
Gimana sayang? Udah gak sakit?
Tanya seseorang di seberang sana yang sudah mampu membuat pipi Rili yang sedang rebahan ini bersemu merah karena panggilan sayang itu.
"Bisa gak, jangan manggil sayang-sayang dulu. Geli dengarnya."
Terdengar Alvin justru tertawa cukup keras.
Emang kenapa sih? Gak papa kan?
"Ya gak papa sih, tapi terlalu dini aja buat manggil kayak gitu. Hmm, kamu dimana? Gak ke kantin?" tanya Rili yang memang saat itu adalah jam istirahat ketika dia sekolah. Hari ini dia memang tidak masuk sekolah agar lukanya segera sembuh. Rili dan Alvin hanya tersambung lewat panggilan suara di WhatsApp.
"Nggak. Lagi pengen ngobrol sama kamu. Sehari aja gak ketemu rasanya kangen. Gimana badan kamu, udah gak sakit kan?"
"Udah mendingan kok."
"Aku nanti ke rumah kamu ya."
"Mau ngapain?"
"Ya jenguk kamulah."
"Ya udah. Kalau jenguk itu jangan lupa bawa oleh-oleh."
"Emang mau apa? Udah aku bawain cinta yang penuh apa masih kurang?"
"Ih, Alvin..."
"Ya udah. Kamu istirahat ya. Semoga cepat sembuh.
"Iya." setelah itu Rili memutuskan panggilannya. Dia kini menaruh ponselnya di atas nakas lalu memeluk gulingnya dan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian Rili sudah terjaga.
Rili tertidur sampai siang hari. Tapi tiba-tiba dia kembali mengigau dan gelisah.
"Mami... Jangan.. Mami..." Beberapa kali Rili memanggil Maminya dengan napas yang sudah tidak teratur. Bahkan keringat dingin kini sudah mengalir di pelipisnya. "Mami..." Rili terbangun. Dia tarik napas panjang lalu duduk dan bersandar di headboard. "Semoga itu hanya mimpi saja."
Rili kini menoleh ke sisi kanannya sudah ada piring yang lengkap dengan nasi beserta lauknya dan segelas air putih yang berjajar dengan obatnya.
Rili tersenyum sambil mengambil piring itu. Masih hangat pasti Maminya baru saja meletakkannya. Rili langsung melahapnya sampai habis tak tersisa. Setelah itu dia meminum obatnya yang didorong dengan air putih.
Rili meraih ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Maminya.
Sayang, kalau udah bangun cepat makan ya lalu minum obat. Mami mau keluar sebentar. Kamu di rumah aja ya. Kalau ada perlu apa-apa langsung bilang saja ke Oma.
Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba menyelimuti perasaan Rili.
"Mami kemana?" tanya Rili. Tapi sampai beberapa detik masih saja centang dua abu.
Rili kini turun dari ranjang. Dia berjalan maju mundur takut sesuatu yang buruk terjadi pada Maminya. "Jangan-jangan Mami beneran ke..." Rili kini menghubungi Rasya. Ya, waktu itu memang sudah waktunya pulang sekolah. Hanya ada keterangan memanggil terus menerus tanpa berdering.
__ADS_1
"Nomor Kak Rasya kok gak aktif sih." Rili kini beralih menelepon Alvin. Beberapa saat kemudian Alvin mengangkat panggilannya.
"Iya sayang. Ada apa? Kangen ya?"
Rili tidak menanggapi obrolan romantis Alvin dia justru bertanya dengan gawat. "Vin, Kak Rasya dimana?"
"Rasya lagi rapat ketua OSIS. Kenapa? Kayak panik banget."
"Kamu bisa gak sekarang ke rumah. Anterin aku ke rumah Dara. Kayaknya Mami ke sana."
"Iya. Bisa."
"Cepat ya!!" Rili memutuskan panggilannya. Dia segera berganti baju dan bersiap. Semoga saja semua belum terlambat.
...***...
Lisa melangkahkan kakinya masuk ke teras rumah Dewa. Suasana masih tetap sama seperti dulu. Dia mengetuk pintu rumah yang tertutup itu. Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka.
"Lisa!" Karin sangat terkejut dengan kedatangan Lisa secara tiba-tiba.
"Karin, apa kabar?" Mereka saling berpelukan untuk melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Baik. Masuk dulu yuk."
Dua sahabat lama ini masuk ke dalam rumah Karin dan duduk berdampingan.
Lisa tersenyum mendengar pujian sahabatnya itu. "Sama, kamu juga tambah cantik. Dewa kerja?"
"Iya, Dewa masih kerja. Kamu sama siapa? Gak dianter Kak Rizal?"
"Kak Rizal masih ada perlu. Bentar lagi dia nyusul ke sini."
"Keliatannya makin mesra aja."
"Ya harus dong." Lisa menebar pandangannya. Melihat seluruh penjuru ruangan yang masih tertata sama seperti dulu. "Rin, kamu kenapa gak ngasih kabar aku kalau Bu Maya udah gak ada."
Ada satu helaan napas panjang yang terdengar. Semua itu begitu cepat berlalu. "Maaf Lis. Sebenarnya aku mau ngasih kabar kamu. Tapi kata Dewa gak usah."
"Kenapa? Terus kenapa selama 5 tahun ini kalian menghindar tiap kita hubungi. Apa kita punya salah sama kalian berdua?"
Karin menggeleng cepat. "Kita cuma gak mau, Kak Rizal terus bantu kita. Modal yang dulu aja belum kita kembaliin."
"Rin." Lisa meraih tangan Karin dan mengenggamnya. "Kita itu udah kayak saudara. Kak Rizal juga gak pernah merasa keberatan bantu kalian. Mulai sekarang kita jalin tali persaudaraan kita lagi ya. Maaf, selama kamu di Surabaya aku gak pernah ikut ke sana. Soalnya tiap kali ada rencana mau ke sana pasti Rili demam."
"Iya, gak papa." Karin tersenyum lalu kembali memeluk Lisa. "Lis, aku beneran kangen loh sama kamu."
"Iya, aku juga. Anak-anak kita ternyata satu sekolah ya."
Mendengar kata anak-anak, Karin melepaskan pelukannya. "Iya, Rili kemarin sempat ke sini."
__ADS_1
"Rin, sebenarnya..." belum sempat Lisa melanjutkan kalimatnya Dara pulang dan dia masuk ke dalam rumah.
"Dara, sudah pulang sayang. Sini..." panggil Karin.
Mulai dari pintu masuk, Dara terus menatap Lisa, begitu juga dengan Lisa. Bulu kuduk Lisa terasa berdiri. Entah, dia seperti merasa mendapat tatapan dari makhluk lain.
"Dara, ini tante Lisa. Mamanya Rili."
Dara hanya terdiam. Bahkan tatapannya seolah penuh dengan misteri. Walau kini tangannya bersalaman dengan Lisa.
"Cantik ya." Lisa berusaha tersenyum walau hatinya gamang. "Rili tadi gak masuk, soalnya dia lagi sakit. Kamu sekelas kan sama Rili?"
Dara tak langsung menjawab. Dia justru menatap kedua bola mata Lisa. "Iya. Permisi saya mau ke kamar."
Dara membalikkan badannya yang membuat kerutan di dahi Lisa tercetak. Ya, dia seperti mengenal tatapan misterius itu.
"Maaf ya. Dara memang sedikit introvert."
Lisa membuyarkan lamunannya saat mendengar perkataan Karin. "Iya, kalau anak aku Rasya yang agak introvert. Rili justru kebalikannya, dia lincah dan ekspresif banget."
"Oiya, aku buatin minuman dulu ya. Kamu masih lama kan? Nunggu Kak Rizal dulu?"
"Iya." Lisa tersenyum seiring kepergian Karin. Dia kembali lagi dengan pemikirannya. Dara? Sepertinya memang benar Dewi ada dalam diri Dara.
Tiba-tiba angin berhembus yang membuat bulu kuduk Lisa kembali merinding. Suara kerincingan lampu gantung yang ada di ruang tamu juga berbunyi seiring berhembusnya angin itu.
"Mami!!" Suara Rili terdengar seiring langkahnya yang masuk ke dalam rumah Dewa. "Mami ayo pulang!!" Rili masuk ke dalam rumah dan langsung menarik tangan Lisa.
"Loh, Rili kamu kok nyusulin Mami. Kamu sama siapa?" Lisa terkejut karena tiba-tiba saja Rili datang dan langsung mengajaknya pulang. Karena tarikan Rili akhirnya Lisa berdiri dan sedikit melangkah.
"Ayo, Mami pulang sekarang."
"Tunggu bentar ya. Papi bentar lagi nyusul ke sini."
Tiba-tiba suara lampu gantung yang terpasang di langit-langit itu semakin berbunyi keras.
"Rili awas!!!"
"Pyyaaarrr!!!"
💞💞💞
.
.
yah, sinetronnya bersambung dulu.. ðŸ¤
jangan lupa like dan komennya.. 😘
__ADS_1