Jangan terlalu dekat. Saya tidak suka kamu berbuat seperti ini, apalagi sampai menyentuh lebih putri saya."
Alvin hanya menundukkan kepalanya. Mengapa rasanya lebih menakutkan dimarahi calon mertua daripada orang tuanya sendiri. "I-iya Om. Maaf..."
"Tapi, Pi..."
"Sudah, gak usah tapi-tapian. Fokus dulu sama sekolah kamu. Papi gak mau masalah ini sampai terulang lagi."
Rili semakin memanyunkan bibirnya dan menunduk. Inilah dampaknya jika Alvin tidak bisa menahan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Pak Iwan datang. Tentu saja itu Ayah dari Alvin. Pak Iwan memang beberapa tahun lebih tua dari Rizal.
"Pak Rizal, apa kabar?" Pak Iwan justru langsung bersalaman dengan Rizal. Mereka memang sempat beberapa kali bertemu di sekolah.
"Baik, Pak."
Pak Iwan kini duduk di sebelah putranya. Sebenarnya dia juga cukup bingung dengan masalah yang membuat dirinya di panggil ke sekolah. "Alvin, ada masalah apa? Papa kira kamu ada masalah sama Rasya. Tapi..." Pak Iwan kini melihat Rili.
"Dia putri saya Pak. Adiknya Rasya." jawab Rizal.
"Ooo," Bahkan tanpa dijelaskan pun Pak Iwan langsung tanggap.
"Iya Pak. Mereka berdua tertangkap kamera cctv sedang bermesraan." Pak Soni kembali menunjukkan video itu pada Pak Iwan.
__ADS_1
Alvin memijat kepalanya sesaat. Entah bagaimana reaksi Papanya yang paling sabar ini menghadapi masalahnya.
Sedetik kemudian Pak Iwan tertawa. "Wah, Pak Rizal rupanya kita akan besanan. Baru tahu kalau Pak Rizal juga punya putri yang cantik. Alvin ini memang tahu saja gadis kualitas bagus."
Rili hanya mampu menahan tawanya. Ternyata buah tak jatuh dari pohonnya. Anak sama bapak sama saja.
"Papa apaan sih, malu."
"Loh, yang harusnya malu itu kamu." Pak Iwan kini justru menjewer telinga putranya. "Belum halal itu gak boleh main sentuh. Dosa!"
"Iya, Pa. Iya."
"Awas ya kamu kalau main sentuh anak orang lagi. Papa jadiin kamu waiter di restoran selama setahun tanpa Papa bayar."
"Iya Pa, ampun."
Pak Iwan melepas jewerannya di telinga Alvin. "Maaf ya Pak Rizal atas perbuatan anak saya."
"Iya, tidak apa-apa. Yang penting mereka tidak akan mengulanginya lagi. Iya kan, Rili?" tanya Rizal sambil melihat putrinya yang sedari tadi curi-curi pandang terus dengan Alvin.
"Eh, iya Pi."
"Lalu apa Bapak akan memberi sanksi pada anak kami?"
"Untuk kali ini tidak. Saya hanya memperingatkan saja. Tapi jika kejadian ini terulang lagi, saya akan memberi sanksi yang tegas."
Ada kelegaan dari Rili dan Alvin.
"Oiya, berhubung Pak Rizal dan Pak Iwan berada di sini sekalian kita bahas tentang rencana tes masuk penerimaan universitas di luar negri. Kebetulan Alvin dan Rasya yang terpilih untuk menerima beasiswa itu. Mereka punya potensi yang bagus sepertinya mereka bisa lolos....."
Mereka sudah membicarakan topik lain.
"Hmm, Pak Soni apa saya dan Rili boleh kembali ke kelas?"
"Tidak usah. Sebentar lagi istirahat, tunggu aja di sini."
Seketika Rili dan Alvin tak ubahnya menjadi patung pajangan.
Tapi satu hal yang sebenarnya Alvin pikirkan. Pasti masalah ini ada yang dengan sengaja melapor ke pihak sekolah.
Siapa ya yang melaporkan masalah ini? Gak mungkin kan pihak sekolah tiba-tiba mengecek rekaman cctv, apalagi setelah jam pulang sekolah kecuali kalau ada pihak yang melaporkan masalah. Sepertinya ada yang gak beres. Gue harus cepat cari tahu....
💞💞💞
__ADS_1
Tuh kan, Alvin... Makanya jangan nackal...