Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Berbeda?


__ADS_3

"Kamu mau minum apa? Chocolate avocado?" Tanya Rasya pada Dara. Ya, Rasya memang sengaja mengajak Dara untuk mampir dulu ke sebuah cafe yang tak jauh dari sekolah karena hujan mulai turun. Jadi, mau tidak mau Dara menuruti keinginan Rasya.


Dara yang duduk berhadapan dengan Rasya menggelengkan kepalanya. "Dark Chocolate aja."


Jawaban Dara membuat kening Rasya mengerut. "Bukankah kamu dulu gak suka Dark Chocolate?"


"Eh, hmm. Iya itu dulu. Sekarang suka."


"Aku pesenin dulu ya..."


Dara tersenyum simpul lalu dia mengalihkan pandangannya menatap jalanan yang masih saja diguyur hujan. Pikirannya terbang jauh, entah kemana.


"Hei, kenapa?" tanya Rasya yang membuat Dara kini mengalihkan pandangannya ke arahnya.


Dara hanya menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Segelas Dark Chocolate, Mocha Latte dan dua porsi French Fries.


Dara segera meminum minumannya. Sama halnya dengan Rasya. Kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh dua orang yang sama-sama dingin bagai es kutub selatan dan utara. Jauh, tak akan bisa saling tarik menarik seperti Rili dan Alvin bukan?


"Kamu masih ingat gak, dulu aku pernah kasih kamu kalung dengan inisial D. Masih ada?"


Dara tak langsung menjawabnya. Dia menatap Rasya sesaat. "Hmm, masih aku simpan."


Rasya tersenyum tipis. Walau sebenarnya ada sesuatu yang sangat mengganjal pikirannya. Kenapa aku merasa Dara yang dulu dan sekarang berbeda ya. Apa karena waktu yang membedakan dirinya.


...***...

__ADS_1


Alvin menghentikan motornya di depan rumah Rili bersamaan dengan Rasya.


"Kok kalian baru pulang?" tanya Rasya setelah turun dari motornya.


"Kak Rasya sendiri juga baru pulang." bukan Rili kalau tidak bisa memutar balikkan fakta. Dia kini turun dari motor Alvin.


"Hujan makanya berteduh dulu."


"Ya, kan sama." Rili melepas jaket Alvin dan mengembalikannya pada pemiliknya. "Makasih ya.."


Alvin tersenyum manis pada Rili. "Sama-sama, cantik." Lalu dia memakai jaketnya. "Aku pulang dulu ya. Salam buat Papi dan Mami."


"Iya, hati-hati."


Beberapa saat kemudian motor Alvin melaju meninggalkan rumah Rili.


Rasya masih saja berdiri menunggu Rili lalu mereka berjalan bersama masuk ke dalam rumah.


"Hmm, di cafe." jawab Rasya cepat.


"Wih, ada satu perkembangan dong. Udah jadian?" tanya Rili yang hanya dibalas gelengan dari Rasya. Rili bisa menangkap rasa kecewa yang tersirat. "Ya udah sabar aja. Dara kan tipikal kayak Kak Rasya. Dingin."


"Kamu udah dikasih tahu sama Alvin soal tes itu?" Sampai masuk ke dalam rumah mereka masih saja mengobrol.


"Udah. Kak Rasya sama Alvin pasti lolos deh." Meski cukup berat membayangkan hari-harinya tanpa mereka berdua tapi kali ini Rili sangat mendukung mereka.


"Anak-anak Mami baru pulang udah ngobrol serius."

__ADS_1


Mereka berdua mencium tangan Maminya lalu ikut duduk di kursi ruang tengah.


"Kak Rasya terpilih buat ikut seleksi kuliah di Luar Negri sama Alvin."


"Wah, bagus dong. Semangat ya. Kalian pasti lolos."


"Iya Mi. Rasya akan berusaha. Lumayan kalau bisa dapat beasiswa kuliah di Amerika."


"Iya. Mami selalu do'akan yang terbaik buat kamu. Ya sudah, kalian mandi dulu gih. Pada bau asem semua. Habis dari mana?"


Kedua anak Lisa ini malah saling senyum.


"Habis pacaran ya?"


"Ini Mi, Rili yang pacaran."


"Ih, Kak Rasya kayak gak aja. Tadi Kak Rasya habis ke cafe sama Dara, Mi."


"Rili, tuh kan. Aku jadi malas cerita sama kamu."


"Udah, udah cepat mandi sana. Kalau lapar cepat makan ya..."


"Iya Mi."


Mereka berdua segera berjalan menuju kamar masing-masing. Setelah masuk kamar, Rili tak langsung menuju kamar mandi. Dia justru merebahkan dirinya dan membayangkan apa yang baru saja dia lakukan dengan Alvin. Baru pertama kalinya dia berbuat sedikit nakal dengan cowok. Sedikit menyesal dan mungkin tidak akan dia lakukan lagi.


Ya, mungkin....

__ADS_1


💞💞💞


Ya, mungkin.. Tapi author gak janji.. 🤭


__ADS_2