Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
He is A Good Boy


__ADS_3

"Rili!!" Alvin segera menyusul langkah Rili yang diikuti oleh Rasya. "Jangan!!" Alvin berhasil menarik tangan Rili. "Aku gak mau kamu kena masalah."


"Al, putus bukan solusi yang tepat." Rili berusaha melepas tangannya. Terjadi saling tarik menarik beberapa saat.


Hingga dari kejauhan nampak seseorang yang memang ingin Rili temui. Zaki berjalan mendekat yang membuat Alvin berangsur melepas tangan Rili.


Emosi Alvin kembali meluap. Dia masih ingat betul tentang kejadian semalam. Zaki meninggalkannya begitu saja setelah dia tolong.


Mereka saling bersitatap tajam.


"Zaki, lo hapus video itu! Ngapain sih lo masih ikut campur sama hidup gue!"


Zaki kini beralih menatap Rili lalu tersenyum sumbang. Sedetik kemudian dia memutar video itu lalu memberikan ponselnya pada Rili. "Video ini?"


Rili menatap video itu lekat. Rasa malu dan jengkel bercampur jadi satu. Ya ampun, ternyata dia ciuman dengan Alvin sampai separah itu. Bagaimana kalau seandainya video itu sampai tersebar. Mungkin saja mereka bakal jadi artis porn dadakan. Memalukan!


Ponsel Zaki kini ada di tangan Rili. Dia segera hapus video itu.


"Iya, lo hapus aja."


Rili menatap Zaki sesaat. Kenapa dia membiarkannya menghapus video itu?


"Video ini udah lo copy?" tuduh Rili sambil tangannya masih beroperasi menyusuri jejak video itu di perangkat-perangkat ponsel Zaki.


Lagi, Zaki hanya tersenyum miring. "Udah lo hapus, berarti udah gak ada." Dia mengambil kembali ponselnya lalu berjalan mendekati Alvin.

__ADS_1


Kedua pria ini masih saja saling bertatap tajam.


Alvin hanya mengepalkan tangannya. Rasanya dia ingin menghajar makhluk yang tidak punya hati ini.


"Sorry soal semalam. Makasih lo udah nyelamatin hidup gue. Video itu udah dihapus. Gue udah gak ada hutang budi lagi sama lo. Kita impas."


Tak ada jawaban dari Alvin. Jujur saja dia masih dongkol karena Zaki serta merta meninggalkannya di pinggir jalan dengan dahinya yang terluka.


"Oke. Gue gak akan ganggu lagi hubungan lo sama Rili. Tapi ingat! Jangan lo rusak Rili. Jaga dia!" Satu tepukan dibahu Alvin mengakhiri perkataannya, lalu berjalan pergi.


Ada satu helaan kelegaan dari Alvin.


"Ya udah, kalau masalah udah selesai. Jangan lo ulangi hal kayak gini lagi." Pesan Rasya sambil berlalu meninggalkan adik dan calon adik iparnya itu.


Rili menatap Alvin dengan sejuta pertanyaannya. Apa yang telah terjadi antara Alvin dan Zaki?


"Kok diem? Masih mau putus?" pertanyaan Rili memecah kebisuan mereka. Bahkan cenderung untuk memancing adu argumen. Karena sejujurnya dia kangen mendengar kebawelan Alvin.


"Aku dari awal gak mau putus sama kamu." jawab Alvin. "Aku merasa salah udah bawa kamu dalam masalah."


"Kamu kenapa gak cerita sama aku soal ini. Aku kan juga berhak tahu."


"Iya, maaf." Hanya itu yang bisa dia katakan. Setelah semua kejadian yang menimpanya, dia masih takut untuk menggoda Rili. Lebih tepatnya dia takut tergoda untuk melakukan hal-hal yang membuatnya ketagihan itu. Iya, ketagihan.


"Terus luka di dahi kamu itu karena nolongin Zaki? Gimana ceritanya?" Rili begitu ingin tahu fakta yang sebenarnya.

__ADS_1


"Semalam sepulang dari restoran aku gak sengaja nolong Zaki dari preman yang merampas hpnya. Padahal hp dia udah aku pegang tapi aku gak ngeh kalau itu Zaki. Jadi Zaki ambil hpnya lalu lari dan aku kejar. Hampir aja dia tertabrak truk. Ya, aku narik dia dan justru aku yang terjatuh dan luka."


Rili kini menatap lekat Alvin. Ya, he is a good boy. Dia masih mau menolong seseorang yang telah mencurangi hidupnya dan mengancamnya.


"Aku sempat nyesel nolong dia. Udah aku tolongin tapi aku ditinggal gitu aja di pinggir jalan dengan dahi yang luka." Alvin menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa kesalnya. Tapi sekarang sudah terbukti kan, bahwa suatu kebaikan itu pasti akan mendapat hasil yang baik juga.


Rili tersenyum kecil seraya tangannya mengulur dan sedikit mengusap sekitaran luka Alvin yang terperban. "Ini masih sakit? Tadi kamu kayak hampir pingsan. Aku khawatir banget."


"Udah sembuh kalau udah kamu pegang." Alvin meraih tangan Rili yang singgah di dahinya lalu mengenggamnya. Sangat terasa hangat.


Rupanya Alvin sudah kembali lagi ke wujud aslinya. Rili tidak mau terlalu terbuai, dia menarik tangannya cukup kasar. "Udah, gak usah pegang-pegang ntar khilaf lagi."


Alvin kini tertawa cukup lebar. Rupanya sudah dua hari dia tidak tertawa. "Mulai sekarang akan aku tahan. Aku akan berusaha memperbaiki diri."


Rili hanya mencebik. "Kayak bisa aja."


"Bisa!"


"Tapi aku masih kesel sama kamu. Dua hari aku dikacangin. Chat gak dibalas, telpon gak diangkat. Diajak bicara diem aja." Rili kini berdiri dan berjalan meninggalkan Alvin. Saatnya pembalasan.


"Kok malah ngambek?" Ingin Alvin menyusul Rili tapi urung karena Adit memanggilnya untuk segera menuju kelas.


...***...


Malam itu di dalam kamar, Rili justru uring-uringan sendiri. Pasalnya, sebenarnya dia ingin balas dendam untuk mengacuhkan Alvin tapi Alvin justru sama sekali tak menghubunginya. Untuk sekedar kirim pesan singkat saja tidak.

__ADS_1


"Bener-bener yah tuh orang. Kalau ditunggu-tunggu gak pernah merasa." Rili mengambil ponselnya dan membuka dinding chat Alvin. "Dari tadi siang gak buka WA sama sekali. Sebenarnya dia ngapain sih? Sibuk?" Rili kini meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia berniat untuk segera tidur tapi pikirannya berjalan kemana-mana dan semua itu tentang Alvin. Hanya Alvin dan Alvin yang memenuhi otaknya. Dia benar-benar sudah terkontaminasi oleh virus cinta yang dahsyat.


__ADS_2