
"Rili.." Rasya masuk ke dalam UKS. Dia kini melihat Rili dan hanya bersama Nana. "Alvin mana?"
"Katanya ke toilet. Gak tahu, dia gak balik-balik. Mungkin langsung ke kelas."
"Emang dia udah gak sakit?"
Nana tersenyum. "Udah nggak dong Kak. Kan udah..." Hampir saja Nana keceplosan kalau saja tidak disenggol Rili.
"Udah apa?" Rasya sedikit curiga. Sepertinya ada yang disembunyikan dari Rasya.
"Ya udah gak sakit. Hmmm, Kak aku ke kelas ya." Rili kini berdiri sambil menggandeng Nana.
"Luka kamu udah gak sakit kan?"
Rili menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, kamu ke kelas aja. Nana temani Rili ya."
"Siap Kak." Nana memberi Rasya senyum manis sebelum akhirnya dia mengikuti Rili keluar dari UKS.
Tangan Rasya kini beralih mengemasi peralatan P3K dan mengembalikannya pada tempatnya. Tak langsung keluar dari UKS. Dia kini duduk sambil memikirkan Dara.
Ra, misteri apa yang sebenarnya ada di diri kamu...
...***...
"Sayang, itu dahinya kenapa?" tanya Lisa saat melihat putrinya masuk ke dalam rumah sepulang sekolah dengan dahi yang masih terplester.
"Jatuh Mi, tadi waktu olahraga." Bohong Rili. Dia masih belum juga cerita pada Maminya yang sebenarnya.
"Gak parah kan?"
Rili menggelengkan kepalanya. "Rili ke kamar dulu ya Mi."
Lisa tersenyum sambil mengangguk. "Kalau lapar langsung makan ya.."
"Iya, Mi." Jawab Rili sambil berlalu.
Dia kini masuk ke dalam kamarnya. Menaruh tasnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh dirinya. Karena hari itu dia merasa sangat lelah. Ya, walaupun dia tidak mengikuti pelajaran olahraga tapi kejadian tadi pagi sudah cukup membuatnya shock.
Setelah berganti baju, dia merebahkan dirinya. Memejamkan matanya dan mulai tertidur.
Napas Rili masih teratur di 30 menit pertama. Setelah itu, napas Rili terdengar sangat berat.
"Tidak!!! Jangan!!!" Rili mengigau. Dia diteror lagi dalam mimpinya. "Tidakk!!" Rili terbangun dengan keringat membasahi pelipisnya. Dia mengatur napasnya berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Langit diluar sudah hampir menggelap. Rili berdiri dan berjalan ke balkon kamarnya. Dia melihat sudah ada mobil Papinya yang terparkir di bawah. "Papi udah pulang. Coba gue tanya sama Papi aja."
Rili bergegas keluar dari kamar lalu turun dari lantai dua. Dia melihat Papinya sedang menatap laptopnya di ruang tengah dengan tv yang menyala. Ya, ada Rasya yang sedang menontonnya.
Rili kini duduk di samping Papinya. "Pi," panggil Rili yang membuat Papi Rizal kini menolehnya.
"Ada apa Rili? Loh, ini dahi kamu kenapa?" tanya Rizal saat melihat luka terplester di dahi putrinya.
"Tadi jatuh waktu pelajaran olahraga."
"Udah gak sakit kan?" Rizal mengusap lembut dahi Rili di sekitar luka itu.
__ADS_1
Rili menggelengkan kepalanya. "Hmmm... Pi, Rili boleh tanya gak?"
"Tanya apa?"
"Hmm, Papi sebenarnya..." Belum selesai kalimat Rili, ponsel Rizal tiba-tiba berbunyi.
Rizal meraih ponselnya. "Bentar ya, sayang.." Rizal mengangkat panggilannya lalu berdiri dan berjalan sedikit menjauh agar tidak terdengar suara tv. "Iya Pak.... Iya, besok bisa langsung saja cek lokasinya...."
Rili menghela napas panjang. Mungkin ini belum waktunya dia bertanya.
"Rili, mau tanya soal itu?" tanya Rasya yang mengerti maksud dan tujuan Rili.
Rili hanya menganggukkan kepalanya.
"Kayaknya Papi lagi sibuk. Besok aja cari waktu luang Papi."
"Iya Kak."
Beberapa saat kemudian Rizal mematikan ponselnya dan kembali duduk di samping Rili. "Tadi mau tanya apa?"
"Hmm, Papi sibuk ya?"
"Iya, lumayan. Gak papa kalau kamu mau tanya, Papi jawab." Rizal kembali menatap layar laptopnya lagi sambil tangan kanannya mengarahkan mouse.
"Gak jadi Pi. Gak penting kok. Rili lihat tv saja sama Kak Rasya." Rili kini menatap tv yang menyala. Raganya ada di tempat itu tapi pikirannya menerawang jauh.
...***...
Malam itu, sambil bersandar di headboard Rili menatap ponselnya. Dia membuka aplikasi WhatsApp lalu menutupnya lagi, berharap ada seseorang yang mengirim pesan untuknya. Alvin, misalnya.
Ting.. tung..
Cantik, udah tidur belum?
Rili membuka pesan dari Alvin. Hanya menatapnya tanpa membalas. Beberapa saat kemudian video call masuk dari Alvin. Rili hanya menatapnya saja, tanpa menerimanya. Sampai panggilan kedua, panggilan ketiga akhirnya Rili menerima video call dari Alvin.
Terlihat Alvin sedang tersenyum menatap wajah Rili di layar ponselnya.
Akhirnya diangkat juga.
"Ada apa?"
Ya pengen ngobrol sama kamu.
Rili menautkan alisnya mendengar kata kamu dari Alvin. "Sejak kapan jadi kamu kamu gini."
Sejak hari ini. Sejak kamu jadi pacar aku.
Rili melebarkan matanya. "Pacar? Kapan lo nembak gue?"
Tadi kan aku udah bilang cinta sama kamu. Masak zaman sekarang harus banget tanya, Rili maukah kamu jadi pacar aku? Itu zaman kapan? Sekarang asal ada cinta pasti juga udah jadi kekasih hati.
"Iya kalau gue mau jadi pacar lo, kalau gak!"
Terserah kamu lah kalau masih gengsi aja. Bilang cinta aja gengsi. Untung aku ini peka. Bisa baca hati dan pikiran kamu.
Rili terdiam. Iya, dia sadar memang dia terlalu menjaga image nya.
__ADS_1
Tapi aku sih udah yakin sama perasaan kamu. Saat bibir bertemu bibir dan menyatu dengan indah, perasaan itu tidak akan tertutupi.
Seketika Rili menutup bibirnya dengan selimut. Kalau mengingat ciumannya tadi, rasanya dia malu. Bibir itu seolah tergerak otomatis saja untuk menikmatinya.
Kenapa malu? Alvin masih saja menggoda Rili.
"Alvin!! Udah ah, jangan bahas itu."
Iya deh, gak usah bahas itu nanti jadi pengen lagi kan.
"Iya. Eh, nggak-nggak. Duh."
Alvin semakin tertawa. Rasanya semakin gemas saja dengan Rili.
Mereka terdiam beberapa saat. Rili kini beringsut dan merebahkan dirinya miring ke kiri. "Hmmm, punggung kamu udah gak sakit?"
Yes, aku kamu berarti udah sah jadi suami istri, eh, pacar maksudnya.
Rili hanya tersenyum kecil. Iya, memang inilah sebenarnya harapan Rili. "Iya, iya. Gimana? Udah gak sakit?"
Udah gak. Tadi aku juga udah periksa ke klinik sekalian meriksain jantung aku.
"Kenapa?"
Soalnya tiap dekat sama kamu tuh detaknya kencang banget. Takut kan kalau ada kelainan.
Rili hanya memutar bola matanya. "Heuh, gombal banget."
Alvin masih terkekeh.
"Kamu tadi dari toilet langsung ke kelas? Dicariin Kak Rasya."
Iya tadi aku sekalian ganti seragam lalu ke kelas.
"Kata Nana, kamu mau solo karir di toilet. Memangnya solo karir itu apaan?" Rili beneran bertanya loh sama Alvin. 😅
Nampak Alvin menelan ludahnya sendiri. Sepolos itukah Rili, atau hanya pura-pura. Detik berikutnya Alvin tertawa cukup keras.
Itu maksudnya nyanyi sendiri dalam toilet. Kamu itu masih kecil, masih polos. Udah jangan tanya aneh-aneh.
"Iya kah?" Rili masih saja tak percaya dengan kata ambigu itu.
Iya. Udah jangan mikirin itu.
Alvin mengalihkan pembicaraan.
Gimana? Udah tanya sama Papi kamu.
Rili menggelengkan kepalanya. "Tadi aku mau tanya tapi Papi lagi sibuk." Rili menguap panjang di akhir kalimatnya lalu meletakkan ponselnya di samping dengan arah kamera ke langit-langit.
Kok dihadapin atas?
"Aku ngantuk."
Ya udah kamu tidur aja. Have a nice dream. Jangan mimpi buruk lagi.
Tidak ada sahutan lagi dari Rili. Hanya napasnya yang sudah teratur yang terdengar.
__ADS_1
Aku sayang kamu.....