
"Ra, udah jangan nangis." Rasya masih saja berusaha menenangkan Dara. Mereka kini duduk di atas bangku dalam kelas.
"Kak Rasya, aku gak bisa bayangin. Gimana kalau aku tiba-tiba ngelakuin lebih dari itu. Aku takut Kak? Kenapa sih, harus aku yang melukai Rili? Aku gak ada dendam sama sekali sama Rili." Dara mengusap air matanya yang tidak juga berhenti mengalir. Sampai matanya memerah dan sembab.
Rasya masih saja merangkul Dara. Dia usap bahu Dara berharap Dara bisa sedikit tenang. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Tersadar gadis yang ada di sebelahnya itu bukanlah gadisnya. Hanya sebatas ingin memiliki tanpa ucapan.
"Kalau keluarga Kak Rasya gak terima dengan apa yang udah aku lakukan. Aku gak papa dilaporkan."
"Ra. Ini diluar batas sadar kamu. Kita bertiga udah tahu kenapa kamu ngelakuin ini? Kamu dirasuki sama..." Rasya menghentikan perkataannya, mengingat siapa nama yang pernah Rili sebut sebagai hantu itu. "Dewi, kakaknya Papa kamu. Iya?"
Mata Dara membulat. Jadi mereka semua sudah tahu? Apa jangan-jangan waktu Rili dan Alvin ke rumah, mereka mencari tahu soal ini.
"Ra, apa kamu juga merasa diganggu hantu itu? Apa kamu tahu yang sebenarnya?"
Dara menatap kosong. Lalu beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu tahu sesuatu tolong bilang sama aku ya. Mungkin saja misteri ini akan terpecah."
Dara mengangguk gamang. Dia memikirkan sesuatu. Sesuatu yang tersembunyi dibalik cerita Dewi.
...***...
Alvin menghentikan mobilnya di depan rumah Rili. Setelah itu Rizal segera keluar sambil menggendong Rili.
"Papi aku bisa jalan sendiri."
__ADS_1
"Udah gak papa."
Alvin mengikuti langkah Rizal di belakangnya. Mereka masuk ke dalam yang langsung disambut dengan suara khawatir dari Lisa.
"Rili, kenapa Pi?"
"Dia habis jatuh." Rizal menurunkan Rili di sofa panjang di ruang tamu karena sepertinya mereka ingin mengobrol masalah serius.
Lisa kini memangku kepala putrinya lalu mengusap puncak kepalanya lembut. "Gimana bisa jatuh sih sayang?"
Rili hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya.
"Rili kamu jatuh kayak gimana? Sampai banyak luka-luka lebam gini? Apa ada yang sengaja melakukan ini sama kamu?" Tanya Rizal yang sedari tadi sudah penasaran dengan luka-luka janggal di tubuh putrinya. Bahkan terlihat jelas di sekitar dagunya memar membiru seperti cengkeraman yang membuat ujung bibirnya ikut terluka.
Lagi, Rili hanya terdiam.
Rizal menatap Alvin lalu beralih menatap putrinya. "Dewi? Biar Papi bisa laporkan dia kalau dia udah keterlaluan sama kamu."
Rili menggelengkan kepalanya. Lalu kini dia duduk dan bersandar di bahu Lisa dengan rengkuhan seorang ibu yang sangat nyaman. Ada satu helaan sebelum akhirnya sebuah kalimat terucap dari bibir Rili. "Dewi. Mantan Papi."
Kedua pasang mata ini membulat. Terkejut dengan apa yang dikatakan Rili.
"Rili maksud kamu apa?" tanya Rizal. Dia kurang mengerti dengan apa yang dikatakan Rili.
Alvin mengambil alih pembicaraan Rili. "Maaf Om. Saya mau cerita yang sebenarnya. Saya harap, Om sama Tante mau mendengarkannya dan percaya."
__ADS_1
Kini Alvin mendapat tatapan serius dari Rizal dan Lisa. Alvin harus segera mengungkap semua permasalahan ini. Sekarang dan detik ini juga. Raut serius sangat tergambar di wajah Alvin.
"Ini memang menyangkut masa lalu, Om. Dewi."
"Tapi Dewi itu sudah meninggal."
"Iya, Om. Kita tahu. Saya punya indera keenam sejak kecil. Begitu juga dengan Rili yang akhir-akhir ini bisa melihat penampakan Dewi. Dewi terus muncul di mimpi-mimpi Rili. Bahkan dia terus neror dan mengancam Rili di dunia nyata. Dan dia juga kendalikan Dara untuk melukai Rili."
"Bagaiman kalian yakin kalau hantu memang Dewi?" tanya Lisa. "Setahu saya Dewi itu tidak jahat."
"Ya, kita belum tahu alasan terkuat apa yang membuat Dewi kembali lagi dan seolah punya dendam yang besar. Bahkan kami juga sudah mencari info tentang Dewi pada tante Karin karena Dara yang selama ini diikuti oleh Dewi adalah anak dari Tante Karin dan Om Dewa."
Sepasang suami istri ini semakin terkejut. "Dewa kembali ke kota ini?" tanya Rizal yang sama sekali tidak mengetahui jika sahabatnya itu sudah kembali ke kota ini.
Alvin mengangguk.
"Jadi benar Dewi itu masa lalu Om? Sebenarnya apa ada masalah yang belum selesai di masa lalu? Sepertinya ini tidak menyangkut soal Dara saja yang memang sakit hati dengan Rili tapi juga tentang masa lalunya." tanya Alvin. Dia memang lebih tegas daripada Rili yang masih takut jika semua itu akan menyinggung kedua orang tuanya.
Ada satu helaan panjang yang berhembus dari hidung Rizal. Dia seolah mengingat kembali masa lalunya yang sudah lebih dari 20 tahun berlalu.
Begitu juga dengan Lisa. Dia sangat cemas. Dia semakin mengeratkan tangannya di bahu Rili. Dia tidak mau kejadian yang dia alami akan terulang lagi pada Rili....
💞💞💞
Besok Papi Rizal mau dongengin. Jangan pada ketiduran loh.. ðŸ¤
__ADS_1
Tinggalkan jejak yes..
👣👣👣👣