Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Udah Jadian


__ADS_3

"Rili mau bakso?" tawar Nana yang sedari tadi melihat Rili hanya duduk melamun dengan wajah pucatnya saat jam istirahat hari itu.


Badan Rili terasa sakit semua, remuk seperti tanpa tulang. Lagi-lagi hantu itu terus mengejarnya dalam mimpi. Sangat terasa capek walau bukan raga yang berlari. Ya, setelah video call dengan Alvin dia tertidur. Tak lama setelah itu dia bermimpi. Mimpi buruk yang selalu menghiasi malam-malamnya.


"Rili.." panggilan itu justru membuat Rili semakin sengsara. Tidak ada kapoknya Zaki mendekatinya. Bahkan dia kini sudah duduk di sebelahnya.


"Heh, lo ngapain ke sini Zak! Minggir lo!!" sewot Nana ingin membantu Rili yang terlihat sangat tidak bertenaga hari itu.


"Rili, lo pucat banget. Lo sakit?" tanya Zaki sok perhatian yang hanya dibalas lirikan singkat dari Rili.


Rili ingin menimpali Zaki tapi dia tidak punya cukup tenaga untuk bersuara keras.


"Rili..." satu tarikan kasar dan keras berhasil membuat Zaki beralih dari tempatnya.


"Masih berani ganggu Rili!! Mau gue hajar lagi!!"


Perkataan Alvin membuat Rili mendongak. Kapan Alvin hajar Zaki?


"Gue gak takut sama lo!! Lo itu bukan siapa-siapa Rili! Jangan sok larang gue!!"


Alvin mengepalkan tangannya. Ingin dia menghajar Zaki tapi dia urungkan. Dia kini duduk di sebelah Rili. Menyematkan jari-jarinya di antara jari-jari Rili dan menggenggamnya erat. Dia angkat tangan Rili dan menunjukkannya pada Zaki. "Gue udah jadian sama Rili. Iya kan sayang?"


Rili hanya diam sambil melirik Alvin. Dia biarkan apa yang akan dilakukan Alvin walau sebenarnya Rili merasa enek mendengar panggilan sayang itu.


"Itu cuma akal-akalan lo!!" Zaki tak percaya begitu saja.


"Akal-akalan gue?!" Alvin tersenyum miring. "Lo tahu kan Rili gak mungkin mau disentuh sama sembarang cowok." Alvin kini mencium punggung tangan Rili dengan mesra yang membuat seisi kantin menjadi heboh. Bahkan hal itu hampir saja membuat Nana tersedak bakso.


Merasa kalah, Zaki membalikkan badannya. Dia tidak mau semakin dipermalukan oleh Alvin.


"Kalian beneran jadian?" tanya Adit yang tidak menyangka sahabatnya itu akhirnya jadian dengan Rili. "Udah lepas lajang aja."

__ADS_1


Berbagai komentar juga memenuhi kantin. "Berkurang sudah satu spesies jomblo yang langka."


"Hei, lo udah minta restu sama Rasya? Berani lo macarin adiknya."


Merasa diserbu berbagai komentar, Rili merasa tidak nyaman. Dia ingin melepas tangan Alvin tapi tangannya sangat erat tergenggam.


"Hmm, aduh gue jadi obat nyamuk. Gue ke kelas dulu ya." Setelah menghabiskan baksonya, Nana berdiri dan meninggalkan Rili bersama Alvin.


"Na.." Rili berusaha melepaskan tangan Alvin. "Vin, aku mau ke kelas."


"Tunggu dulu, kamu kenapa pucat? Kamu sakit?" Alvin menatap Rili dan bisa menangkap wajah pucat Rili dengan lingkar hitam di area matanya.


Rili menggelengkan kepalanya lalu dia kini menundukkan pandangannya. "Aku mimpi dikejar-kejar hantu itu terus."


Ada satu helaan napas dari Alvin. "Gak bisa kayak gini terus. Apa yang harus aku lakuin untuk bantu kamu?"


"Kalian pacaran?" Begitu cepat berita itu tersebar di grup kelas. Rasya kini duduk di hadapan mereka. Persis seorang Bapak yang memergoki anaknya sedang berpacaran.


"Kak Rasya."


"Jawab! Kalian pacaran?" pertanyaan Rasya tidak hanya didengar dua pasang remaja ini tapi juga beberapa teman yang ada di dekat mereka.


"Tuh kan pasti langsung di sidang sama Rasya." desas desus itu mulai bermunculan.


"Iya." jawab Alvin.


"Nggak." jawab Rili secara bersamaan.


"Yang benar??"


"Iya Kak." jawab Rili pada akhirnya.

__ADS_1


Rasya menghela napas kasar. Rasya kini menatap Rili yang masih saja menundukkan pandangannya. Dia takut Rasya marah.


"Alvin, jangan pernah sakiti Rili!!" Setelah itu Rasya berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Rili masih loading beberapa saat mendengar kalimat Rasya. "Vin, arti kalimat Kak Rasya itu apa? Dia marah sama kamu?"


Alvin menyunggingkan sebelah bibirnya lalu kembali menggenggam tangan Rili. "Itu artinya Kakak lo ngerestuin hubungan kita."


Rili masih tidak percaya. Benarkah seperti itu? Jangan sampai nanti di rumah Rili akan dimarahi oleh Rasya. "Yang benar?"


"Iya."


"Nanti kalau Kak Rasya marahi aku di rumah gimana?"


"Kamu bilang aku aja."


"Emang kamu mau ngapain?"


"Mau langsung lamar aja ke orang tua kamu." kata Alvin masih tetap dengan senyum menggodanya.


"Apaan sih? Itu masih lama. Masalah yang sekarang aja belum selesai udah mikirin soal lamar."


Alvin tersenyum sambil sedikit mencubit pipi Rili. "Gemes banget.."


Sedangkan di sisi lain ada sepasang mata yang menatapnya penuh luka. Walau dia sudah berusaha untuk merelakannya tapi rasanya masih sama sakitnya. Entah sampai kapan perasaan itu akan musnah. Apa sampai akhir hidupnya??


💞💞💞


.


Ada luka dibalik kebahagiaan mereka. 😔

__ADS_1


Tinggalkan jejaknya guys..


👣👣👣


__ADS_2