
Pagi itu, saat Rasya menghentikan motornya di parkir sekolah Rili hanya menatap motor Alvin yang telah terparkir. Biasanya Alvin menunggunya tapi dia sekarang seolah menghindarinya.
Alvin, dari kemarin gak chat aku. Sengaja banget menghindar gini.
Rili berjalan pelan menuju kelasnya. Rasanya tidak ada semangat sebelum mendengar suara Alvin di pagi hari. Suara Alvin itu sudah seperti multivitamin pendongkrak semangat. Begitulah, memang terlalu berlebihan padahal sebelum kenal dengan Alvin dia juga biasa saja.
Detik demi detik berlalu. Bel istirahat berbunyi membuat seseorang yang resah dan gelisah ini menjadi sedikit bertenaga untuk mencari sang pujaan hati ke kantin.
"Rili, duh tungguin gue. Lo kebelet banget pengen ketemu Alvin." Nana berjalan cepat mengikuti Rili di belakangnya.
"Habisnya dari kemarin dia menghindar terus, Na. Kayak ada satu masalah di sembunyiin."
Sampai di kantin, Rili tak melihat batang hidung Alvin. Dia hanya melihat Adit yang sedang memesan bakso, sendiri.
"Kak Adit, Alvin dimana?" tanya Rili. Tak usah gengsi lagi untuk mencari Alvin.
"Tadi katanya dia mau ke perpustakaan. Gak taulah tumben banget biasanya juga dia jarang banget baca buku."
"Oke, makasih." Rili segera bergegas menuju perpustakaan.
"Rili.. Yah, gue ditinggal." Nana tak menyusul Rili karena dia merasa sangat lapar dan tentunya dia tidak mau menjadi obat nyamuk.
"Sama gue aja yuk."
Nana hanya melirik Adit.
"Gue traktir deh makan bakso."
"Hah? Serius? Makasih." Nana sangat senang mendapat gratisan. Dia langsung memesan bakso dan duduk dengan Adit. Ya, dia memang sang pemburu gratisan.
...***...
Di perpustakaan Alvin membuka buku yang sudah dia ambil dari rak. Sebenarnya dia memang tidak berniat membaca. Hal itu hanya kamuflase untuk menghindari Rili.
Masa' iya aku harus putusin Rili?
Alvin memejamkan matanya sesaat sambil memijit pelipisnya. Rasa bersalah masih saja terus menyelimutinya.
"Alvin!!" Satu panggilan yang sangat dia kenal berhasil membuatnya terkejut. Rili kini sudah duduk di samping Alvin dengan tatapan curiga.
"Apa? Aku lagi belajar." kata Alvin sambil berpura-pura membaca buku yang ada di depannya.
"Gak usah pura-pura deh." Rili mengambil alih buku itu dan menutupnya. "Sejak kapan kamu suka belajar. Bukankah kamu udah pinter dari sananya."
Alvin hanya terdiam. Dia kini tidak berani menatap gadis yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa terus menghindar? Kak Rasya marah sama kamu? Atau Papi ancam kamu biar gak dekat sama aku?"
Alvin tak membalas. Dia hanya menundukkan pandangannya.
"Alvin?"
"Bukankah memang lebih baik kayak gini. Kita gak usah dekat-dekat lagi." kata Alvin. Meski ini bukan maunya. Dia terpaksa melakukannya.
"Mana Alvin yang dulu? Bukankah kamu gak ada rasa takutnya waktu pertama kali deketin aku."
Perkataan Rili berhasil membuat pikiran Alvin semakin tidak karuan. "Tapi masalahnya ini beda..."
"Apa?"
Alvin hanya terdiam. Alvin tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Rili. "Kali ini aku yang salah. Aku gak mau kamu semakin dapat masalah karena aku. Udah ya. Aku mau fokus sama belajar dulu." Alvin kembali meraih bukunya dan hanya sebagai kedok pengalihan perhatian.
Rili hanya mampu menatap Alvin dari samping. "Ya udahlah. Met belajar." kemudian Rili beranjak pergi dengan rasa kecewanya. Dia juga tidak bisa memaksa Alvin. Mungkin saja Alvin memang butuh waktu untuk sendiri, sementara tentunya.
Rili berjalan cepat keluar dari perpustakaan.
"Rili..."
Sapaan itu semakin membuat Rili merasa jengah. Walau senyum Zaki sangat manis tapi Rili merasa seolah itu senyuman smirk. Rili tak menggubrisnya, dia melangkahkan kakinya jenjang segera menuju kelas. Tanpa lagi ke kantin karena nafsu makannya berhenti seketika.
Zaki masih saja tersenyum miring, dia kini menghampiri Alvin yang menopang kepalanya dengan sebelah tangan.
Setelah Zaki berlalu, Alvin menenggelamkan dirinya di atas buku. Dia tidak tahu, apa yang harus dia lakukan. Dia benar-benar tidak rela jika harus kehilangan Rili.
"Katanya belajar, malah tidur." Adit datang dan langsung mengagetkan Alvin.
Alvin hanya menoleh Adit. Dia lagi malas berdebat dengan Adit.
"Sampai perut gue kenyang lo masih aja di sini. Pacar mana? Kayaknya dia nyusulin lo ke sini."
"Udah balik." jawab Alvin tanpa mengangkat kepalanya.
"Lo berantem sama Rili? Kusut banget muka lo."
"Gue salah. Gue udah buat kesalahan besar."
Perkataan Alvin membuat mata Adit membulat dia memukul lengan Alvin cukup keras. "Lo udah apain Rili? Lo udah kebablasan? Terus sekarang Rili hamil anak lo!!"
Seketika Alvin menegakkan dirinya dan membungkam mulut Adit. "Heh, lo kalau ngomong yang bener. Jangan nyebar gosip lo!"
"Habis lo bilang kayak gitu kan gue mikirnya jadi ke arah sana."
__ADS_1
"Sumpah! Otak gue itu lagi buntu sekarang! Jangan nambahin masalah gue." Alvin menutup buku yang ada di depannya lalu menumpuknya dengan kedua buku yang lain.
"Butuh bantuan gue?" tawar Adit. Walau sebenarnya dia tidak tahu apa permasalahan Alvin.
Alvin mengusap wajahnya. Lalu menghela napas panjang. "Hubungan gue sama Rili di ujung tanduk, karena kesalahan gue, Dit."
"Masih soal tangkapan cctv yang ngerekam lo beradegan sama Rili?"
Beradegan? Memang Adit suka berlebihan kalau bicara.
"Masalah itu udah clear dari Pak Soni. Tapi ini soal kelanjutan adegan itu."
"Wih, jadi ada kelanjutan videonya. Gue lihat dong."
Satu jitakan berhasil mendarat di kepala Adit. "Ini tuh gue lagi mikirin gimana caranya hapus video itu dari hp Zaki."
Walau IQ Adit dibawah Alvin tapi dia kini cukup mengerti pokok persoalannya.
"Ooo, gue paham. Gue paham. Zaki itu kan mantan Rili, jadi dia ngerekam adegan lo pas anu-anu sama Rili."
Alvin menatap tajam Adit, karena bahasa Adit yang sangat ambigu.
"Terus dia ngancam lo?"
Alvin mengangguk pelan. "Iya. Dia ancam gue buat viralin video itu kalau gue gak putusin Rili."
"Lagian lo kok bisa gak ngerasa diikuti Zaki sih?"
"Gue juga gak tahu."
"Wah, sangking menikmatinya lo pasti."
"Hmm, iya." Memang kenikmatan itu tidak bisa dipungkiri oleh Alvin.
"Salah ini. Salah kaprah. Gimana caranya lo ambil hp Zaki. Ya, sulitlah." Adit menepuk pundak sahabatnya ini yang sedang carut marut. "Ya, mungkin lebih baik untuk sementara lo jauhi Rili. Ini tuh teguran buat lo karena lo udah buat banyak dosa."
Alvin semakin mengacak rambutnya. Dia memang sadar sudah berbuat dosa. Tidak seharusnya dia menyentuh lebih sebelum ada ikatan halal. Tapi Alvin selalu saja tidak bisa menahan dirinya setiap dekat dengan Rili. Apalagi setiap melihat bibir Rili yang sangat menggoda untuk disinggahi.
"Tapi gue gak mau mutusin Rili. Gue gak mau kehilangan dia. Gue takut setelah gue putusin Rili justru Zaki akan ancam Rili dengan video itu untuk jadian sama Rili."
"Berat..." Adit menepuk pundak Alvin berusaha memberinya kesabaran. "Sabar brother. Kalau memang Rili itu jodoh lo pasti ada jalan keluar."
"Jadi ceritanya ini gue harus pasrah."
"Berdo'a."
__ADS_1
Ya tentu, berdo'a saja semoga video itu tiba-tiba hilang dari ponsel Zaki sekalian saja ponselnya lenyap dari muka bumi ini.