Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
So Spesial


__ADS_3

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Rasanya Rili sudah tidak sabar untuk bisa berduaan dengan Alvin. Memang jiwa anak muda selalu menggebu setiap akan bertemu dengan pujaan hati.


Setelah keluar dari kelas, Rili mempercepat langkahnya menuju taman belakang sesuai janjinya dengan Alvin. Dia lihat Alvin sudah duduk menantinya sambil melihat langit yang mulai mendung. Rupanya dia sedang melamun. Entah memikirkan apa.


Sampai Rili telah duduk beberapa detik di sebelahnya pun Alvin masih belum menyadarinya.


"Alvin, mikirin apa sih?"


Barulah kini Alvin menolehnya.


"Eh, itu. Udah mendung ya." jawab Alvin asal. Sebenarnya dia tidak memikirkan itu. Ada satu hal penting yang memang harus Alvin sampaikan pada Rili.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Rili langsung pada pokok permasalahan karena Rili memang tidak suka basa-basi.


Alvin tersenyum sambil menatap Rili. "Kamu canggih ya. Aku belum bilang tapi kamu udah tahu."


"Mau kemana?" tanya Rili lagi.


Alvin memberikan selebaran pada Rili.


Jadwal tes masuk Universitas Luar Negri


Rili mengerutkan dahinya membaca seluruh isi selembaran itu. Ada berbagai negara yang dicantumkan termasuk materi apa saja yang akan dibutuhkan dalam tes.


"Jadi kamu mau kuliah di luar negri?"


"Masih mau ikut seleksi."


"Pasti kamu lolos."


"Belum tentu. Rasya juga ikut seleksi. Jadi dari sekolah kita aku dan Rasya yang terpilih untuk ikut tes dalam beasiswa itu."


Wajah Rili semakin masam. Dia sandarkan dirinya di sandaran kursi. Mereka berdua sama-sama pintar pasti akan lolos. Dan itu artinya, Rili akan ditinggalkan dua pria yang selalu menjaga dan menemaninya. Walau tidak untuk selamanya tapi setidaknya butuh waktu kurang lebih sampai 4 tahun.


"Are you support me?"


Rili hanya terdiam.


"Okey. Yes or no?! Aku akan tetap ikut tes itu. Ini salah satu cara agar aku bisa bahagiakan kamu di masa depan. Butuh perjuangan terlebih dahulu. Apa kamu mau bahagia di awal lalu menyesal di akhir? Nggak kan?"


Kini seulas senyum muncul di bibir Rili sambil membalas tatapan Alvin tak kalah dalamnya. "Aku akan selalu dukung kamu. Tapi..."

__ADS_1


"Hem.."


"Awas kalau sampai lirik cewek lain!"


Alvin tertawa cukup keras. Dia cukup berbangga diri mendengar larangan Rili. "Akhirnya kamu sadar kalau kamu gak bisa kehilangan aku. I feel so spesial."


Rili mengembalikan kertas itu ke tangan Alvin lalu membuang pandangannya sambil menggigit bibir bawahnya. Dia kini duduk memunggungi Alvin. Duh, aku salah ngomong. Ini bibir kenapa gak ada jaimnya sih.


"Alat pengintai kamu kan canggih. Justru aku yang khawatir kalau kamu sendiri di sini seandainya aku dan Rasya lolos tes itu. Gak ada yang jagain kamu kan."


"Aku udah gede. Aku bisa jaga diri sendiri." suara Rili terdengar sedikit serak. Belum juga mereka ikut tes tapi Rili seolah sudah akan ditinggalkan saja.


"Apaan sih, kok sedih gini." Alvin mendekatkan dirinya dan menempelkan dagunya di pundak Rili. "Senyum dong, dua orang yang kamu sayangi akan sukses jadi kamu harus bahagia."


Tiba-tiba Rili menggeser dirinya yang membuat Alvin sedikit limbung, untung bisa dia tahan.


"Ya pasti dong. Aku seneng banget. Aku do'ain semoga kamu dan Kak Rasya bisa lolos." Rili memutar dirinya hingga kini dia bertatapan dengan Alvin.


"Amin.. Gitu dong, aku jadi semangat buat berjuang."


Selalu, senyuman Alvin membuat Rili terpaku. Hingga membuat Alvin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mendekat.


Ciuman 3 detik yang cukup dalam dan hangat kini didapat Rili tepat di bibirnya. Hampir saja jantung Rili berhenti sangking terkejutnya mendapat sengatan secara tiba-tiba.


Dia raba bibirnya, walau sesaat tapi sudah membuat bibir itu basah.


"Alvin kebiasaan deh. Nanti kalau ada yang lihat gimana?"


Alvin melihat sekitar. "Kayaknya udah pada pulang semua. Mendung banget soalnya. Bentar lagi pasti..." Belum sempat Alvin melanjutkan kalimatnya, hujan turun dengan deras. Alvin menarik tangan Rili agar segera berlari untuk berteduh.


"Deras banget ujannya. Gak bisa pulang dong kita." Rili mendekap dirinya sendiri. Tetesan air hujan telah membuat seragamnya basah.


Alvin sempat meliriknya lalu memalingkan pandangannya saat melihat sesuatu yang tercetak di balik seragam Rili. Dia segera melepas jaketnya. "Seragam kamu basah. Kamu pakai jaket aku." Alvin memakaikan jaketnya menghadap ke belakang hingga menutupi seluruh bagian depan Rili.


"Eh, kamu lihat!!" Rili memasukkan tangannya ke lengan jaket yang memang sengaja dia biarkan menghadap ke belakang.


"Makanya aku tutup, biar aku gak liat."


Rili memalingkan wajahnya untuk mengurangi rasa malunya.


"Daripada nunggu ujan reda di sini sambil berdiri, ikut yuk." Alvin menarik tangan Rili agar mengikutinya.

__ADS_1


"Kemana?"


Alvin tak menjawab. Dia mempercepat langkahnya menuju lorong kelas. Lalu melewati jalan sempit di ujung kelas yang berbatasan dengan pagar tembok sekolah, sampailah mereka di belakang kelas. Tidak terkena air hujan karena atap kelas yang memang cukup lebar.


"Kenapa ke sini? Nunggu di depan kelas kan bisa."


Alvin tak menjawab. Dia kini justru duduk di bangku yang sudah tidak terpakai dan sengaja disisihkan di tempat itu.


"Kapan lagi sih bisa berduaan sama kamu. Kalau di depan kelas banyak cctv."


Rili kini ikut duduk di sebelah Alvin. "Iya sih. Jarang-jarang kita bisa pulang bareng. Bukan jarang lagi. Baru dua kali ini kan ya."


"Iya. Yang pertama ke rumah Dara direcokin sama Rasya."


Mereka terdiam beberapa saat yang hanya ditemani suara hujan yang masih deras.


Kini satu tangan Alvin merengkuh pundak Rili dan menghapus jarak di antara mereka. "Nanti kalau emang aku keterima kuliah di luar negri. Jaga diri kamu di sini ya. Tunggu aku. Jangan lirik cowok lain."


Rili tersenyum simpul. Terkesan lebay sih sebenarnya. Seperti pesan seorang suami yang akan berangkat merantau saja.


"Iya gak?" tanya Alvin karena hanya dibalas senyuman dari Rili.


"Iya, iya."


Satu cubitan kini mendarat di pipi Rili. "Hih, sok jaim banget."


Rili menepis tangan Alvin tapi justru Alvin mengenggam tangan Rili. Dengan erat dan sangat terasa hangat yang mampu mendebarkan dada sepasang remaja ini.


"I love you..." bisik Alvin di dekat telinga Rili yang membuat desiran aneh di tubuh Rili tiba-tiba muncul.


"I love you too." jawab Rili. Kini dia menatap Alvin karena tangan Alvin yang tadinya bertengger di pundak Rili berpindah menyentuh pipi Rili dan menahannya agar tetap menatapnya.


Begitu sangat menggoda, begitu sangat disayangkan jika dilewatkan tanpa memberi sebuah kecupan. Seperti ada magnet dari kutub utara dan kutub selatan yang saling tarik menarik. Wajah yang awalnya berjauhan itu saling mendekat. Semakin dekat hingga membuat kedua bibir yang dingin itu saling bersentuhan. Dan ...........


💞💞💞


Dan bersambung.


Hihihi..


Kalau udah ada scene Rili sama Alvin tuh bawaannya pengen cepet2 author nikahin aja.. 😆

__ADS_1


__ADS_2