Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Kenapa Gak di Bibir?


__ADS_3

Raut sedih itu masih terpampang nyata di wajah Rili. Dia tatap langit yang membiru, hanya sendiri di bangku taman belakang sekolah. Menenggelami segala rasa menyesal, saat dirinya merasa gagal melindungi orang yang dia sayang. Sebulir air mata menetes lagi di pipinya. Semoga Mami gak kenapa-napa.


"Udah jangan nangis." Sebuah jari menghapus air mata Rili dengan lembut. Dia kini duduk di sebelah Rili. "Masih banyak yang bisa kamu lakuin."


"Apa? Aku gak bisa ngelakuin apa-apa. Aku cuma bisa ketakutan saat mimpi itu datang tanpa bisa berbuat apa-apa saat terjadi di dunia nyata."


Alvin meraih pundak Rili lalu mengusapnya. Berusaha menenangkan hatinya. "Iya, aku ngerti apa yang kamu rasain. Karena aku juga cuma bisa melihat mereka tanpa bisa mengusirnya." Ada satu helaan napas di ujung kalimat Alvin. "Tapi, kita harus bisa melawan rasa takut itu. Kalau bukan kita yang memberi semangat pada diri sendiri siapa lagi." Alvin semakin menghapus jarak di antara mereka.


"Alvin, jangan nyari kesempatan. Jangan buat masalah aku bertambah kalau sampai dilihat guru."


Alvin hanya menyunggingkan senyumnya lalu melepas tangannya dari pundak Rili. "Yah, tahu aja kalau aku lagi cari kesempatan."


"Kan, kamu emang tukang modus."


"Hah? Apa yang aku bilang itu nyata dan apa adanya." Satu jari kini terulur lagi mengusap sisa-sisa air mata di kelopak mata Rili. "Udah ya, jangan nangis lagi. Mami kamu pasti lagi butuh spirit dari kamu."


Rili tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Mami kamu udah pulang dari rumah sakit?"


"Udah hari ini, tapi masih nunggu hasilnya nanti. Semoga semua baik-baik saja."


"Iya, semoga ya. Aku akan cepat cari cara buat bantu kamu."


Rili menganggukan kepalanya.


"Oiya, kamu gak bawa bekal kan? Makan sama aku yuk?" Alvin menunjukkan sekotak nasi bekal yang dia bawa sedari tadi.

__ADS_1


"Kamu kok tahu kalau aku gak bawa bekal?"


Alvin hanya tersenyum. Sebenarnya sih, dia hanya menebak saja. Dia memang sengaja ingin makan bersama Rili. Satu kotak bekal buat berdua, ya syukur-syukur bisa saling suap.


Alvin tak menjawab, dia membuka kotak bekalnya yang berisi nasi goreng spesial lengkap dengan telor di atasnya.


Baru saja membuka tutupnya, aroma lezat dari nasi goreng itu sudah tercium yang menggugah nafsu makan Rili.


Alvin mengambil sendok yang sudah terisi nasi lalu mengulurkannya ke depan mulut Rili.


Rili tak juga membuka mulutnya. Dia hanya menatap sendok yang sudah penuh dengan nasi itu.


"Ayo makan." Alvin mengangkat alisnya sambil menatap Rili.


Akhirnya Rili membuka mulutnya dan menerima suapan dari Alvin. Dia kunyah dan rasakan nasi goreng yang sangat lezat itu, ya mirip dengan menu nasi goreng yang ada di restoran mahal.


Setelah menyuapi, kini Alvin sendiri yang memasukkan sendok berisi nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Alvin, itu kan bekas aku. Selalu deh."


Alvin hanya tersenyum lalu segera menelan makanannya. "Emang kenapa? Bibir kamu aja udah aku rasain kan."


Seketika Rili menutup bibirnya ketika Alvin mengungkit ciuman itu lagi. Rasa malu masih saja tersisa.


Alvin semakin terkekeh lalu dia menjawab pertanyaan yang belum sempat dia jawab. "Nasi goreng ini aku yang buat."


"Ah, masa' sih?? Gak percaya."

__ADS_1


"Itulah, kamu masih belum tahu banyak soal aku. Aku dari kecil udah suka masak. Ya, mungkin niru Papa. Soalnya Papa punya restoran, jadi calon pemilik restoran ini juga harus pintar masak dong."


Rili menatap Alvin menyelidik. Benarkah Alvin bisa memasak? Cowok sekeren Alvin bisa masak bahkan Rili saja kalah dengannya. Tolong beri satu lelaki yang seperti ini.


"Masih gak percaya? Kalau ada waktu biar aku masak di rumah kamu."


"Oke deh. Percaya."


Alvin mengerlingkan matanya pada Rili dan tersenyum menggoda Rili. "Gimana? Masih ragu buat jalani masa depan sama aku?"


Rili hanya menyunggingkan sebelah bibirnya lalu tangannya mengambil alih kotak bekal yang ada di tangan Alvin. Segera mengambil sendok lalu memakannya dengan lahap.


Alvin hanya melongo. Awalnya malu-malu ternyata Rili tidak tahu malu. Bahkan Rili melahap nasi goreng itu sampai habis.


"Dihabisin? Aku cuma makan satu sendok loh. Kirain mau nyuapin aku."


Rili mengembalikan kotak bekal yang telah kosong pada pemiliknya sambil tersenyum.


"Ya udah, besok-besok aku bawain sendiri ya. Kirain sekotak berdua terus suap-suapan romantis gitu. Yah, malah dihabisin sendiri."


"Habis enak sih." Rili mengacak rambut Alvin lalu mencium singkat pipi Alvin. "Makasih ya, sayang." bisik Rili di telinga Alvin lalu dia berdiri meninggalkan Alvin dengan segala debarannya.


"Ck, kenapa di pipi? Kenapa gak di bibir aja?" gumam Alvin sambil meraba pipi bekas ciuman Rili.


💞💞💞


Duh, maunya tuh di bibir thor...

__ADS_1


__ADS_2