Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Jago Kan?


__ADS_3

Setelah keluar ruangan, pandangan Rizal tertuju pada anak gadisnya dan satu manusia yang ada di sampingnya. "Alvin, kamu ngapain?"


Suara Rizal membuat Alvin sangat terkejut. Seketika dia menjauhkan wajahnya dari Rili yang sebelumnya hanya berjarak sekitar 10 cm. "Eh, itu Pi. Maksud saya Om, tadi Rili kelilipan jadi saya bantu tiup." jawab Alvin bohong. Dia sedari tadi memang terus menggoda anak gadis Rizal di kursi tunggu.


Rili hanya membulatkan matanya pada Alvin tapi untung saja kini pandangannya teralih pada Sang Mami yang sudah tersenyum ceria dengan kedua mata tanpa perban.


"Mami..." Seketika Rili berdiri dan langsung memeluk Maminya. "Syukurlah Mami gak kenapa-napa."


"Iya sayang. Ini juga berkat do'a kamu." Mereka berdua berjalan berdampingan sambil mengobrol dengan tangan Rili yang melingkar di lengan Maminya.


Sedangkan Alvin kini berdiri dan berjalan kaku di sebelah Rizal. Dia cukup malu dengan perilakunya barusan. Meskipun calon mertuanya ini, maksudnya Papinya Rili ini suka bercanda dengan gayanya yang santai tapi jika marah apalagi sampai ketahuan menyentuh lebih putri kesayangannya itu, Alvin bisa kena hukuman gantung.


"Gimana luka Om?" tanya Alvin untuk memecah kecanggungan yang ada.


"Gak papa. Tapi masih belum bisa dibuat nyetir. Kamu aja ya yang nyetir."


"Iya Om, gak papa."


"Terima kasih ya kamu sudah banyak membantu Rili tapi saya tetap gak suka kalau kamu terlalu dekat dengan Rili seperti tadi. Jaga ya sikap kamu, apalagi di tempat umum.


"I-iya Om. Maaf." Alvin sedikit menggaruk kepalanya menetralkan rasa canggung yang ada. Lain kali, Alvin harus lebih hati-hati. Bisa-bisa dia langsung dicoret dari daftar calon mantu.


Setelah sampai di tempat parkir, mereka berempat segera masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil mereka melaju meninggalkan rumah sakit.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Rizal. Setelah mobil berhenti, mereka berempat keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Rupanya rumah telah rapi dibereskan oleh Rasya.


"Mami! Mami udah bisa lihat?" Rasya memeluk sesaat Maminya sambil tersenyum.


"Udah sayang. Dara udah pulang?"


Rasya melepas pelukannya. "Udah, tadi dijemput sama Om Dewa. Sekalian Om Dewa antar motor Papi. Om Dewa titip maaf buat Mami sama Papi."


Satu helaan panjang terdengar dari hidung Rizal, lalu dia kini duduk di sofa ruang tamu. "Dewa masih saja menghindari kita. Tadi setelah minjamin aku motor dia langsung pergi buat nambal motor aku."


"Pi, kapan-kapan kita ngobrol lagi sama Dewa." Lisa kini ikut duduk di sebelah suaminya.


Merasa sudah tidak bermanfaat lagi, Alvin undur diri dulu. "Kalau begitu saya pulang dulu ya, Om, Tante."


"Alvin, nanti dulu. Kita makan bareng dulu ya..." Sedetik kemudian Rizal baru ingat. "Aduh, lupa belum order makanan. Tadi pagi Papi cuma order dikit soalnya."


"Biar Mami aja yang buatin. Di kulkas kan ada bahan mentah."

__ADS_1


"Jangan! Pokoknya beberapa hari ini Mami gak boleh ngapa-ngapain dulu." Rizal meraih ponselnya dengan tangan kirinya. Ternyata tangan kanannya sakit juga jika digerakkan.


Ada satu ide cemerlang muncul di otak calon mantu ini, eh, Alvin maksudnya. Dia berniat mengambil hati orang tua Rili. "Hmm, saya bisa bantu masak. Saya masakin ya? Boleh?"


Keempat pasang mata ini menatap Alvin tidak percaya.


"Kamu bisa masak?" tanya Rizal sambil melihat gaya Alvin yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda seseorang yang bisa memasak.


"Iya. Kalau boleh."


"Bener bisa masak?" tanya Lisa lagi yang masih tidak percaya.


"Iya, tante. Sekarang om sama tante istirahat saja. Biar saya sama Rili yang masak."


"Eh, bilang aja mau berduaan. Lo itu modus aja. Lagian gue gak yakin masakan lo enak." sulut Rasya.


"Oke, kita buktiin aja. Lo bisa jadi jurinya. Rili antar aku ke dapur dan tunjukkan letak bahan beserta alat-alatnya."


Kedua orang tua Rili hanya tersenyum melihat ketiga remaja ini.


Alvin melihat bahan-bahan yang ada dalam kulkas. Ini aja? Dia memutar otak sebentar dan muncullah beberapa menu sederhana.


Sedangkan Rasya dan Rili duduk anteng di kursi.


"Kan lo yang mau masak." Rasya memang sengaja duduk di kursi dapur untuk mengawasi mereka berdua agar tidak berduaan yang mengakibatkan munculnya setan.


Rili tersenyum miring lalu dia berdiri dan berjalan ke samping Alvin. "Mau dibantu apa?"


Pertanyaan Rili membuat aktivitas tangan Alvin berhenti. Dia kini justru menatap netra Rili. Pikiran Alvin menjadi terbang ke beberapa tahun berikutnya. Seandainya saja gadis yang ada di sebelahnya ini menjadi istrinya. Pasti sangat menyenangkan.


"Ehem," satu deheman Rasya membuyarkan tatapan mereka.


"Kamu kupas ini ya." kata Alvin yang sebenarnya dalam hati Alvin sedang merutuki Rasya. Duh, Rasya kerjaannya gangguin aja. Meskipun demikian konsentrasi Alvin tidak terpecah. Dia kini mulai mengupas bawang merah bawang putih lalu mencincangnya dengan ketepatan dan kecepatan yang akurat ala-ala chef handal.


Rili masih saja melongo melihat Alvin. Dia kini merasa sangat insecure. Pasalnya Rili menggoreng telor saja masih sering gosong.


"Udah kah?" Rili yang sedari tadi hanya bengong menatap Alvin sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Why?"


"Kamu beneran seorang koki ya? Cepet banget main pisaunya."


Lagi, Alvin hanya tersenyum miring. Dia meraih wortel yang ada di tangan Rili yang belum selesai dia kupas. "Sekarang baru percaya kan kalau aku jago masak." Mereka saling tatap beberapa saat. Duh, rasanya bibir Alvin pengen hinggap saja di bibir Rili. "Kamu duduk aja deh biar gak ada sensasi di dada ini. Bawaannya jantung aku mau loncat aja."


Satu cubitan mendarat lagi di pinggang Alvin. "Apaan sih." Rili kini duduk di dekat Rasya. Ya, apa yang Alvin rasakan itu sama dengan apa yang dia rasakan.

__ADS_1


Benar-benar kecepatan Alvin memasak seperti seorang penjual nasi goreng di pinggir jalan, eh bukan lebih tepatnya seperti seorang peserta lomba master chef yang akan dinilai seorang juri.


Menghirup aroma masakannya saja membuat Rasya menjadi sangat lapar. "Masih lama gak?"


"Etdah, kalau mau cepat bantuin. Lo tuh jadi cowok juga harus bisa pekerjaan rumah kayak gini, bantu istri lo ntar."


"Eleh, tau apa lo soal gue. Kayak emak-emak aja lo kalau ngomong."


Alvin tak menanggapinya lagi. Dia kini fokus pada masakannya yang hampir selesai. "Bunda Rili, mana wadahnya? Nih, siapin di meja makan." Alvin menoleh Rili dan memberinya kode agar membalas ucapannya.


"Iya Ayah, sebentar ya Bunda ambilin."


"Ini kenapa jadi main Ayah Bunda-an sih!" Rasya yang mendengar hal itu menjadi enek sendiri. Ya, tentu saja mereka sengaja menggoda Rasya.


"Makanya cepat pacarin Daranya, biar gak jadi jones." kata Alvin sambil menata masakan yang telah jadi di atas meja makan yang dibantu oleh Rili.


"Gimana mau macarin, hatinya aja masih nyantol sama lo."


"Wow, pesona gue masih terpancar rupanya."


Satu tatapan tajam kini didapat Alvin dari Rili.


"Bunda gak usah marah, hati Ayah kan buat Bunda seorang."


"Heh!! Berhenti manggil Ayah Bunda. Duh, jijik banget gue!!"


Mendengar ocehan Rasya, sepasang remaja ini malah terkekeh.


"Rili panggil Mami sama Papi."


"Kak Rasya aja. Kak Rasya kan dari tadi gak ngapa-ngapain."


Alvin melirik Rili dengan penuh arti.


"Hah, iya. Iya. Awas kalian jangan dekat-dekat." Rasya berdiri lalu meninggalkan mereka berdua.


Alvin melihat sebentar langkah Rasya yang kian menjauh. "Gak deket-deket sih cuma nyerempet dikit." Dengan cepat Alvin mendaratkan ciumannya tepat di bibir Rili. Walau singkat tapi cukup dalam dan sangat mendebarkan.


"Alvin!!" Rili meraba bibirnya yang baru saja terkena sengatan Alvin.


"Cuma 3 detik." Alvin hanya tersenyum tanpa dosa.


💞💞💞

__ADS_1


Tersengat lebah.. 😆


__ADS_2