Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Bicara Bertiga


__ADS_3

Rili masuk ke dalam kelas lalu menaruh tasnya di atas meja. Dia kini duduk bersandar sambil menghela napas panjang. Lagi-lagi dia terbayang-bayang apa yang telah dilakukannya dengan Alvin barusan.


"Lo kok bisa dihukum sama Alvin sih?" Pertanyaan Nana membuyarkan lamunan Rili.


Rili kini menoleh Nana yang tengah duduk di sampingnya. "Kok lo tahu?"


"Ya, tadi Pak Soni yang bilang ke Bu Mega waktu ngajar jam pertama."


Rili mengernyitkan dahinya. Berita itu pasti akan cepat tersebar. Pantas saja Rasya langsung menyusulnya ke perpustakaan.


"Habis ngapain sama Alvin? Ciee, kayaknya wajah udah fresh aja." Nana menggoda Rili karena wajah Rili sangat terlihat sedang bahagia.


"Nggak ngapa-ngapain. Gue cuma terlambat aja kebetulan aja pas bareng dia." Alasan Rili.


"Hah, gak percaya gue. Tuh, si Dara sampai marah pas dengar lo di hukum sama Alvin. Dia izin ke toilet 10 menit sebelum istirahat pasti dia mau nyari lo sama Alvin."


Rili kini menegang. Jangan-jangan Dara sudah mendengar dan melihatnya bersama Alvin. Gawat!! "Dara sekarang dimana?"


"Ya, mana gue tahu."


Rili berdiri dan dengan langkah cepat keluar dari kelas untuk mencari keberadaan Dara. Tapi sebenarnya apa yang akan dia bicarakan pada Dara? Minta maaf kah?


...***...


"Dara..." panggil Rasya saat sudah berada di dekat Dara.


Dara menghapus sisa-sisa air matanya tanpa menoleh Rasya.


Tanpa permisi, Rasya kini duduk di sebelah Dara. "Maafin Rili." Sebenarnya perkataan Rasya itu salah. Tidak seharusnya dia meminta maaf atas perbuatan Rili yang akan semakin memperkeruh perasaan Dara.


Dara hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ra, kamu anaknya Om Dewa kan?"


Pertanyaan Rasya membuat Dara menolehnya. "Iya, kenapa?"


"Kamu lupa sama aku?"


Dara hanya terdiam.


"Kita pernah bertemu sebelumnya. Terakhir lima tahun yang lalu waktu aku ke Surabaya sama Papi."


Dara masih mengerutkan dahinya. Seolah dia sedang mengingat sesuatu.


"Aku anaknya Rizal, sahabat Papa kamu. Kamu ingat kan?"


"Om Rizal?" Dara mengalihkan pandangannya. Apa yang ada di hati dan pikiran Dara saat ini memang sebuah misteri.


"Ya, memang sudah lama juga kita gak bertemu. Mungkin kamu memang sudah lupa tapi yang jelas aku masih ingat semuanya."


Rili menutup mulutnya dengan mata yang membulat. Hantu itu terlihat semakin marah. Matanya merah menyala, dengan seringai yang semakin menakutkan. Hantu itu menatap Rili tajam, walau jauh tapi terasa menikam.


Langkah Rili terasa berat. Haruskah dia berlari mendekat dan mengajak Kakaknya pergi dari tempat itu.


Hantu itu melayang dan beralih di dekat Rasya. Kedua tangan dengan kuku-kuku tajam di jarinya itu mendekat ke leher Rasya.


"Jangan!!!" Rili berlari dan seketika menarik tangan Rasya. "Kak, ayo pergi dari sini."


"Rili kenapa?"


"Udah, ayo!!"


Rasya akhirnya berdiri.

__ADS_1


Tatapan tajam justru kini didapat Rili dari Dara. "Mau lo apa?"


"Ra, sebenarnya gue sama Alvin itu gak ada apa-apa." jelas Rili dengan suara yang bergetar. Tatapan Dara kini sangat menakutkan.


Rili melepaskan tangan Rasya lalu dia berjalan mundur beberapa langkah saat Dara berdiri dan berjalan mendekatinya.


"Apa lo pikir gue gak dengar dan lihat semuanya." Dara semakin mendekati Rili.


Rili hanya menggelengkan kepalanya dan semakin berjalan mundur. Dara semakin terlihat menakutkan. Tatapan tajam itu seolah ingin menikam Rili.


"Ra, udah Ra. Kita selesaikan masalah ini sama Alvin." Rasya menahan tangan Dara tapi dengan cukup tenaga Dara menepis tangan Rasya.


"Ra, gue minta maaf." Apa yang harus Rili lakukan? Lari, iya harusnya dia lari tapi langkahnya terasa sangat berat.


"Maaf?" Dengan cukup kuat Dara mendorong Rili sampai Rili jatuh ke rerumputan.


"Dara!!" Rasya menahan kedua pundak Dara saat Dara akan mendekati Rili lagi. "Sadar Ra. Jangan biarkan diri kamu dipengaruhi emosi!!"


Tangan Rasya yang cukup kuat menahan kedua pundak Dara, suara Rasya yang tegas dengan tatapan matanya yang dalam. Seketika Dara terasa melemah. Dia kini beralih menatap Rasya. "Kak Rasya..."


"Rili, lo kenapa?" Alvin berlari mendekat dan membantu Rili berdiri.


Rili membersihkan roknya dari debu lalu mengibaskan tangannya.


Rasya melepaskan tangannya dari pundak Dara. "Lo udah datang. Alvin lo selesaiin masalah lo. Gue gak mau Rili jadi korban."


Rasya berangsur pergi. Ini masalah mereka bertiga jadi biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan masalahnya....


💞💞💞


Yuk, yuk, kita adain konferensi meja bundar dulu...

__ADS_1


__ADS_2