Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Surprise di Pagi Hari


__ADS_3

Alvin udah datang, padahal ini kan masih pagi.


Sampai di tempat parkir sekolah, Rili sudah melihat sepeda motor Alvin yang terparkir. Sebenarnya Alvin sedang sibuk apa sampai mengacuhkannya seperti ini. Apa masih efek dari peristiwa kemarin.


Rili kini berjalan menuju kelas yang sesaat kemudian disusul oleh Nana. "Pagi Rili."


"Iya, pagi..."


"Duh, muka masih ditekuk aja. Belum kelar-kelar masalahnya?" mereka masih mengobrol sambil berjalan menuju kelas.


"Udah sih."


Mereka masuk ke dalam kelas. Ada sesuatu yang berhasil membuat mata Rili membulat. Dia cukup terkejut dan terpukau saat melihat ada setangkai bunga mawar merah dan sekotak bekal yang berpita manis. Tak lupa juga kartu ucapan yang terselip di antara pita.


"Aciee.. Ada yang ngasih kejutan pagi-pagi." Nana yang hanya melihatnya pun ikut antusias. Dia juga sudah bisa menebak, dari siapa lagi kalau bukan dati pujaan hatinya Rili.


Rili tersenyum kecil lalu dia mengambil kartu ucapan yang terselip itu dan membacanya.


Maaf ya...


Mulai sekarang aku akan perbaiki semuanya. Akan berusaha jadi yang lebih baik buat kamu.


I love you, now and until later...


^^^Alvin^^^


Senyuman masih terus mengembang di bibir Rili. Hatinya sangat berbunga-bunga. Dia kini duduk di bangkunya. Lalu mengambil bunga mawar itu dan menciumnya sesaat.


Tumben banget sih, Alvin romantis gini.


Setelah itu Rili meraih kotak bekal dan membukanya. Dia spechless melihat tampilan yang ada di dalamnya. Nasi goreng yang berbentuk hati dan lengkap dengan telor dadar berserta hiasan lain. Cantik dan manis. Apalagi aroma kelezatannya begitu sangat menggugah selera makannya walau dia sudah sarapan.


"Aih, Alvin romantis banget. Udah kayak bujuk istri yang lagi ngambek tau gak." Nana masih saja cekikikan di samping Rili. "Dari baunya enak tuh nasi goreng."


Senyum Rili masih saja mengembang di bibirnya. "Iya, pasti ini Alvin yang buat."


"Hah, Alvin bisa masak?"


Rili mengangguk lalu mulai melahap nasi goreng itu.


"Perfect. Udah ganteng, pinter, baik, romantis, jago masak. Kurang apa coba. Ada gak ya cowok yang kayak gitu lagi. Lo beruntung banget."

__ADS_1


Rili masih saja tersenyum dengan hati yang berbunga sambil menikmati sarapan yang keduanya.


"Icip dong, kelihatannya enak." Meskipun Nana hampir saja ngiler tapi Rili sama sekali tak menawarinya.


"Big no! Lihat kan bentuknya aja hati utuh, masak hatinya mau dibagi sama lo."


"Yaelah, makanan dong itu. Bukan hatinya Alvin beneran. Bucin banget lo."


"Biarin." Rili masih terus melahap nasi goreng seperti orang sedang kelaparan.


Nana hanya menatap heran Rili yang sedang makan dengan lahapnya. "Lo belum sarapan tadi pagi?"


"Udah. Ini kan spesial. Pengennya sih makan orangnya malah."


"Hah!!" Nana berpikir dua kali lipat mendengar kalimat ambigu Rili.


Ada tawa renyah yang kini berada di dekat Rili.


"Uhuk!! Uhuk!!" Seketika makanan yang seharusnya melewati kerongkongan dengan sempurna berbelok arah. Untung saja tidak sampai tersesat ke jalur pernapasannya.


"Eh, sorry, sorry. Ini minumnya kelupaan." Alvin memberikan sebotol air mineral yang sealnya telah dibuka pada Rili.


Rili mendongak lalu segera mengambil botol itu dan meminumnya. Entah kenapa dadanya semakin berdebar-debar.


Selesai minum, Rili meletakkan botol itu di atas meja. "Sejak kapan berdiri di situ?"


"Sejak kamu mau makan aku."


"Eh, hmm.." Rili menjadi tersipu malu. Pipinya terasa memerah. Dia tidak mampu menatap netra Alvin yang kini sedang menatapnya dengan penuh godaan. "Makasih ya. Ini.. "


"Iya, sama-sama." Alvin tak berhenti menatap Rili. Apalagi saat melihat Rili tersipu malu seperti ini membuatnya terasa semakin gemas.


"Ehem, gue keluar dulu kali ya. Obat nyamuknya kayaknya mulai nyala."


"Eh, gak usah." cegah Alvin. Dia merasa tidak enak aja berduaan di kelas orang. "Aku cuma bentar."


"Sampai bel masuk juga gak papa. Hmm, Kak Alvin boleh dong icip nasi gorengnya kelihatannya enak."


"Minta aja sama Rili. Kan udah aku kasih ke Rili."


Rili memutar bola matanya. Dia melihat nasi goreng yang memang sudah tinggal sedikit. "Nih, daripada ntar ngiler." Rili menggeser kotak bekal itu ke depan Nana.

__ADS_1


"Makasih." Nana segera memakan nasi goreng itu sampai habis tak tersisa. "Enak bet dah. Kak Alvin beli dong seporsi buat bekal besok."


"Eh, lo pikir Alvin penjual nasi goreng."


"Aku gak jual. Kalau mau beli ke restoran Citarasa aja." Alvin tersenyum lalu dia kembali menatap Rili.


Nana kini terdiam karena Alvin kembali fokus pada sang pujaan hati. Biar tidak bosan dia memainkan ponselnya sendiri.


"Kemarin kenapa gak chat sih?" tanya Rili.


"Aku lagi banyak tugas akhir. Maaf ya.." Tangan Alvin terangkat untuk mengusap puncak kepala Rili.


"Iya gak papa." Rili tersenyum. Menerima perlakuan manis seperti ini, rasanya benar-benar dunia seolah hanya milik berdua. Tidak peduli ada Nana yang sesekali melirik adegan sepasang remaja yang sedang di mabuk asmara itu.


"Kalau mau pengen makan gak papa sih mumpung belum ada yang masuk bentar lagi pasti ramai. Aku bisa hadap sana." Nana memutar tubuhnya hingga memunggungi mereka berdua.


Rili memukul punggung Nana karena dia merasa semakin gerogi saja sekarang. "Apaan sih."


Alvin hanya tersenyum. Inginnya sih dia menciptakan sensasi yang pernah dia buat dan kecanduan itu tapi dia masih trauma. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.


Beberapa saat kemudian Dara masuk ke dalam kelas. Tanpa sengaja pandangan Alvin bersitatap dengan Dara. Alvin mengerutkan dahinya. Dia menatap lekat Dara sampai Dara duduk di bangkunya. Kenapa bisa?


Beberapa detik kemudian Alvin membisikkan sesuatu pada Rili.


Dewi masih ngikuti Dara kamu gak lihat?"


Rili hanya menggelengkan kepalanya.


Berarti karena cincin itu udah gak kamu pakai. Tapi anehnya tatapan Dewi sedih banget, gak penuh amarah kayak biasanya. Dia juga gak lihat ke arah kamu sama sekali


Rili mengerutkan dahinya. Ada apa lagi ini?


Ya udah, yang penting Dewi gak ganggu kamu lagi. Satu sapuan di telinga Rili mengakhiri bisikan Alvin.


"Alvin!!" Rili terkejut karena sentuhan hangat nan basah dari Alvin barusan membuat dirinya bagai tersengat listrik.


Alvin tersenyum miring. "Ya udah, aku ke kelas dulu ya. Nanti aja istirahat dilanjut." Alvin masih saja terkekeh melihat ekspresi Rili.


Rili hanya menatap Alvin yang berjalan dengan santai keluar dari kelas.


"Ngapain teriak barusan?" Tanya Nana yang kini meluruskan dirinya. Terkesan kepo memang. Katanya tadi dibiarkan untuk saling makan. Baru juga icip sedikit sudah dipertanyakan. Eh..

__ADS_1


Rili hanya menggelengkan kepalanya sambil mengemasi mejanya karena teman-temannya sudah banyak yang datang berarti sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Dan masih tetap sama dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


__ADS_2